Berita  

El Nino Ancam Produksi Pertanian Jabar, Harga Cabai dan Bawang Berpotensi Melonjak

BANDUNG, Exposenews.id – Warga Jawa Barat, bersiaplah! Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang kini mengancam sektor pertanian kita. Akibatnya, harga berbagai komoditas pangan berpotongan melonjak dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini tentu bisa menguras kantong masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, mendesak pemerintah daerah agar segera menyiapkan langkah antisipasi. Dengan begitu, pasokan pangan tetap terjaga meskipun risiko kekeringan mengintai. Ia mengingatkan bahwa kita tidak boleh menyepelekan ancaman ini.

Produksi Pangan Jabar Wajib Diantisipasi Sejak Dini

Menurut Acuviarta, dampak El Nino harus kita waspadai langsung dari hulu, yaitu sisi produksi. Pasalnya, sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air. “Pertama, pemerintah harus segera mengantisipasi dari sisi produksi. Kita perlu mengatur pengairan secara ketat karena ancaman kekeringan bisa berujung pada gagal panen,” tegas Acuviarta saat ditemui, Sabtu (6/6/2026) malam. “Oleh karena itu, sistem produksinya pun membutuhkan tindakan antisipatif.”

Ia menjelaskan bahwa puncak kemarau akibat El Nino sebenarnya bukan fenomena baru. Biasanya, pola ini muncul dalam siklus tertentu. Namun, jangan salah, dampaknya terhadap produksi pangan tetap perlu mendapat perhatian serius, terutama pada komoditas yang sensitif terhadap perubahan cuaca seperti cabai dan bawang. Untuk itu, pemerintah daerah harus memastikan pengelolaan pengairan di kawasan pertanian berjalan optimal agar risiko gagal panen bisa kita tekan bersama. Langkah antisipasi perlu disiapkan sejak awal; dengan demikian, gangguan produksi tidak akan berujung pada tekanan harga yang memberatkan di pasar.

Kerja Sama Antar Daerah: Kunci Jaga Stok Pangan Tetap Aman

Selain fokus menjaga produksi di dalam daerah, Acuviarta juga menekankan pentingnya memperkuat kerja sama antardaerah. Menurutnya, cara ini efektif untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia bagi seluruh masyarakat. Mengapa demikian? Karena dampak El Nino tidak selalu merata di semua wilayah pertanian. Beberapa daerah mengalami tekanan kekeringan lebih tinggi, sementara wilayah lain masih memiliki pasokan yang relatif aman.

“Intensitas El Nino di setiap daerah tidaklah sama, terutama di kawasan pertanian. Karena itulah, kerja sama antar daerah bisa memperbaiki pasokan dan distribusi yang terdampak,” ujarnya. Ia menambahkan, kerja sama distribusi akan sangat membantu daerah yang kekurangan pasokan untuk mendapatkan suplai dari wilayah lain yang produksinya masih stabil. Dengan begitu, harga pangan di pasar dapat tetap terkendali.

Waspada! Harga Bawang Merah dan Cabai Merah Berpotensi Naik Drastis

Lebih lanjut, Acuviarta menilai pemerintah juga perlu menyiapkan opsi impor untuk komoditas tertentu. Langkah ini penting jika produksi dalam negeri terganggu cukup parah. Faktanya, harga bawang merah sudah mulai menunjukkan kenaikan sejak bulan Mei.

“Kenaikan harga bawang merah sudah terlihat pada Mei lalu. Saya kira, komoditas seperti bawang merah ini perlu segera kita antisipasi dengan kebijakan impor jika terdampak lebih jauh,” jelasnya.

Tak hanya bawang merah, Acuviarta juga menyoroti harga cabai merah. Pada Mei lalu, cabai merah menjadi kontributor terbesar inflasi di Jawa Barat. Kondisi ini sangat masuk akal karena komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan sayuran lainnya sangat rentan terhadap perubahan cuaca. Apalagi, komoditas ini memiliki siklus produksi yang pendek. “Memang, cabai merah bulan kemarin menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Jawa Barat. Saya melihat adanya potensi kuat kenaikan harga komoditas pangan ke depan,” ungkapnya.

Inflasi Jabar Mei 2026 Naik, Cabai dan Bawang Jadi Biang Kerok

Data terbaru menunjukkan inflasi Jawa Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,24 persen. Secara tahunan atau year on year, inflasi Jawa Barat berada di level 3,07 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada Mei 2025 yang hanya 2,78 persen.

Komoditas apa saja yang menjadi pemicu utamanya? Cabai merah, bawang merah, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, dan bensin memberikan andil inflasi terbesar pada periode tersebut. Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi atau penurunan harga antara lain telur ayam ras, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang putih, dan tomat.

Menanggapi data ini, Acuviarta mengingatkan pemerintah agar terus memantau perkembangan pasokan komoditas pangan yang mudah bergejolak. Ia menjelaskan, perubahan pasokan pada komoditas bersiklus pendek biasanya cepat terasa dampaknya pada harga di tingkat konsumen. Jadi, jangan sampai kita terlambat bertindak!

Tak Hanya Cabai, Harga Kedelai Juga Terancam Tertekan Kurs Rupiah

Tekanan harga pangan tidak hanya datang dari komoditas hortikultura. Bahan pangan impor seperti kedelai juga berpotensi ikut meroket. Acuviarta mengungkapkan fakta bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai masih sangat tinggi. Lebih dari 70 persen kebutuhan kedelai nasional masih harus dipasok dari luar negeri.

“Pasokan kedelai ini sangat bergantung pada impor. Dengan kondisi nilai tukar rupiah yang sekarang, tentu ini cukup menyulitkan kita semua,” katanya. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS otomatis membuat biaya impor kedelai semakin mahal. Situasi ini tentu akan berdampak langsung pada pelaku usaha yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku utama, terutama produsen tahu dan tempe kesayangan kita.

Pelaku Usaha Terpaksa Kecilkan Ukuran Produk, Pemerintah Diminta Cari Alternatif

Acuviarta memprediksi, jika kenaikan harga kedelai sulit dikendalikan, para pelaku usaha kemungkinan besar akan menyesuaikan volume atau ukuran produk. Langkah ini terpaksa mereka lakukan agar harga jual tetap terjangkau bagi masyarakat. “Kalau dampak kenaikan harganya sangat besar, mungkin mereka akan mengurangi volume atau ukuran produk. Dengan begitu, harga tetap bisa dijangkau oleh masyarakat,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk segera mencari negara pemasok kedelai alternatif. Diversifikasi sumber impor sangat penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu atau dua negara pemasok saja. “Kita harus mencari alternatif impor kedelai. Karena pasokan kedelai kita masih sangat bergantung pada impor, ini sudah menjadi keharusan,” tegasnya.

Pemerintah Daerah Diminta Bergerak Cepat Antisipasi Lonjakan Harga Pangan

Sebagai penutup, Acuviarta menilai bahwa antisipasi terhadap dampak El Nino harus dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Di sisi hulu, pemerintah wajib menjaga sistem pengairan dan memastikan produksi pertanian berjalan lancar. Langkah ini penting agar risiko gagal panen dapat kita tekan seminimal mungkin. Kemudian, di sisi hilir, pemerintah perlu memastikan distribusi pangan berjalan mulus dan pasokan selalu tersedia di pasar.

Semua langkah ini dinilai sangat krusial agar ancaman kemarau panjang tidak berkembang menjadi lonjakan harga pangan yang membebani masyarakat. Jadi, jangan sampai kebijakan hanya berhenti di wacana. Aksi nyata dari pemerintah daerah sekarang sangat dinanti-nantikan!

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com