Berita  

Populsi Badak Kalimantan Tinggal Dua Ekor Betina, Translokasi Segera Dilakukan

SAMARINDA, Exposenews.id – Kabar mengguncang dunia konservasi nasional! Pemerintah bersama lembaga konservasi kini berjibaku melakukan misi penyelamatan darurat terhadap Badak Pari Mahulu. Tim gabungan berencana mentranslokasi badak betina terakhir yang masih tersisa di alam liar Kalimantan ini. Upaya heroik ini menjadi benteng terakhir demi menyelamatkan subspesies Badak Kalimantan (dicerorhinus sumatrensis harrissoni) dari jurang kepunahan total. Jika terlambat, spesies ini bisa lenyap selamanya dari muka Bumi!

RAPAT DARURAT PROVINSI: SEMUA PIHAK SETUJU EVAKUASI SEGERA

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur langsung menggelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu tingkat provinsi. Agenda utama mereka membahas skenario besar penyelamatan ini. Hasilnya mencengangkan! Data resmi mengonfirmasi populasi Badak Kalimantan yang teridentifikasi kini hanya menyisakan dua ekor saja. Lebih mengkhawatirkan lagi, keduanya berjenis kelamin betina. Seekor badak bernama Pahu saat ini menjalani perawatan intensif di Suaka Badak Kelian, Kabupaten Kutai Barat. Sementara itu, sang “princess” bernama Pari Mahulu masih bertahan hidup bebas di habitat alaminya di kawasan hutan Kabupaten Mahakam Ulu.

KEMENTERIAN KEHUTANAN MEMBUKA SUARA: ‘INI ASET NEGARA YANG HARUS DISELAMATKAN!’

Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto, menjelaskan situasi genting ini dengan terus terang. Pihaknya sangat membutuhkan dukungan masif dari berbagai kalangan. Mengapa demikian? Karena misi penyelamatan Pari Mahulu berperan sebagai pertahanan pamungkas keberadaan badak di Pulau Borneo.

“Saya tegaskan bahwa proses penyelamatan badak pari ini merupakan aset nasional sekaligus aset negara. Proses ini sangat diperlukan karena keberadaan badak di Kalimantan saat ini hanya tersisa 1 ekor yang berada di alam. Secara umum, memang totalnya ada 2 ekor, tetapi tinggal 1 ekor saja yang masih liar di alam, dan itupun betina. Semuanya betina, dua-duanya betina,” ujar Budi dengan nada penuh harap pada Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, tim gabungan tidak boleh menunda evakuasi dan penyelamatan ini sedetik pun. Langkah cepat ini akan mendukung program pengembangbiakan intensif badak di masa mendatang.

“Karena itu, saya menekankan perlunya langkah komprehensif dalam proses penyelamatan untuk pengembangbiakan selanjutnya,” tambahnya.

HABITAT ASLI DI MAHAKAM ULU RESMI DIUSUL JADI AREA PRESERVASI

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengungkapkan kabar menggembirakan lainnya. Seluruh pemangku kebijakan yang terlibat telah mencapai kata sepakat. Mereka setuju bahwa penyelamatan Pari Mahulu harus segera dieksekusi tanpa menunda waktu lagi.

“Semua pihak sebetulnya cukup paham bahwa upaya penyelamatan itu harus segera kita lakukan. Kita akan mendetailkan lagi agar upaya penyelamatan bisa memberikan hasil yang berguna atau bermanfaat bagi badaknya maupun bagi manusianya,” jelas Ari dengan optimisme.

Rapat koordinasi tersebut tidak hanya membahas skenario translokasi. Mereka juga menyepakati hal penting lainnya! Bekas habitat Pari Mahulu di Mahakam Ulu akan dipertahankan kegunaannya secara utuh. Tim pengusul akan segera mengajukan kawasan ini secara resmi menjadi areal preservasi.

Ari menjelaskan alasan di balik langkah strategis ini. Tim sengaja mengambil keputusan tersebut untuk memastikan perlindungan hukum yang kuat terhadap kawasan hutan ini dari berbagai aktivitas industri. Nantinya, kawasan ini akan disiapkan kembali sebagai lokasi pelepasliaran utama. Syaratnya, program pengembangbiakan badak melalui teknologi reproduksi harus berhasil dilaksanakan di masa depan.

“Habitatnya ya tidak akan hilang. Kami berharap habitatnya tetap terjaga sehingga nanti kalau misalkan penyelamatannya berhasil, kemudian berkembang biak, ada lokasi untuk pelepasliaran lagi,” pungkasnya.

SENSASIONAL! HELIKOPTER DAN KANDANG KARANTINA SIAP DIOPERASIKAN

Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert), Kurnia Oktavia Khairani, membocorkan kesiapan teknis tim gabungan di lapangan. Mereka saat ini sedang mengebut berbagai rangkaian persiapan penting. Semua ini demi mendukung kelancaran proses translokasi satwa langka tersebut.

Tim telah memulai pembangunan kandang karantina atau boma serta fasilitas paddock baru di area Suaka Badak Kelian. Fasilitas ini akan menjadi rumah baru bagi Pari Mahulu pasca dipindahkan dari Mahakam Ulu. Selain itu, logistik di darat terus dimatangkan. Tim juga menyiapkan unit helikopter canggih yang akan mengangkut badak tersebut melalui jalur udara. Mereka bahkan memenuhi kebutuhan peralatan medis lengkap serta menyusun prosedur operasional standar (SOP) secara detail.

“Kami mau memastikan bahwa komunikasi antar institusi berjalan sesuai dengan kesepakatan SOP yang juga kami bangun bersama dengan para stakeholder yang ada,” tegas Kurnia dengan penuh keyakinan.

DEWAN ADAT DAYAK KALTIM BERIKAN RESTU TOTAL: INI WARISAN LELUHUR!

Dukungan mengalir deras dari berbagai pihak, termasuk dari pemuka masyarakat adat setempat. Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur, Victor Juan, menyatakan sikap tegasnya. Pihaknya mendukung total proses penyelamatan dan pengembangbiakan Badak Pari Mahulu tanpa syarat.

Victor menjelaskan alasan mulia di balik dukungan penuh ini. Keberhasilan program penyelamatan darurat tersebut tidak hanya bernilai penting bagi pelestarian satwa endemik yang terancam punah. Lebih dari itu, upaya ini juga menjaga kelestarian ekosistem hutan dan keseimbangan alam di tanah Kalimantan secara luas.

“Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur mendukung penuh upaya penyelamatan dan pengembangbiakan badak pari yang ada di Mahakam Ulu,” ujar Victor dengan lantang.

TEKNOLOGI REPRODUKSI JADI ANDALAN: PERKAWINAN BUATAN SIAP DIGELAR

Melalui upaya translokasi lintas kabupaten yang berani ini, pemerintah menyimpan harapan besar. Mereka berpeluang segera memanfaatkan teknologi reproduksi berbantuan (assisted reproductive technology). Program penyelamatan materi genetik serta perkawinan buatan dapat segera dilaksanakan. Targetnya jelas: mencegah kepunahan absolut subspesies badak terkecil di dunia tersebut. Waktu terus berjalan, dan misi penyelamatan “Princess” Pari Mahulu kini menjadi pertaruhan terakhir umat manusia untuk menjaga salah satu mahakarya alam Nusantara tetap hidup di bumi pertiwi.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com