Exposenews.id – Pelatih Timnas Ghana, Carlos Queiroz, melontarkan kecaman keras terhadap kebijakan kontroversial FIFA yang memperluas Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim. Menurut pelatih berusia 73 tahun ini, langkah ekspansi besar-besaran tersebut perlahan tapi pasti menggerus esensi eksklusivitas yang selama ini melekat pada turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Queiroz bahkan tidak ragu menyebut bahwa kompetisi ini kini kehilangan aura prestisiusnya dan berubah menjadi tontonan yang sudah tidak istimewa lagi. Padahal, selama puluhan tahun, Piala Dunia selalu menjadi ajang yang paling dinantikan karena kelangkaan pesertanya. Namun, dengan tambahan 16 tim baru, Queiroz menilai nilai spesial itu perlahan menghilang.
Meskipun Timnas Ghana berhasil menembus babak 32 besar, Queiroz tetap bersikukuh menyuarakan kritik pedasnya terhadap FIFA dan presidennya, Gianni Infantino. Baginya, pencapaian tim asuhannya sama sekali tidak membuatnya tutup mulut. Sebaliknya, ia justru semakin vokal mengingatkan bahwa kemudahan akses yang ditawarkan format baru ini hanya akan merendahkan standar kompetisi, baik saat kualifikasi maupun di putaran final. Dengan demikian, kualitas pertandingan pun diprediksi akan menurun drastis.
Kenapa Queiroz Begitu Kecewa dengan Format Baru?
Bagi Queiroz, daya tarik utama sebuah turnamen besar justru terletak pada kelangkaan pesertanya. Ketika jumlah tim bertambah, maka otomatis kesan spesialnya pun memudar. Ia menyampaikan keresahan ini saat berbicara kepada awak media usai laga melawan Kroasia. Queiroz dengan tegas menyatakan, “Saya percaya bahwa nilai muncul ketika sesuatu itu langka.” Pernyataan ini sekaligus menjadi tamparan halus bagi FIFA yang dianggapnya terlalu terburu-buru mengubah format klasik Piala Dunia.
Ia kemudian menambahkan bahwa ketika terlalu banyak tim bisa lolos, maka nilai langka itu perlahan sirna. “Jumlah tim yang bisa lolos ke kompetisi ini bisa membuatnya menjadi sesuatu yang biasa dan murahan,” ujarnya dengan nada kecewa. Lebih lanjut, Queiroz juga menyoroti kualifikasi di zona Amerika Selatan dan Eropa yang kini dinilai kehilangan gregetnya. Mengapa demikian? Karena terlalu banyak tiket tersedia bagi negara-negara anggotanya, sehingga proses kualifikasi terasa hambar dan tidak kompetitif.
Padahal, menurut Queiroz, babak kualifikasi seharusnya menjadi fase paling sengit dan mendebarkan. Namun, dengan adanya tambahan kuota besar-besaran, kualifikasi justru berubah menjadi prosedur formalitas belaka. Akibatnya, semangat juang dan dinamika tinggi yang selama ini mewarnai pertandingan kualifikasi perlahan menghilang. Queiroz menegaskan bahwa format seperti ini justru kontraproduktif bagi perkembangan sepak bola dunia.
Uang Kini Lebih Berbicara Daripada Sepak Bola?
Tidak berhenti di situ, Queiroz juga menuding bahwa motivasi finansial kini lebih dominan dibandingkan nilai-nilai olahraga murni. Ia dengan berani menyebut era modern sepak bola telah bergeser ke arah komersialisasi yang berlebihan. Fenomena ini, menurutnya, membuat sepak bola kehilangan jati dirinya sebagai olahraga yang mengutamakan prestasi dan semangat juang. “Piala Dunia seharusnya menjadi sesuatu yang bermakna dan penting. Seharusnya itu sesuatu yang langka,” tegasnya dengan lantang.
Lebih keras lagi, Queiroz menyatakan, “Tapi, seperti yang Anda ketahui, saat ini uanglah yang berbicara dalam permainan ini. Dulu kita membicarakan sepak bola, sekarang kita membicarakan moneyball.” Pernyataan ini seakan menjadi pisau analisis tajam yang mengoyak kebijakan FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Bagi Queiroz, perubahan format ini tidak lain hanyalah langkah strategis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dari hak siar, sponsor, dan tiket penonton.
Ia juga mengkhawatirkan bahwa kualitas pertandingan akan semakin menurun karena banyak tim yang sebenarnya belum siap secara teknis dan taktis. Dengan kata lain, Piala Dunia bisa berubah menjadi ajang “pesta besar” tanpa makna mendalam. Para pemain, pelatih, dan pecinta sepak bola sejati pun dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa romantisme sepak bola mulai terkikis oleh kepentingan bisnis semata.
Apakah Kritik Queiroz Akan Didengar FIFA?
Meski kritik pedas ini dilontarkan oleh pelatih berpengalaman yang pernah menangani berbagai tim nasional di berbagai benua, Queiroz menyadari bahwa suaranya mungkin tidak akan mengubah kebijakan FIFA. Namun, ia tetap berharap bahwa masyarakat sepak bola global mulai menyadari dampak negatif dari ekspansi ini. Baginya, kualitas harus tetap menjadi prioritas utama, bukan kuantitas peserta. Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk kembali merenungkan esensi sejati dari Piala Dunia.
Sebagai pelatih yang kaya pengalaman, Queiroz tentu paham betul bagaimana dinamika sepak bola berubah. Namun, ia tetap optimis bahwa nilai-nilai luhur olahraga masih bisa dipertahankan jika semua pihak bersikap kritis dan tidak mudah terbawa arus komersialisasi. “Kita harus menjaga sepak bola tetap istimewa, bukan menjadikannya sekadar pesta uang,” pungkasnya dengan penuh keyakinan. Kritik ini pun menjadi pengingat bahwa sepak bola sejatinya adalah tentang gairah, persaingan sehat, dan kebanggaan, bukan sekadar keuntungan materi.
Sayangnya, hingga kini FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas kritik pedas Queiroz. Namun, tekanan dari para pelatih dan pecinta sepak bola sejati terus meningkat, terutama menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Pertanyaannya, apakah suara-suara kritis seperti Queiroz akan mampu menggoyahkan kebijakan ekspansi ini? Atau justru hanya menjadi angin lalu yang lenyap ditelan kepentingan bisnis besar? Waktu yang akan menjawabnya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
