Berita  

Solar Vietnam Tembus Rp 25.400 per Liter, Truk Berhenti Jalan, Warga Mulai Gowes Sepeda

HANOI, Exposenews.id – Coba bayangkan, dalam sekejap, biaya operasional usaha Anda melonjak lebih dari dua kali lipat. Inilah yang kini terjadi di Vietnam. Sejak konflik memanas di Timur Tengah, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar benar-benar tak terkendali. Akibatnya, kekhawatiran akan krisis energi pun mulai membayangi seluruh negeri.

Dari Rp 12.300 Jadi Rp 25.400 per Liter, Siapa Takut? Semua Takut!

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kementerian Perdagangan Vietnam pada Rabu (25/3/2026), lonjakan harga ini menjadi pukulan telak bagi perekonomian rakyat. Pemerintah setempat pun terpaksa memutar otak untuk mencari jalan keluar. Jika kita lihat datanya, sungguh fantastis. Harga solar tercatat meroket hingga sekitar 105 persen jika dibandingkan dengan kondisi pada 26 Februari lalu. Perlu diingat, tanggal tersebut hanya dua hari sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang menjadi pemicu utama gejolak global.

Pemerintah Vietnam secara resmi menaikkan harga solar menjadi 39.660 dong per liter, atau setara dengan sekitar Rp 25.400. Angka ini melonjak drastis karena bulan lalu, masyarakat masih bisa membelinya dengan harga 19.270 dong (sekitar Rp 12.300). Kenaikan ini jelas membuat para pelaku usaha dan pengendara merasakan langsung tekanan yang begitu berat.

Namun, bukan hanya solar yang ikut ambrol. Dilansir dari AFP, kenaikan signifikan juga melanda bensin oktan 95. Dalam periode yang sama, harga bensin jenis ini melompat hampir 68 persen. Sebelumnya, masyarakat membayar sekitar 20.150 dong (Rp 13.000), tetapi sekarang angkanya melambung menjadi 33.840 dong (Rp 21.600) per liter. Lonjakan ini terjadi secara beriringan, menciptakan badai sempurna yang langsung berdampak pada biaya logistik dan transportasi.

Minyak Dunia Naik, Vietnam Panik: Dari Qatar hingga Rusia Dimintai Bantuan

Memang, sejak awal konflik, harga minyak dunia bergerak liar. Kondisi ini menyebabkan biaya bahan bakar di berbagai negara lepas kendali. Lebih jauh lagi, ketakutan akan kelangkaan pasokan pun ikut menyebar ke tingkat global, termasuk yang kini sangat dirasakan oleh Vietnam.

Menghadapi situasi genting ini, Pemerintah Vietnam tidak tinggal diam. Mereka bergerak cepat. Langkah pertama yang diambil adalah meminta bantuan pasokan bahan bakar dari sejumlah negara sahabat seperti Qatar, Kuwait, Aljazair, hingga Jepang. Kemudian, pada Senin (23/3/2026), mereka juga menandatangani kesepakatan strategis dengan Rusia. Kesepakatan ini mencakup kerja sama produksi minyak dan gas di kedua negara, sebuah langkah untuk mengamankan cadangan energi jangka panjang.

Tak hanya mengamankan pasokan dari luar, pemerintah juga melakukan intervensi di dalam negeri. Pada Selasa (24/3/2026), Kementerian Keuangan Vietnam mengusulkan pemangkasan pajak perlindungan lingkungan hingga 50 persen untuk bensin dan solar. Kebijakan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban harga di pasar domestik.

Bukan Demo, Taksi Truk Malah ‘Pensiun Dini’: Warga Kembali ke Jaman Sepeda

Kini, mari kita dengarkan jeritan warga. Kenaikan harga yang mencekik ini mulai memukul keras kehidupan sehari-hari. Salah satunya dialami oleh Nguyen Van Chi (54), seorang pengusaha di Hanoi. Pria ini sudah dua minggu tidak mengoperasikan truk miliknya. Ia memilih untuk bersepeda saja.

“Kalau harga solar sudah tidak masuk akal begini, saya bahkan tidak bisa menjual truk saya. Pasti tidak akan ada orang yang mau memakainya,” ujar Chi dengan nada frustrasi kepada AFP. Baginya, menjalankan operasional bisnis saat ini terasa sangat tidak masuk akal secara ekonomi.

Sementara itu, pemerintah setempat terus memantau perkembangan pasar global. Mereka tetap berupaya keras mengupayakan stabilitas pasokan energi dalam negeri di tengah ketidakpastian situasi yang masih membayangi dari Timur Tengah. Semua pihak kini berharap agar kondisi ini segera membaik.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com