MAKASSAR, Exposenews.id – Amukan si jago merah secara mendadak mengamuk sangat hebat dan menerjang kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sebuah wilayah alam yang sangat megah dan kini sudah resmi terdaftar sebagai bagian penting dari UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan.

Akibat terpaan tiupan angin kencang dan fenomena kekeringan ekstrem yang terus membakar kawasan Geopark tersebut, kobaran api liar ini terus merembet dengan sangat cepat hingga akhirnya berhasil melahap hamparan area vegetasi yang diperkirakan sudah menembus luasan hampir 60 hektar.
Menanggapi bencana darurat yang makin mencekam ini, Dedy Irfan Bachri selaku General Manager Badan Pengelola Kawasan Warisan Dunia Maros Pangkep UNESCO Global Geopark secara langsung memberikan konfirmasi bahwa sebaran titik api memang mendominasi area puncak tebing karst serta hamparan vegetasi hutan bambu di dalam kawasan taman nasional.
“Oleh sebab itu, kami dapat memastikan dengan sangat yakin bahwa amukan kebakaran hebat yang meluas saat ini memang benar-benar melahap zona bagian dalam dari area kawasan Taman Nasional,” tutur Dedy sewaktu menjelaskan kondisi paling mutakhir di lapangan.
“Selanjutnya, deretan informasi paling gres dari jajaran tim Taman Nasional melaporkan bahwa total luasan area terbakar sudah membengkak hingga hampir 60 hektar, di mana amukan lidah api terutama membakar wilayah atas Leang Kasi di area Leang Minasatene,” tambah Dedy saat memberikan keterangan resminya pada Kamis (15/10/2026).
Lebih lanjut lagi, Dedy menerangkan bahwasanya hamparan lebat vegetasi hutan bambu yang tumbuh subur di puncak tebing karst memang sangat mudah mengering serta sangat rentan tersulut percikan api selama terpaan musim kemarau panjang yang gersang ini.
Meskipun demikian, di tengah situasi darurat kebakaran yang cukup mengerikan ini, pihak pengelola kawasan langsung membawa sekercah kabar melegakan bahwa deretan lukisan dinding gua purba nan langka yang menjadi warisan dunia sejauh ini masih berada dalam kondisi yang sangat aman dari jangkauan amukan si jago merah.
“Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu merasa panik berlebihan karena posisi titik api kebakaran saat ini pada dasarnya masih terbentang cukup jauh dari titik lokasi keberadaan situs lukisan dinding gua purba, baik yang berada di situs Pulu Sipong 4, Leang Tedongnge di kawasan Biku, maupun di Bulu Karampuang,” tegas Dedy menyampaikan dengan nada mantap.
“Bahkan, dua hari yang lalu saya sendiri sempat terjun langsung ke situs Pulu Sipong 4 untuk melihat kondisi lapangan, dan saya menyaksikan bahwa kegiatan riset ilmiah dari para ahli arkeologi di sana masih terus berjalan dengan sangat aman tanpa gangguan,” imbuhnya demi menenangkan kekhawatiran publik.
Meskipun peninggalan purba sejauh ini masih aman, Dedy tetap mengingatkan serta mewanti-wanti semua pihak agar tidak menurunkan kewaspadaan sedikit pun, mengingat cuaca panas terik tanpa hujan yang terus berlangsung berpotensi memicu timbulnya titik api baru yang meluas menuju kawasan situs sejarah lainnya.
Dua titik api dan penanganan tim gabungan
Sementara itu, fokus perhatian segenap tim gabungan penanggulangan bencana di lapangan pada saat ini sedang terpusat penuh untuk menjinakkan dua titik kobaran api utama yang bergejolak cukup hebat di wilayah Kabupaten Pangkep.
Kabar baiknya, satu titik api yang sempat membakar kawasan Minasatene akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh petugas, namun di sisi lain sebuah titik api baru justru mendadak muncul dan membakar kawasan Batu Napara di Kecamatan Balocci sejak Rabu (15/10/2026) malam.
“Akibatnya, titik api yang bergejolak di Batu Napara Balocci ini memang tergolong baru saja menyala dan posisinya masih berada dalam area Taman Nasional, sehingga Balai Taman Nasional langsung menjalin koordinasi amat erat bersama BPBD, TNI, Polri, serta relawan untuk saling mendukung dalam memadamkan api,” jelas Dedy merinci upaya di lapangan.
Hingga saat ini, hasil pantauan ketat dari tim penanganan di lapangan menunjukkan bahwa belum ada satu pun objek destinasi wisata utama yang terkena dampak kerusakan secara langsung oleh mengganasnya si jago merah.
Kendati begitu, pihak pengelola tetap memberlakukan tingkat kewaspadaan ekstra tinggi lantaran sebagian besar spot wisata populer favorit para pelancong—seperti Taman Purbakala Leang-leang, Gua Sumpang Bita, hingga Bantimurung—berada persis di bawah kaki-kaki tebing karst yang sangat rawan terimbas runtuhan api.
“Pada dasarnya, memang banyak objek destinasi wisata kita yang lokasinya berada tepat di kaki tebing karst, sehingga kawasan tersebut memang amat perlu kita waspadai bersama, walaupun sampai detik ini belum ada spot wisata di sekitar kawasan yang terkena amukan api,” ujar Dedy membeberkan kewaspadaannya.
Kunjungan wisatawan Geopark anjlok akibat asap
Sayangnya, dampak buruk dari bencana kebakaran hutan yang dibarengi cuaca ekstrem ini secara perlahan namun pasti mulai mengancam dan merusak denyut vital sektor pariwisata andalan daerah Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data resmi hasil rapat evaluasi kerja antara Badan Pengelola Geopark Maros-Pangkep bersama para pengelola objek wisata lokal, angka kedatangan para wisatawan tercatat mengalami penurunan yang sangat drastis dan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Bahkan, para pengelola tempat wisata ternama seperti di kawasan Leang-leang secara terbuka mengeluhkan jumlah kunjungan turis yang mendadak anjlok parah selama musim kering ini, karena masyarakat serta para wisatawan memilih menahan diri beraktivitas di luar rumah akibat cuaca panas dan tingginya paparan asap,” papar Dedy menggambarkan sepinya lokasi wisata.
Oleh karena itu, Dedy secara langsung mengimbau kepada seluruh lapisan warga masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar gedung agar senantiasa menggunakan masker pelindung demi mengantisipasi bahaya nyata akibat paparan asap kebakaran hutan.
Di samping itu, Dedy juga meminta dengan tegas kepada seluruh wisatawan yang tengah mengunjungi kawasan eksotis seperti Rammang-rammang, Leang-leang, Bantimurung, hingga Sumpang Bita agar selalu menjaga ketertiban serta tidak melakukan kelakuan konyol yang berpotensi menyulut kobaran api baru.
“Maka dari itu, kami sangat menyarankan para wisatawan agar sama sekali tidak melakukan kegiatan yang bisa memicu munculnya percikan api, termasuk kebiasaan buang puntung rokok sembarangan yang sangat membahayakan di area kering,” pinta Dedy memberikan peringatan keras.
“Akhir kata, bagi para pencinta alam yang punya rencana melakukan aktivitas camping atau berkemah, kami meminta agar kalian menunda dulu agenda membuat api unggun atau kegiatan memasak yang dapat memicu proses pembakaran terbuka demi keselamatan kita bersama,” imbau Dedy menutup penjelasannya secara tegas.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




