SEOUL, Exposenews.id – Publik politik kawasan Asia Timur mendadak heboh setelah sejumlah kalangan mendesak Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, untuk menyempatkan diri memainkan gim konsol populer, Call of Duty: Modern Warfare 4. Langkah ekstrem ini sengaja diusulkan agar sang presiden menyadari secara mendalam betapa nyata dan mengerikannya ancaman invasi militer dari negara tetangga mereka, Korea Utara.
Usai gim tembak-menembak tersebut resmi meluncur ke pasaran global pada Jumat (30/10/2026), jajaran politisi dari kubu oposisi langsung melontarkan gelombang seruan keras tersebut ke hadapan publik.
Sebab, gim Call of Duty: Modern Warfare 4 ini secara gamblang menyajikan jalan cerita rekaan mengenai serangan mendadak tentara Korea Utara yang menggempur wilayah daratan Korea Selatan. Lantas, dalam alur permainan yang sangat menegangkan tersebut, para pemain mengambil peran penuh sebagai Park Hyun-jun, seorang prajurit tangguh dari Korps Marinir Korea Selatan yang bertaruh nyawa melawan gempuran pasukan Korea Utara.
Bahkan, permainan video ini menghadirkan pertempuran jarak dekat yang sangat intens di sudut-sudut kota Seoul, sekaligus menyajikan misi berisiko tinggi untuk menerobos masuk ke dalam kompleks kepemimpinan puncak Korea Utara yang sengaja dirancang menyerupai Istana Matahari Kumsusan—bangunan bersejarah yang tadinya menjadi tempat kediaman resmi dan kini berubah fungsi menjadi mausoleum bagi mendiang pendiri Korea Utara, Kim Il-sung.
Disindir Soal Ancaman Korut
Tak mau menyia-nyiakan momentum, barisan politisi oposisi Korea Selatan langsung memanfaatkan momen perilisan gim populer ini sebagai senjata ampuh untuk menyindir habis-habisan strategi diplomasi Presiden Lee, yang mereka pandang kerap bersikap terlalu lembut dan kompromistis terhadap gertakan Korea Utara.
Tepat pada hari peluncuran resmi gim tersebut, seorang anggota parlemen konservatif independen yang juga mantan tokoh kunci Partai Kekuatan Rakyat (People Power Party), Han Dong-hoon, secara terbuka meminta Presiden Lee untuk menjajal gim itu secara langsung, agar ia mampu membayangkan bencana besar yang berpotensi melanda jika sistem pertahanan negara tidak berada dalam kondisi siaga penuh.
“Tentu saja kita semua tahu bahwa jalan cerita dalam gim ini hanyalah karangan fiksi belaka. Namun, peristiwa berdarah invasi Korea Utara pada 25 Juni 1950 silam adalah fakta sejarah nyata, dan bahaya militer dari Pyongyang tetap menjadi ancaman riil bagi kita hingga detik ini,” tegas Han melalui tulisan panjang di akun Facebook pribadinya, sebagaimana dilaporkan oleh media ternama The Korea Herald.
Lebih lanjut, Han melontarkan pertanyaan tajam mengenai kesiapan nyata militer Seoul dalam mengantisipasi skenario invasi berskala raksasa seperti yang terpampang jelas di layar kaca dalam gim tersebut.
Di samping itu, Han menyuarakan kritik tajam terhadap pernyataan kontroversial Presiden Lee pada 19 Oktober lalu, yang secara mengejutkan menyebut kepemilikan persenjataan nuklir Pyongyang hanya sebatas “alat pertahanan diri sebagai pilihan terakhir”.
Tak berhenti di situ, Han juga mempermasalahkan langkah pemerintah yang belakangan ini gencar memangkas porsi latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, serta manuver politik Seoul yang terus mendesak pengalihan kendali operasional militer masa perang dari genggaman Washington kembali ke Seoul.
Meskipun demikian, Han menegaskan bahwa dirinya sangat berharap skenario kelam yang ada di dalam permainan virtual tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan pahit di dunia nyata.
“Sebab, menjaga pertahanan dan keselamatan nasional itu tidak bisa kita gantungkan pada sebuah harapan belaka, melainkan harus kita wujudkan melalui persiapan matang yang konkrit,” tutur Han memungkas pendapatnya.
Pada saat bersamaan, figur berpengaruh dari Partai Kekuatan Rakyat, Ahn Cheol-soo, turut memanfaatkan kepopuleran gim bertema perang ini untuk membongkar kelemahan garis kebijakan luar negeri yang diusung oleh Presiden Lee.
Melalui unggahan menarik di akun media sosialnya pada Rabu (28/10/2026), Ahn sengaja membagikan cuplikan video promosi gim tersebut sembari menyarankan agar Presiden Lee setidaknya bersedia menyisihkan waktu untuk mencoba memainkannya sendiri atau minimal menonton rekaman permainannya di internet.
Respons Masyarakat
Di sisi lain, kehadiran gim aksi fenomenal ini memicu gelombang reaksi yang sangat beragam dari berbagai lapisan masyarakat di Korea Selatan.
Sebagaimana dilansir oleh South China Morning Post, Wakil Ketua kelompok masyarakat sipil progresif Candlelight Action, Kim Ji-sun, melontarkan nada protes keras dan mempertanyakan kelayakan etis dari penerbitan serta komersialisasi gim yang mengeksploitasi adegan saling membunuh di tengah situasi semenanjung yang masih terbelah dan berada dalam ikatan gencatan senjata.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kim Dae-jung Peace Centre di Seoul, Kim Sung-jae, menegaskan bahwa pemerintah Seoul sepantasnya memberikan respons resmi terkait peredaran gim ini karena dinilai menyimpan dampak geopolitik yang tidak bisa kita sepelekan begitu saja.
Sebab, menurut penuturan Kim, pemerintah Korea Selatan saat ini sedang berjuang keras membangun kembali jembatan perdamaian dengan pihak Korea Utara. Akibatnya, ia memperingatkan bahwa apabila gim ini justru memicu sentimen kebencian dan merendahkan martabat pihak Korea Utara, maka dinamika diplomasi antara Seoul dan Pyongyang bisa terpukul oleh dampak negatif yang amat merugikan.
Kendati memicu perdebatan sengit dari kalangan pengamat dan aktivis, gim tembak-menembak ini nyatanya mendulang sambutan luar biasa hangat dari mayoritas komunitas kewargaan gim di Korea Selatan. Bahkan, berdasarkan data resmi Korea JoongAng Daily, hampir 90 persen pemain asal Korea Selatan langsung menyematkan ulasan sangat positif di platform gim Steam hanya dalam selang beberapa jam usai gim dirilis pada hari Jumat.
Menanggapi kegaduhan yang timbul, seorang pengamat dan kritikus gim senior yang dikutip oleh Korea JoongAng Daily mengingatkan segenap pihak agar tidak terburu-buru menarik karya kreatif fiksi ke dalam pusaran kepentingan politik praktis.
Menurut pandangannya, menilai karya seni kreatif murni dari kacamata politik sempit justru akan merusak nilai estetika karya itu sendiri, sehingga ia meminta semua pihak untuk tidak mengaitkan gim buatan pengembang asing ini ke dalam ajang perdebatan politik lokal yang tidak perlu.
Senada dengan pandangan tersebut, seorang pemain lokal bermarga Jang mengungkapkan secara terus terang bahwa publik sebaiknya menyikapi permainan ini murni sebagai sarana hiburan belaka.
“Lagipula, bukankah gim ini secara jujur dan akurat justru berhasil merefleksikan kenyataan pahit bahwa bangsa Korea memang masih terpisah oleh garis konflik?” kata Jang memberikan sudut pandang pribadinya.
Memang, jika kita menengok catatan sejarah, Korea Selatan dan Korea Utara secara teknis masih terus berada dalam status perang dingin hingga hari ini, mengingat pertempuran sengit pada era 1950-an dahulu hanya diakhiri oleh kesepakatan gencatan senjata sementara pada 27 Juli 1953, dan bukan melalui perjanjian perdamaian yang abadi.
Sampai berita ini diturunkan, pihak Activision selaku penerbit resmi yang menaungi waralaba raksasa Call of Duty masih memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi mengenai kehebohan politik yang menyelimuti perilisan gim terbaru mereka tersebut.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





