Berita  

Wow! Bulog Pasang Target Gila di Blora: 22.200 Ton Gabah Harus Ludes Terserap Tahun Ini

BLORA, Exposenews.id – Perekonomian di Kabupaten Blora sepertinya bakal berputar kencang pada 2026. Pasalnya, Perum Bulog Kantor Cabang Pati memasang target raksasa: menyerap 22.200 ton gabah hasil panen petani setempat. Angka fantastis ini, jika dikonversi, setara dengan 17.900 ton beras siap distribusi. Sebuah misi besar yang langsung direspons dengan strategi jemput bola di medan perang sesungguhnya: persawahan.

Tim Jemput Pangan Turun Gunung, Data Panen Diburu dari Babinsa hingga PPL

Wakil Kepala Cabang Bulog Pati, Fadila Arief, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam menunggu petani datang. Sebaliknya, mereka telah membentuk satuan tugas khusus bernama Tim Jemput Pangan. Tim inilah yang menjadi ujung tombak untuk mengejar target tersebut.

“Kami memiliki sistem Tim Jemput Pangan. Kami langsung mendatangi sawah-sawah yang berpotensi panen berdasarkan informasi dari Babinsa, PPL, dan dinas terkait,” ujar Fadila dengan penuh semangat saat ditemui di Gudang Bulog Blora, Senin (9/3/2026). Ia menjelaskan bahwa koordinasi dengan aparat desa dan penyuluh menjadi kunci utama untuk mendapatkan data panen yang akurat dan real-time.

Langkah agresif ini ternyata sudah membuahkan hasil. Hingga awal Maret ini, Bulog mencatat realisasi penyerapan di wilayah Blora telah mencapai 1.607 ton setara beras. Capaian ini dianggap sebagai pondasi yang kokoh untuk mengejar target di bulan-bulan berikutnya.

“Target kita setara beras adalah 17.900 ton. Mudah-mudahan dapat tercapai di bulan November atau Desember dengan hasil beras terbaik dari petani sekitar,” terangnya dengan nada optimistis. Ia percaya, dengan kerja keras tim di lapangan, target tersebut bukan sekadar angan-angan.

Cuaca Bikin Pusing, Harga Juga Naik Turun: Begini Jurus Bulog Hadapi Petani

Namun, perjalanan mengejar target sebesar itu tentu tidak selalu mulus. Diakui Fadila, ada dua hantu utama yang kerap menghantui proses penyerapan di tingkat petani: cuaca buruk dan fluktuasi harga. Saat hujan turun deras, akses ke sawah menjadi sulit dan kualitas gabah pun bisa terpengaruh.

Soal harga, pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) di angka Rp 6.500 per kilogram. Meski demikian, dinamika pasar kadang membuat harga di lapangan melonjak di atas standar tersebut. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim.

“Kendala terkadang ada pada cuaca dan harga. Jika harga di lapangan lebih tinggi dari standar Bulog, kami melakukan langkah persuasif dan pendekatan kepada petani agar mereka bersedia menjual sesuai harga pemerintah,” kata Fadila menjelaskan strateginya. Pendekatan kekeluargaan dan edukasi terus dilakukan agar petani tetap bermitra dengan Bulog.

Stok Melimpah, Gudang Siap Tampung: Blora Siap Jadi Lumbung Pangan Jateng

Untuk menampung banjir panen dari 16 kecamatan di Blora, Bulog telah menyiapkan infrastruktur yang lebih dari sekadar memadai. Saat ini, stok yang tersimpan di gudang utama Blora mencapai 8.500 ton. Namun, mereka tidak berhenti di situ.

Selain satu kompleks pergudangan utama, Bulog juga mengoperasikan lima gudang filial sewaan. Masing-masing gudang filial ini memiliki kapasitas rata-rata 4.500 ton. Kapasitas penyimpanan ini direncanakan akan terus ditambah seiring dengan meningkatnya volume serapan gabah dari petani, memastikan tidak ada hasil panen yang terbuang.

Fadila juga membuka lebar-lebar pintu komunikasi dengan masyarakat. Ia mengimbau kepada para petani atau siapa pun yang memiliki informasi mengenai potensi panen di wilayahnya untuk segera melapor.

“Kami selalu terbuka. Bagi petani yang memiliki informasi panen, silakan hubungi kami, Babinsa, atau PPL setempat,” jelasnya. Dengan sinergi antara Bulog, aparat kewilayahan, dan penyuluh, diharapkan tidak ada satu pun hamparan sawah di Blora yang luput dari jangkauan Tim Jemput Pangan.

Dengan strategi ofensif dan persiapan infrastruktur yang matang, Bulog sepertinya serius ingin menjadikan Blora sebagai lumbung pangan andalan. Target 22.200 ton gabah bukan lagi sekadar angka, melainkan sebuah misi untuk menyerap hasil jerih payah petani demi ketahanan pangan nasional. Para petani pun diharapkan dapat memanfaatkan program ini agar keuntungan maksimal bisa mereka raih.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com