SIJUNJUNG, Exposenews.id – Duka mendalam menyelimuti Kampung Sintuk, Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Pasalnya, longsor dahsyat menimpa para penambang emas tanpa izin (PETI) di lokasi tersebut pada Kamis (14/5/2026) siang. Akibatnya, sembilan orang tewas seketika tertimbun material runtuhan tambang.
Selanjutnya, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, para korban tengah asyik bekerja menggunakan metode dompeng di area tambang emas yang berada di pertemuan tiga aliran sungai besar. Kemudian, tanpa diduga, tebing di sekitar lokasi ambrol dan menimpa mereka semua.
“Sudah Saya Peringatkan, Tapi Tak Diindahkan”: Duka Wali Nagari
Wali Nagari Guguak, Zainal, dengan nada bergetar menjelaskan kronologinya. “Longsor terjadi selepas waktu Dzuhur. Semua korban yang bekerja saat itu langsung tertimbun material runtuhan tambang emas,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis malam. Lebih lanjut, ia menyebutkan lokasi persisnya di Jorong Koto Guguak, tepatnya Kampung Sintuk. “Yang sedang bekerja dan tertimbun ada sembilan orang,” tegasnya.
Menariknya, proses evakuasi berlangsung dramatis dan panjang. Tim penyelamat dan warga bergotong royong mengerahkan seluruh tenaga untuk mengangkat material longsor. Kurang lebih enam jam lamanya mereka bekerja tanpa henti. Evakuasi dimulai setelah Dzuhur dan baru selesai menjelang Maghrib. “Kami semua panik dan kewalahan, tetapi tetap berusaha semaksimal mungkin,” kenang seorang warga.
Lantas, apa pemicu utama longsor maut ini? Zainal menjelaskan bahwa aktivitas penambangan emas yang terus berlangsung di tengah cuaca ekstrem menjadi biang keroknya. Beberapa hari terakhir, hujan deras dengan intensitas tinggi terus mengguyur kawasan tersebut. Akibatnya, tanah menjadi labil dan tidak kuat menahan beban.
Perlu diketahui, lokasi tambang tersebut memang berada di kawasan super rawan. Sebab, area itu menjadi titik pertemuan tiga aliran sungai besar, yaitu Batang Kuantan, Batang Ombilin, dan Batang Sinamar. “Kondisi air Batang Ombilin dan Batang Sinamar sedang sangat besar. Arusnya deras lalu masuk ke Batang Kuantan, semakin mempercepat erosi tebing,” papar Zainal.
Sebelum kejadian tragis ini, Zainal mengaku sudah berulang kali memperingatkan warga. Pihak nagari dengan tegas mengimbau agar semua aktivitas tambang dihentikan sementara. Pasalnya, hujan deras terus menerus mengguyur kawasan itu. Namun, imbauan tersebut nyatanya tidak diindahkan oleh para penambang.
“Terkait kondisi cuaca yang ekstrem, kami dari pihak nagari sudah berkali-kali menyampaikan agar warga menahan kegiatan tambang. Tapi tetap saja mereka melakukannya. Pagi harinya pun saya sudah menyampaikan langsung kepada para penambang, tapi lagi-lagi tidak diindahkan,” sesal Zainal dengan nada kecewa.
Jenazah Tak Sempat ke Puskesmas, Keluarga Langsung Bawa Pulang
Dari sembilan korban, Ujang Kandar (40) menjadi korban pertama yang berhasil ditemukan warga. Setelah itu, keluarga langsung memakamkannya tanpa menunggu lama. Seluruh korban kemudian secara bertahap berhasil dievakuasi dan dibawa pulang ke rumah masing-masing oleh pihak keluarga yang tak henti-hentinya menangis histeris.
Rencana awal dari pihak kepolisian sempat mengarahkan agar semua jenazah dibawa ke Puskesmas Tanjung Ampalu untuk divisum. Namun, rencana itu urung dilakukan. “Memang ada perintah tegas dari Kapolsek untuk mengantar jenazah ke puskesmas. Tapi, warga dan keluarga korban tidak jadi melakukannya. Mereka khawatir nanti banyak mayat yang bertumpuk di sana dan proses pemakaman jadi tertunda,” jelas Zainal.
Selain itu, Zainal juga mengungkapkan fakta menarik lainnya. Lokasi tambang ilegal tersebut ternyata bukan milik perusahaan besar, melainkan milik warga Nagari Guguak sendiri. Setelah peristiwa longsor maut ini terjadi, seluruh aktivitas tambang di kawasan itu langsung dihentikan total. “Begitu kejadian ini terjadi, semua kegiatan penambangan langsung berhenti dengan sendirinya,” katanya.
Lalu, bagaimana nasib mata pencarian warga ke depannya? Ketika ditanya mengenai hal tersebut, Zainal hanya bisa menghela napas panjang. Aktivitas dompeng memang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat setempat selama ini. “Memang itu mata pencarian utama masyarakat sekarang. Mau apa dikata? Tidak ada pekerjaan lain yang bisa langsung memberi penghasilan seperti ini,” ujarnya pasrah.
Konfirmasi Buntu dan Ironi Laporan: Dari Kapolres hingga BPBD
Hingga Kamis malam, tim redaksi telah berulang kali berupaya menghubungi Kapolres Sijunjung, Willian Harbensyah, dan Kapolsek Koto VII, Anes. Tujuannya untuk meminta konfirmasi resmi terkait penanganan kasus penambangan ilegal yang merenggut sembilan nyawa ini. Namun, sayangnya, belum ada tanggapan sedikit pun dari kedua pejabat tersebut.
Upaya serupa juga dilayangkan kepada Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir. Redaksi dengan sabar menunggu balasan hingga pukul 22.00 WIB. Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan, belum ada balasan atau konfirmasi dari pihak bupati. Kondisi ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat.
Sebagai informasi, berikut sembilan nama korban meninggal dunia yang telah diidentifikasi: Ujang Kandar (40), Haris (23), Atan (20), Baim (17), Acai (43), Marsel Buyuik (23), Ditol (40), Madi (24), dan Diok (22). Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Sijunjung, Satria Zali, memberikan keterangan yang cukup mengejutkan. Pihaknya mengaku tidak menerima laporan resmi sama sekali terkait kejadian longsor tersebut. “Kepada kami di BPBD Sijunjung, tidak ada laporan langsung dari masyarakat atau pihak mana pun. Kami hanya melihat informasi ini via grup WhatsApp saja,” kata Satria dengan nada heran.
Lebih lanjut, Satria menyebut bahwa kejadian tambang emas ilegal memang jarang dilaporkan masyarakat kepada pemerintah daerah. Hal ini mungkin karena aktivitas tersebut ilegal sehingga warga enggan melapor. Akibatnya, penanganan kebencanaan seringkali terhambat karena minimnya informasi yang masuk ke otoritas resmi. Ironis, bukan?
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
