BALIKPAPAN, Exposenews.id — Asap pekat mulai mengepung Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan tersebut kini mengancam langsung habitat salah satu penghuni paling berharga, yaitu orangutan jantan bernama Ambon. Bukan sembarang orangutan, Ambon adalah primata berusia 32 tahun yang telah menjadikan kawasan ini sebagai rumah sejak April 2015. Namun kini, rumahnya dilalap api, dan tim penyelamat sudah bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk.

Centre for Orangutan Protection (COP) tidak tinggal diam. Mereka sudah menyiapkan rencana evakuasi darurat untuk menyelamatkan Ambon jika kobaran api tak lagi bisa ditoleransi. Rencananya, Ambon akan dipindahkan ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang terletak di Kampung Tasuk, Berau. Sebuah langkah antisipasi yang terpaksa harus disiapkan di tengah situasi yang kian mencemaskan.
Manajer Komunikasi COP di Berau, Wahyuni, yang akrab disapa Yuyun, mengungkapkan bahwa titik api karhutla pertama kali terdeteksi pada 8 Agustus 2026. Sejak saat itu, api tak pernah berhenti merambat. “Hingga saat ini luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hektare,” ujar Yuyun saat dihubungi dari Balikpapan pada Sabtu (15/8/2026). Angka ini tentu bisa membesar sewaktu-waktu, mengingat kondisi kawasan yang sangat rentan.
Yuyun menggambarkan kondisi di sekitar pusat rehabilitasi BORA yang berada di KHDTK Labanan sangat mengkhawatirkan. Musim kemarau panjang membuat segala sesuatu menjadi kering kerontang. Tidak ada hujan yang turun, sehingga api dengan mudah menyebar ke mana-mana. Situasi ini jelas mempersulit petugas yang berjibaku memadamkan api. “Tim COP sebelumnya mendapat informasi mengenai kepulan asap dari anggota yang melakukan perjalanan dari pusat rehabilitasi menuju Kota Labanan. Setelah dilakukan pengecekan, api diketahui sulit dipadamkan dan terus membesar,” terang Yuyun dengan nada cemas.
Jalan terjal, api menggila! Petugas berjuang manual
Perjuangan memadamkan api di Labanan bukanlah perkara mudah. Yuyun melanjutkan, hingga Sabtu kemarin, titik api yang masih dalam penanganan mencakup sekitar 1 hektare. Namun, akses menuju lokasi kebakaran sangat sulit dilalui. Tidak ada jalan mulus yang bisa dilintasi kendaraan pemadam kebakaran modern. Akibatnya, pemadaman hanya bisa dilakukan secara manual dengan peralatan seadanya.
Tim pemadam terpaksa mengandalkan jetshooter untuk menjangkau area yang terbakar. Namun, kemampuan jetshooter sangat terbatas. Dari total area yang terbakar, alat ini hanya bisa menjangkau sekitar 0,2 hektare saja. Sisanya masih menjadi PR besar yang mengancam kelangsungan habitat Ambon dan satwa liar lainnya. “Kondisi hari ini sedang cooling atau dilakukan pendinginan lagi. Syukurnya luasan yang terbakar tidak luas, sekitar 1 hektare. Tapi akses menuju lokasi sangat sulit sehingga hanya bisa dilakukan pakai jetshooter (manual) untuk yang 0,2 hektare,” jelas Yuyun.
Meskipun demikian, kabar baiknya adalah kondisi Ambon masih terbilang baik. Orangutan jantan tersebut masih dalam pengawasan ketat dan pelatihan untuk pelepasliaran pun tetap berjalan seperti biasa. Situasi di sekitar pusat rehabilitasi juga masih cukup kondusif. Namun, ini bukan berarti kita bisa menarik napas lega. Bahaya masih mengintai dan setiap detik sangat berharga.
Siaga darurat! Tim COP siapkan evakuasi Ambon ke BORA
COP benar-benar tidak ingin mengambil risiko. Mereka telah menyiapkan langkah antisipasi apabila karhutla semakin mendekati habitat Ambon. Rencana evakuasi akan segera dijalankan ke BORA di Kampung Tasuk jika kondisi di KHDTK Labanan dinilai sudah tidak aman lagi bagi sang primata. Semua perlengkapan sudah disiapkan dengan matang, mulai dari kandang angkut khusus, jaring pengaman, peralatan bius, hingga tim ahli yang akan menangani proses evakuasi secara profesional.
“Tapi kami berharap tidak sampai ke sana, dan berharap hujan segera turun karena hutan Labanan yang ada saat ini adalah hutan terbaik sebagai tempat tinggal,” ungkap Yuyun dengan penuh harap. Bagi Yuyun dan tim COP, KHDTK Labanan bukan sekadar hutan biasa. Kawasan ini menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa tinggi dan menjadi rumah bagi banyak satwa liar lainnya. Kehilangan hutan ini berarti kehilangan segalanya.
Menurut Yuyun, tutupan hutan di KHDTK Labanan masih sangat terjaga. Kondisi ini menciptakan suhu mikro yang lebih sejuk di dalam kawasan dibandingkan area terbuka yang terpapar sinar matahari langsung. Pepohonan rindang dan keanekaragaman hayati yang melimpah menjadikan hutan ini sebagai benteng terakhir bagi berbagai satwa liar. Bukan hanya Ambon yang terancam, tetapi juga hewan-hewan lain yang telah menjadikan Labanan sebagai tempat mengungsi setelah habitat mereka porak-poranda akibat aktivitas tambang ilegal.
“Jika kita masuk ke dalam hutan, suhu mikro segera terbentuk karena pepohonan dan keanekaragaman hayatinya masih sangat terjaga. Hutan ini jadi tempat mengungsi bagi satwa liar lainnya sejak tambang ilegal menyerang,” tegas Yuyun. Ini adalah fakta menyedihkan bahwa hutan Labanan kini menjadi benteng terakhir bagi satwa-satwa yang kehilangan rumah akibat ulah manusia yang serakah.
Api dan cuaca jadi momok! Personel terbatas, alat pun serbakadar
Selain akses yang sulit, faktor cuaca menjadi tantangan utama lainnya dalam penanganan karhutla Yuyun menjelaskan bahwa meskipun masih terdapat embung atau kolam penampungan air di dekat pusat rehabilitasi, debit airnya mulai berkurang drastis akibat kemarau panjang. Ini jelas mempersulit upaya pemadaman yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
Di sisi lain, personel dan peralatan COP juga harus dibagi karena tim turut membantu penanganan kebakaran di wilayah Tumbit Melayu, Berau. Bukan hanya satu titik yang terbakar, tetapi beberapa lokasi sekaligus. “Kami kekurangan personel dan harus berbagi alat. Kami berharap relawan kami segera merapat agar tim yang terdahulu bisa istirahat berganti dengan tim yang baru,” ujar Yuyun. Kondisi ini menunjukkan betapa gentingnya situasi yang dihadapi.
Update karhutla Berau: 58 hektare lalap si jaga!
Secara terpisah, Kepala BPBD Berau Masyhadi Muhdi memberikan data yang lebih mengejutkan. Hingga Sabtu (15/8/2026), luas area yang terbakar di wilayah Kabupaten Berau mencapai sekitar 58 hektare. Ini adalah data akumulasi dari sejumlah lokasi kebakaran yang tersebar di berbagai wilayah Berau. Masyhadi bahkan menyebut bahwa masih ada beberapa titik yang belum terdata karena tidak dilaporkan kepada petugas.
Karhutla hampir terjadi di seluruh kecamatan di Kabupaten Berau. Beberapa wilayah yang mencatat kejadian kebakaran cukup tinggi antara lain daratan Pulau Derawan, Sambaliung, Teluk Bayur, Segah, dan Kelay. Ini adalah peringatan keras bahwa kebakaran hutan di Kalimantan Timur bukanlah isu sepele. Ini adalah darurat ekologi yang mengancam kehidupan satwa liar dan manusia.
“Semua lokasi dianggap penting oleh tim gabungan dan ditangani dengan maksimal,” kata Masyhadi. Namun demikian, sumber daya yang terbatas seringkali menjadi kendala dalam penanganan yang maksimal. Semua pihak kini berharap agar hujan segera turun dan mengakhiri penderitaan hutan Labanan serta satwa-satwa yang tinggal di dalamnya.
Kita semua berdoa agar Ambon selamat dan hutan Labanan tetap menjadi rumah yang aman bagi keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya. Api masih berkobar, tetapi harapan tak pernah padam.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





