Exposenews.id – Bencana! Ya, itulah satu kata yang paling tepat menggambarkan apa yang baru saja menimpa Juventus. Lagi-lagi, Si Nyonya Tua menuai hasil yang sangat mengecewakan di pekan ke-37 Liga Italia (Serie A) 2025-2026. Bagaimana tidak, saat menjamu Fiorentina di kandang sendiri, skuad asuhan Luciano Spalletti justru dipaksa bertekuk lutut dengan skor telak 0-2. Hasil buruk ini tentu saja langsung memicu ledakan kekecewaan luar biasa dari para pendukung tuan rumah pada Minggu (17/5/2026) petang WIB.

Sial beruntun rupanya tidak hanya berhenti di atas rumput hijau. Begitu wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai, langsung terdengar siulan dan sorakan keras dari tribune. Para penggemar meluapkan amarahnya kepada tim kebanggaan mereka sendiri. Namun, kekecewaan itu ternyata meluap lebih jauh lagi. Kelompok ultras dengan cepat mengorganisir diri dan memindahkan aksi protes ke luar Stadion Allianz. Mereka berteriak lantang menyuarakan ketidakpuasan yang menggunung, mengingat tim kesayangan mereka kini semakin terancam gagal menembus zona Liga Champions musim depan. Ancaman ini terasa sangat nyata dan membakar emosi.
Teriakan “Hormati Warna Kami” Menggema di Malam Turin
Dalam aksi protes panas pascapertandingan itu, suporter garis keras Juventus tidak main-main. Mereka melontarkan kekesalan yang sedalam-dalamnya, baik kepada para pemain yang dianggap tak bernyali maupun kepada jajaran manajemen klub yang dinilai gagal membangun tim kompetitif. Di tengah ketidakpastian nasib tim yang kini terbayang-bayang harus turun kasta ke Liga Europa, para ultras dengan penuh semangat meneriakkan slogan-slogan pedas. “Hormati warna kami!” teriak mereka serempak. “Kami adalah Juventus! Bukan tim kalengan!” gertak yang lain. Suasana malam itu berubah menjadi lautan amarah yang sulit dibendung.
Drama Panas di Atas Lapangan: Dua Gol Cepat dan Tiga Gol Dianulir
Adapun jalannya pertandingan pekan ke-37 Serie A tersebut benar-benar berlangsung dengan tensi tinggi dan penuh dengan drama memegangkan. Fiorentina selaku tim tamu benar-benar tampil percaya diri. Mereka dengan cepat mengejutkan tuan rumah lewat dua gol kilat. Rolando Mandragora membuka keran gol pada menit ke-8 dengan sebuah tembakan yang tak mampu diantisipasi kiper. Kemudian, belum genap setengah jam pertandingan berjalan, Cher Ndour menggandakan keunggulan La Viola pada menit ke-33. Dua gol cepat ini seolah langsung menusuk jantung para pendukung Juventus yang hadir di stadion.
Namun, pertandingan ini bukannya tanpa kontroversi. Wasit Davide Massa menjadi pusat perhatian setelah membuat tiga keputusan krusial yang menganulir gol. Bayangkan, tiga gol! Weston McKennie, Dusan Vlahovic, dan Roberto Piccoli masing-masing sempat merayakan gol, tapi semuanya dianulir oleh wasit karena berbagai pelanggaran. Sebagai tambahan sengit, laga ini juga diwarnai kartu merah yang diterima pemain tamu, Luca Ranieri, pada menit ke-71. Juventus sejatinya bermain dengan keunggulan jumlah pemain, tapi tetap saja gagal menciptakan gol penyeimbang.
Spalletti Naik Pitam: “Jangan Bilang Kami Sudah Mati!”
Menyikapi kekalahan yang terasa begitu menyakitkan ini, pelatih Luciano Spalletti tampak benar-benar emosional. Wajahnya merah menahan geram saat melakoni sesi wawancara pascapertandingan bersama Sky Sport. Situasi semakin panas ketika seorang jurnalis dengan kurang ajar memframing bahwa Bianconeri seharusnya memenangkan laga ini, dan bahkan menyebutnya sebagai “pertandingan terpenting dalam hidup mereka.” Spalletti langsung meledak. Ia membalas dengan ketus dan tanpa basa-basi.
“Jika Anda memulai dengan cara ini, Anda langsung memulai dengan buruk,” ujar Spalletti sambil menatap tajam pewawancara. Mantan pelatih timnas Italia itu dengan tegas menolak narasi dramatis dan pesimistis yang menganggap bahwa peluang timnya di akhir musim ini sudah tertutup seutuhnya. “Fakta bahwa semuanya sudah berakhir, bahwa kita semua sudah mati… itu salah besar. Jelas, ini hasil yang buruk. Ini memang pertandingan penting,” lanjutnya dengan nada tinggi. Spalletti mencoba membangunkan semangat timnya dari kekalahan ini.
Lebih lanjut, pelatih berusia 67 tahun itu menjelaskan pandangannya. Ia menegaskan bahwa performa sebuah skuad tidak bisa hanya dinilai dari hasil satu laga saja. Penilaian harus dilihat dari proses jangka panjang. “Mengenai penilaian saya dari tim ini, itu tidak hanya berdasarkan apa yang terjadi hari ini. Saya pikir mereka telah melakukan banyak hal hebat; ada pertumbuhan yang signifikan, dan mereka meletakkan fondasi untuk hal-hal yang lebih penting di masa depan,” jelasnya. Spalletti mencoba menenangkan situasi. “Kami harus tetap bermain sepak bola dengan kualitas dan kepribadian yang tinggi. Bukan dengan kepala tertunduk,” tutup Luciano Spalletti tegas.
Skenario Gila di Pekan Terakhir: Menang Sambil Berdoa
Akibat kekalahan yang sungguh menghancurkan ini, posisi Si Nyonya Tua di klasemen semakin terpuruk. Mereka harus puas tertahan di peringkat keenam dengan koleksi 68 poin. Yang lebih menyakitkan, mereka kalah head-to-head dari Como yang memiliki poin serupa di peringkat kelima. Sementara itu, tim tamu Fiorentina justru melesat ke peringkat 15 dengan 41 poin.
Persaingan di papan atas sungguh mengerikan. AC Milan dan AS Roma kini duduk manis di peringkat ketiga dan keempat dengan raihan 70 poin, unggul dua poin dari Juventus. Untuk bisa mengamankan tiket emas menuju pentas Eropa paling bergengsi musim depan, skenario yang harus dilalui Juventus sangatlah sempit dan mirip keajaiban. Pertama, mereka wajib memenangkan partai derbi panas kontra Torino di pekan penutup. Itu harga mati. Tidak ada pilihan lain.
Lalu, sambil menang, mereka juga harus berdoa keras agar para rival, yaitu AC Milan, AS Roma, atau Como, menelan hasil minor di pertandingan terakhir mereka. Bayangkan, nasib Juventus yang dulu biasa berkuasa di Italia kini harus bergantung pada hasil tim lain. Skenario gila ini menjadi satu-satunya jalan keluar. Apabila perolehan poin akhir nantinya setara, Bianconeri sejatinya masih memiliki sedikit keuntungan berkat rekor head-to-head atas Roma serta selisih gol yang lebih superior ketimbang AC Milan. Namun, apakah keajaiban itu benar-benar akan terjadi? Hanya waktu yang bisa menjawab. Satu yang pasti, La Vecchia Signora sedang berada di ujung tanduk.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





