Exposenews.id – Bencana dahsyat kembali menggegerkan warga Jawa Timur tatkala terjangan banjir lahar dingin Gunung Semeru secara mendadak merobohkan benteng penahan air di Desa Pororejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, pada Senin pagi (2/11/2026).
Masyarakat mendapati fenomena mencekam tersebut sekitar pukul 07.40 WIB, tatkala guyuran hujan berintensitas sangat tinggi meluapkan debit air secara drastis pada sepanjang daerah aliran sungai (DAS).
Menanggapi peristiwa membahayakan ini, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi, mengonfirmasi bahwa jebolnya struktur dinding penahan berada di kawasan hilir DAS Semeru, persisnya di aliran Sungai Glidik yang membatasi wilayah Lumajang dan Kabupaten Malang.
Selanjutnya, Yudhi menegaskan bahwa reruntuhan konstruksi tanggul melumpuhkan pergerakan warga setempat, namun tim penyelamat tetap siaga penuh guna mengantisipasi eskalasi bencana yang bisa datang sewaktu-waktu.
Bahaya Mengintai! Akses Jalan Pororejo-Kaliwuling Terputus Total akibat Hantaman Lahar
Dampak kehancuran tersebut tidak berhenti pada kerusakan bangunan tanggul saja, sebab hempasan luapan arus DAS Glidik sekaligus memutus jalur penghubung vital dari Desa Pororejo menuju Dusun Tamansari di Desa Kaliwuling, Kecamatan Tempursari.
Pihak BPBD menjelaskan bahwa presipitasi hujan lokal yang teramat deras menggerus puncak Semeru, sehingga aliran air mengangkut material batuan vulkanik berat yang langsung menghantam serta mengikis pertahanan tanggul hingga hancur.
Namun demikian, meskipun banjir lahar menerjang begitu hebat, pihak berwenang memastikan bahwa tingkat aktivitas magma dan letusan Gunung Semeru sejauh ini belum menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.
Meskipun begitu, jajaran BPBD Lumajang terus memperketat pengawasan di lapangan untuk menangkal potensi bahaya susulan apabila hujan lebat kembali menyiram wilayah puncak pegunungan tersebut.
Oleh sebab itu, Yudhi mewanti-wanti seluruh elemen masyarakat—terutama para pekerja tambang pasir lokal yang beroperasi di wilayah DAS Semeru—agar segera menghentikan aktivitas kerja demi menyelamatkan jiwa mereka dari incaran bahaya lahar.
Dalam pernyataan resminya, ia menekankan agar warga menjauhi area sungai sepenuhnya karena gelombang lahar dingin susulan dapat datang menerjang kapan saja tanpa peringatan awal.
Gempa Getaran Lahar Semeru Berlangsung Nyaris 6 Jam Tanpa Henti
Di sisi lain, laporan mengejutkan datang dari Pos Pengamatan Gunung Semeru yang merekam adanya aktivitas gempa getaran banjir berdurasi sangat lama, yakni mencapai 6 jam penuh sepanjang rentang pengamatan Senin (2/11/2026) dini hari.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, menyampaikan detail teknis bahwa sensor seismik mencatat getaran banjir tersebut memiliki amplitudo signifikan 65 mm dengan durasi kumulatif hingga 21.600 detik.
Selain getaran banjir, pemantauan instrumen juga mengidentifikasi satu kali gempa guguran material dengan amplitudo 6 mm yang berlangsung selama 115 detik.
Terlebih lagi, tim pemantau mencatat munculnya 14 kali gempa letusan atau erupsi vulkanik yang memicu getaran amplitudo 10 hingga 25 mm berdurasi antara 31 sampai 153 detik.
Secara visual, Agastya menggambarkan bahwa kabut tebal menutupi tubuh Gunung Semeru hingga asap kawah tak terlihat, sementara angin berembus perlahan menuju arah barat daya di tengah suhu dingin berkisar 19-21 derajat Celcius.
Memperhatikan dinamika tersebut, otoritas menetapkan status Semeru tetap bertahan pada Level III (Siaga), sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merilis daftar panduan keselamatan ketat bagi warga.
Maka dari itu, PVMBG melarang keras siapapun melakukan aktivitas di sepanjang sektor tenggara Besuk Kobokan hingga rentang jarak 13 kilometer dari pusat erupsi puncak.
Lebih lanjut, para ahli menginstruksikan warga untuk menjauhi bantaran sungai Besuk Kobokan dalam jarak 500 meter, demi menghindari jangkauan perluasan awan panas guguran serta aliran lahar yang sanggup meluncur hingga 17 kilometer.
Selain itu, otoritas kebencanaan mengingatkan publik agar tidak mendekati area kawah dalam radius 5 kilometer karena lontaran batu pijar berukuran besar dapat mengancam keselamatan jiwa secara mendadak.
Oleh karena itu, PVMBG mengimbau segenap warga untuk selalu memantau pergerakan endapan awan panas, lontaran lava, dan aliran lahar dingin di sepanjang lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Secara khusus, masyarakat wajib meningkatkan kewaspadaan ekstra pada zona rawan seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai kecil yang mengalir menuju Besuk Kobokan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




