Berita  

Darurat Ikan Invasif! Jakarta Tancap Gas Tangkap dan Kubur Puluhan Ribu Ikan Sapu-sapu

JAKARTA, Exposenews.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru saja menggelar aksi serentak membersihkan sungai dan saluran air di lima wilayah kota administrasi pada Jumat (17/4/2026). Bukan sekadar kegiatan bersih-bersih biasa, lho. Mereka sengaja memfokuskan operasi ini untuk menangkap ikan sapu-sapu yang populasinya sudah benar-benar di luar kendali di perairan ibu kota.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dengan tegas menyatakan bahwa upaya ini dilakukan serempak sebagai langkah konkret menangani masalah lingkungan yang semakin parah di sungai-sungai Jakarta. Oleh karena itu, mereka menyasar berbagai titik krusial, mulai dari Jakarta Barat, Utara, Selatan, Pusat, hingga Timur. Petugas lapangan dari berbagai unsur pun dikerahkan untuk memastikan operasi ini berjalan maksimal.

Wow! Puluhan Ribu Ikan Sapu-sapu Berhasil Diangkat

Operasi besar-besaran ini membuahkan hasil yang mencengangkan! Bayangkan, dalam sekali kegiatan, petugas berhasil mengangkat puluhan ribu ekor ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta. Secara total, tangkapan mereka mencapai sekitar 6,98 ton atau puluhan ribu ekor!

Jakarta Selatan menjadi penyumbang terbanyak dengan angka fantastis, yakni 5,3 ton. Mereka memusatkan penangkapan di saluran penghubung (PHB) Setu Babakan, Jagakarsa. Sementara itu, petugas di Jakarta Pusat berhasil menangkap 576 ekor dari delapan kecamatan. Jakarta Utara juga tak mau ketinggalan dengan membawa pulang lebih dari 200 kilogram. Jakarta Timur menyumbang 763 kilogram, dan Jakarta Barat mendapatkan 71 ekor dengan berat 17 kilogram.

Semua hasil tangkapan ini langsung dimusnahkan. Petugas mematikannya terlebih dahulu, lalu menguburnya di dalam tanah. Namun, pemerintah juga sedang mempertimbangkan untuk memanfaatkannya sebagai bahan pupuk organik di masa mendatang.

Ancaman Serius bagi Ekosistem Sungai Jakarta

Mengapa pemerintah tega memusnahkan ikan-ikan ini? Pramono Anung dengan gamblang menjelaskan alasannya. Ikan sapu-sapu dinilai sebagai spesies invasif yang merusak keseimbangan ekosistem sungai. Bukan tanpa alasan, hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan berbahaya pada ikan ini.

“Kenapa ikan ini harus dibersihkan? Karena memang sudah merusak,” ujar Pramono. “Dari hasil lab, hampir semua ikan yang dites memiliki kadar melebihi batas aman, yaitu 0,3 miligram. Jadi, sangat berbahaya kalau dikonsumsi masyarakat. “

Selain membahayakan kesehatan, ikan ini juga mengancam kelangsungan ikan lokal. Ikan sapu-sapu dengan rakus memakan telur-telur ikan lain, sehingga mempercepat penurunan populasi spesies asli yang seharusnya dilindungi. Perilakunya yang suka membuat lubang di tepian sungai juga berdampak buruk karena merusak tanggul atau turap. “Kalau dikonsumsi tentu berbahaya. Selain itu, ikan ini juga merusak lingkungan karena membuat sarang dengan cara menggerogoti dinding sungai,” tegas Pramono.

Sulit Dikendalikan! Ikan Sapu-sapu Kebal Terhadap Kondisi Ekstrem

Apa yang membuat ikan ini begitu sulit diberantas? Ternyata, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan bertahan hidup di berbagai kondisi ekstrem, termasuk di perairan yang tercemar sekalipun. Populasinya pun cepat berkembang dan menjadi sulit dikendalikan.

Perlu diketahui, ikan ini bukanlah spesies asli Indonesia. Mereka berasal dari Amerika Selatan dan bahkan di negara asalnya pun telah menjadi masalah lingkungan yang serius. “Memang ikan ini bisa hidup dalam segala cuaca, termasuk dalam kondisi air yang sangat-sangat tidak sehat,” ungkap Pramono. Kemampuan adaptasi yang tinggi inilah yang membuat ikan sapu-sapu mendominasi perairan dan dengan perlahan menggeser spesies lokal.

Langkah Baru: Akan Ada Petugas Khusus Penangkap Ikan Sapu-sapu

Pemerintah provinsi tidak tinggal diam! Pramono mengumumkan rencana untuk menugaskan petugas khusus yang akan menangani persoalan ikan sapu-sapu secara berkelanjutan. “Kami akan konsentrasi dan untuk itu nanti akan ada penugasan secara khusus PJLP yang menangani ikan sapu-sapu ini,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan berkelanjutan sangat diperlukan karena populasi ikan ini sudah terlalu masif. Kegiatan penangkapan juga akan dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan perairan Jakarta. Langkah ini diharapkan mampu menekan populasi ikan sapu-sapu sekaligus memulihkan keseimbangan ekosistem sungai di Jakarta.

Kenapa Ikan Ini Harus Dikubur, Bukan Dibakar?

Pertanyaan menarik pun muncul. Mengapa ikan-ikan ini tidak dibakar saja? Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP), Ridho Sosro, memberikan penjelasannya. Sebenarnya, terdapat opsi untuk memusnahkan ikan sapu-sapu dengan cara dibakar menggunakan insinerator.

Namun, metode tersebut tidak dipilih karena berpotensi menimbulkan polusi udara. “Pemusnahannya hanya kami matiin terus kami kubur. Sebenarnya bisa sih dibakar dengan insinerator, cuma kan itu untuk saat ini insinerator ada polusi asap dan sebagainya, itu malah nanti mengganggu lingkungan, ” kata Ridho saat ditemui di Setu Babakan.

Para petugas sempat mengalami kendala lucu, lho. Lubang awal yang mereka siapkan ternyata tidak cukup besar untuk menampung seluruh ikan. Sebagai solusi, mereka langsung membuat lubang tambahan di sekitar tempat tersebut untuk menguburkan total 5,3 ton ikan sapu-sapu hasil tangkapan. “Untuk tempat penguburan memang lubang awal tidak cukup, namun langsung dibuatkan lubang tambahan di sekitar tempat tersebut,” jelas Ridho.

Heboh! Ternyata Ikan Sapu-sapu Bisa Jadi Bahan Siomay dan Pakan Bebek

Fakta mengejutkan lainnya terungkap! Selama ini, ikan sapu-sapu yang ditangkap di aliran Kali Ciliwung, Kramat Jati, Jakarta Timur, kerap dimanfaatkan oleh warga untuk dijual dan diolah menjadi bahan makanan.

Salah satunya adalah Tedy, warga Jakarta Timur yang sudah 15 tahun menjadi penangkap ikan sapu-sapu. Dia dengan jujur mengungkapkan praktik ini. “Kalau kita jual ke pengepul, dijualnya sudah berupa daging. Nanti sama dia (pengepul) dijual ke pasar, diolah buat bahan makanan, campuran, bisa siomay, otak-otak,” kata Tedy di Kramat Jati.

Setiap hari, Tedy bisa menangkap hingga 100 kilogram ikan! Ia biasanya menjual daging ikan sapu-sapu seharga Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. “Kalau kita jual mentah per ekor enggak ada yang mau. Harus sudah dalam bentuk daging baru bisa dijual,” jelas Tedy.

Tak hanya untuk konsumsi manusia, ikan sapu-sapu juga dimanfaatkan untuk pakan hewan. “Ada juga kita menjual daging sapu-sapu untuk pakan bebek, umpan lele,” pungkas Tedy. Wah, ironis sekali, ya? Di satu sisi pemerintah gencar memusnahkan, tapi di sisi lain ikan ini justru punya nilai ekonomi bagi warga. Tetapi ingat, kandungan berbahaya di dalamnya tetap tidak bisa disepelekan!

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com