AMBON, Exposenews.id – Fenomena alam yang teramat mengejutkan baru saja mengguncang masyarakat setelah sebuah gundukan daratan misterius mendadak menyembul dari balik perairan Desa Ohoi Tayando Yamru, Kota Tual, Maluku. Menanggapi kehebohan warga ini, para pakar dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) langsung bergerak cepat menerangkan bahwa kemunculan spektakuler tersebut sejatinya merupakan fenomena geologi murni yang terkenal dengan sebutan mud volcano atau gunung lumpur bawah laut.

Pada dasarnya, daratan yang mendadak muncul ini memang tampak persis menyerupai pulau kecil bertekstur lumpur pekat, di mana ukurannya terbilang sangat luas karena membentang sepanjang 70 hingga 80 meter serta memiliki lebar mencapai 20 hingga 30 meter. Sementara itu, berdasarkan perkiraan para saksi mata di lokasi kejadian, daratan lumpur raksasa ini diperkirakan mulai terangkat secara misterius ke permukaan air pada Senin (2/11/2026) saat dini hari yang sunyi.
Lebih lanjut, Ketua Tim Geologi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG, Imam Catur Priambodo, membeberkan analisa ilmiahnya dengan menjelaskan bahwa kawasan perairan Maluku ini memang menyimpan kondisi struktur geologi yang amat unik. Pasalnya, lapisan bawah permukaan bumi di wilayah tersebut secara alami menampung akumulasi material lumpur basah, kandungan gas bertekanan tinggi, serta volume air dalam jumlah yang sangat masif.
Oleh karena itu, Imam menegaskan saat menghadiri acara sosialisasi mitigasi bencana geologi di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa (3/11/2026), bahwa fenomena mud volcano ini sejatinya tidak menandakan kemunculan gunung api magmatik berbahaya, melainkan murni hanyalah proses penyemburan material lumpur pekat dari perut bumi yang perlahan menumpuk hingga membentuk sebuah gundukan daratan di atas permukaan laut.
Muncul 4 Hari Usai Gempa
Apalagi jika kita menyimak urutan kronologinya, kemunculan daratan misterius di lautan lepas ini terjadi persis empat hari setelah guncangan gempa bumi dahsyat berkekuatan 6,2 Magnitudo menghentak kawasan barat laut Tanimbar, Maluku, pada 29 Oktober 2026 lalu.
Di samping itu, para nelayan dan warga lokal pertama kali memergoki keberadaan pulau mendadak ini pada Senin (2/11/2026) pagi menjelang matahari terbit. Waktu itu, mereka menyadari betul bahwa gundukan di tengah lautan tersebut murni berupa hamparan tanah yang sangat basah dengan warna hitam pekat yang mirip sekali dengan endapan lumpur dasar laut.
Sejalan dengan temuan tersebut, Sekretaris Desa Ohoi Tayando Yamru, Rahmadi Rahakbauw, mengonfirmasi pada Selasa (3/11/2026) bahwa proses pengangkatan tanah hitam tersebut diduga kuat memang berlangsung pada malam hari sebelumnya. Alhasil, ketika warga mulai beraktivitas pada jam 06.00 pagi, pandangan mereka langsung tertuju pada pulau lumpur baru yang sudah bertengger gagah di tengah lautan.
Lebih mengejutkan lagi, Camat Tayando Tam, Saleh Rahareng, menambahkan bahwa hasil pendataan awal di lapangan menunjukkan kenyataan yang amat mencengangkan. Sebab, bentangan daratan baru tersebut nyatanya memiliki luasan yang jauh lebih memukau dan jauh lebih besar dibandingkan dugaan awal masyarakat saat pertama kali melihatnya.
Bahkan, ia mempertegas fakta di lapangan ini dengan mengutip kesaksian langsung warga desa yang menyebutkan bahwa daratan mendadak ini membentang sangat panjang antara 70 sampai 80 meter, serta memiliki hamparan lebar mencapai 20 hingga 30 meter di atas permukaan air laut.
Melanjutkan penjelasan teknisnya, pakar geologi PVMBG Imam Catur Priambodo memaparkan bahwa getaran gelombang seismik dari gempa bumi sanggup mengganggu kestabilan tekanan hidrostatik jauh di bawah perut bumi. Akibat tekanan hebat ini, seluruh material lumpur pekat yang mengandung gas bertekanan dan air akhirnya terdorong ke atas hingga menjebol dasar laut menuju ke permukaan.
Menurut pengamatan ahli yang berpengalaman ini, kejadian muntahnya material lumpur vulkanik ke permukaan laut sebenarnya merupakan sebuah dinamika geologi yang tergolong lumrah dan wajar terjadi pada kawasan laut dengan karakteristik geologi seperti Kepulauan Maluku.
Kendati demikian, publik wajib menyadari bahwa fenomena mud volcano ini bukanlah pulau vulkanik yang tercipta akibat aktivitas letusan gunung berapi aktif, dan jelas bukan pulau tektonik permanen yang lahir dari pergerakan lempeng masif selama ribuan tahun.
Sebaliknya, pulau murni ini hanyalah sebuah manifestasi geologi sementara akibat adanya pergeseran dan deformasi sesar naik pada lapisan dasar laut yang lumayan dangkal. Oleh sebab itu, proses pengangkatan dasar laut secara mendadak seperti ini kerap terjadi di kawasan yang memiliki mekanisme gempa bumi sesar naik (thrust fault), khususnya jika pusat guncangannya berada di kawasan perairan dangkal.
PVMBG Ingatkan Daratan Tak Stabil
Namun demikian, meskipun daratan anyar tersebut tampak amat menggiurkan menyerupai pulau eksotis, pihak otoritas PVMBG langsung melayangkan peringatan tegas kepada seluruh masyarakat agar tidak coba-coba memanfaatkan daratan lumpur tersebut sebagai tempat tinggal maupun lahan perkebunan baru.
Sebab, secara struktur fisik, seluruh endapan material lumpur yang menyusun daratan tersebut masih sangat lembek, rapuh, serta belum padat terikat sehingga sama sekali tidak stabil untuk menopang beban yang berat, apalagi bila didirikan bangunan permanen di atasnya.
Lebih rinci lagi, Imam menyuarakan imbauan keselamatan ini dengan menegaskan bahwa meski warga sekadar mendekat untuk melihat-lihat mungkin tidak menimbulkan masalah berarti, namun kondisi daratan pulau karang bertekstur lumpur ini sangatlah tidak stabil sehingga masyarakat dilarang keras menjadikannya permukiman atau mengklaimnya sebagai lahan baru.
Fenomena Serupa Pernah Terjadi pada 1982, 1992, dan 2023
Tak pelak lagi, kemunculan mendadak daratan lumpur ini sukses memicu kehebohan besar di tengah masyarakat setempat. Pasalnya, fenomena alam terbilang amat langka ini sudah sekian puluh tahun tidak pernah menampakkan wujudnya lagi di wilayah tersebut.
Mengenai kepanikan warga ini, para tokoh lokal pun tak menampik bahwa suasana desa memang sempat diwarnai kehebohan luar biasa karena masyarakat sudah sangat lama tidak menyaksikan kejadian alam ajaib semacam ini.
Di samping rasa kagum warga, Rahmadi lantas menguraikan bahwa sejarah mencatat kemunculan daratan misterius di perairan Desa Ohoi Tayando Yamru ini bukanlah peristiwa yang pertama kali terjadi. Bahkan, fenomena geologi serupa tercatat sudah berulang kali menampakkan diri di titik perairan yang persis sama dalam beberapa rentang waktu berbeda.
Menurut penelusuran sejarah lokal, fenomena unik ini pertama kali tercatat menggemparkan warga pada tahun 1982 silam, walau daratan lumpur yang sempat menyembul kala itu perlahan-lahan tenggelam kembali ditelan samudra. Kemudian, setelah berselang sepuluh tahun, fenomena serupa kembali terulang membelah perairan desa pada tahun 1992.
Menguatkan riwayat tersebut, Rahmadi memaparkan fakta menarik bahwa endapan lama dari tahun 1992 sebenarnya telah membatu dan mengeras, lalu fenomena ini sempat terulang pada 2023 hingga akhirnya pulau lumpur terbaru saat ini muncul kembali sembari mengangkaat sisa-sisa batu tua yang sebelumnya sempat tenggelam.
Sementara itu, dari sudut pandang PVMBG, Imam mengonfirmasi bahwa fenomena pengangkatan lumpur yang sangat mirip pada tahun 2023 lalu sempat terjadi di perairan Desa Teinaman, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, di mana daratan tersebut menyembul ke permukaan persis usai diguncang gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7.
Berdasarkan hasil kajian ilmiah PVMBG, seluruh pulau mendadak ini pada hakikatnya bukanlah pulau sejati yang lahir dari material baru dasar lautan. Melainkan, fenomena visual ini murni merupakan tumpukan gundukan material dasar laut yang terdorong naik secara paksa akibat dorongan sesar naik (thrust fault) sewaktu gempa bumi berlangsung.
Untuk memberikan gambaran konkret, tim ahli PVMBG pernah mengukur secara langsung bahwa gundukan pulau baru di Desa Teinaman kala itu muncul pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai dengan memiliki ketinggian mencapai 3 meter di atas permukaan laut.
Terakhir, dari hasil pengamatan fisik terhadap gundukan daratan pantai tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa material pembentuknya terdiri atas endapan lumpur hitam pekat yang mengandung bercakan pecahan kerikil tajam serta sisa-sisa kepingan kayu dari dasar laut.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





