MADRID, Exposenews.id – Pemerintah regional Kepulauan Canary, Spanyol, secara mengejutkan menolak rencana kedatangan kapal pesiar mewah MV Hondius yang saat ini sedang dilanda wabah hantavirus. Penolakan mendadak ini langsung memicu ketegangan dengan pemerintah pusat Spanyol yang sebelumnya sudah menyatakan bahwa kapal tersebut dapat diterima berdasarkan alasan kemanusiaan dan hukum internasional.
Presiden Wilayah Kepulauan Canary, Fernando Clavijo, dengan tegas mengumumkan bahwa pihaknya tidak akan pernah menyetujui rencana kapal tersebut untuk berlabuh di wilayahnya. Menurut pandangannya, keputusan pemerintah pusat sama sekali tidak didasarkan pada pertimbangan teknis yang memadai. Kemudian, Clavijo pun langsung mengambil sikap frontal untuk melindungi warganya.
Ketika berbincang dengan radio COPE pada Rabu (6/5/2026), Clavijo menyampaikan kritik pedasnya. “Pemerintah pusat mengambil keputusan tanpa kriteria teknis apa pun. Selain itu, mereka juga belum memberikan informasi yang cukup untuk meyakinkan masyarakat atau menjamin keselamatan warga kami,” ujarnya dengan nada kecewa. Oleh karena itu, ia segera meminta pertemuan mendesak dengan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, guna membahas situasi genting ini.
Lebih tegas lagi, Clavijo pun mengeluarkan pernyataan yang membuat publik terkejut. “Kami akan melakukan segala cara untuk mencegah kapal ini datang ke Kepulauan Canary,” ancamnya kepada media. Di sisi lain, seperti dikutip dari Xinhua, ia juga menolak keras setiap kemungkinan kapal tersebut bersandar di pelabuhan wilayahnya. “Saya tidak dapat membiarkannya masuk ke Kepulauan Canary,” tegasnya sambil menolak risiko yang menurutnya dapat membahayakan keselamatan warga setempat.
Mengapa Harus ke Canary? Clavijo Mempertanyakan Logika Pemerintah Pusat
Setelah menolak kedatangan kapal, Clavijo kemudian mempertanyakan logika di balik keputusan kontroversial untuk memindahkan kapal ke Kepulauan Canary. Sebagai perbandingan, ia mengungkapkan bahwa prosedur alternatif sebelumnya justru jauh lebih masuk akal, yakni mengevakuasi pasien melalui udara dan memulangkan penumpang lainnya ke negara asal kapal.
Dengan nada heran, Clavijo pun melontarkan pertanyaan retoris yang sulit dijawab oleh pemerintah pusat. “Mengapa para penumpang harus menempuh perjalanan laut selama tiga hari ke Kepulauan Canary untuk melakukan hal yang sama yang bisa dilakukan di Tanjung Verde?” tanyanya sinis. Sayangnya, hingga kini pemerintah Spanyol belum memberikan tanggapan tambahan atas penolakan keras tersebut.
Rencana Kapal Bersandar yang Memicu Perang Saudara Politik
Sementara itu, pemerintah pusat Spanyol melalui Kementerian Kesehatan sebelumnya dengan percaya diri menyatakan bahwa kapal tersebut tetap akan diterima di Kepulauan Canary, khususnya di Tenerife. Pemerintah pusat menggunakan alasan kewajiban moral dan hukum internasional sebagai dasar keputusan mereka. Menurut laporan TIME, Kementerian Kesehatan Spanyol pun mengeluarkan pernyataan resmi yang cukup heroik.
“Spanyol memiliki kewajiban moral dan hukum untuk membantu orang-orang ini. Sebagai informasi, di antara mereka juga terdapat beberapa warga negara Spanyol. Nantinya, awak dan penumpang akan kami periksa, rawat, dan pindahkan ke negara asal mereka,” demikian bunyi pernyataan kementerian tersebut. Namun, Clavijo langsung menolak keputusan itu karena sangat berbeda dari hasil pembahasan teknis sebelumnya dengan otoritas kesehatan regional. Sebelumnya, mereka sempat menyepakati bahwa kapal tidak akan diarahkan ke Kepulauan Canary.
Kondisi Kapal MV Hondius: Mimpi Liburan Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Kapal pesiar mewah berbendera Belanda, MV Hondius, saat ini diketahui sedang terombang-ambing di perairan sekitar Tanjung Verde. Sebelumnya, negara tersebut juga sudah lebih dulu menolak kapal ini bersandar akibat wabah mematikan di dalam kapal. Berdasarkan laporan mengerikan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat beberapa kasus hantavirus di kapal tersebut, bahkan korban jiwa pun sudah terkonfirmasi. Selain itu, WHO juga menyebut adanya investigasi terkait kemungkinan penularan antar manusia dari varian Andes, yang tergolong sangat jarang terjadi.
Perlu diketahui bersama, WHO menjelaskan bahwa penularan hantavirus umumnya terjadi melalui kontak dengan tikus atau cairan tubuhnya, seperti urine dan kotoran. Dalam kondisi tertentu, virus mematikan ini juga dapat menular melalui gigitan atau cakaran hewan pengerat. Oleh karena itu, tidak heran jika ketakutan melanda seluruh penumpang dan awak kapal.
Proses Evakuasi Pasien yang Mendebarkan
Beberapa penumpang yang diduga terinfeksi pun akhirnya berhasil dievakuasi dari kapal di wilayah Tanjung Verde. Prosedur medis super ketat dengan perlindungan hazmat total diterapkan dalam proses evakuasi tersebut. Menurut sumber WHO, pasien-pasien tersebut kemudian langsung diterbangkan ke Belanda untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sementara itu, WHO juga menyebut total kasus berkisar antara beberapa orang yang terinfeksi dengan sejumlah kematian yang telah terjadi di atas kapal.
Bahkan, laporan TIME menyebutkan angka yang lebih mengerikan. Konon, terdapat hingga delapan kasus infeksi dengan tiga kematian. Lebih menakutkan lagi, satu kasus tambahan terdeteksi pada seorang penumpang yang tidak berada di kapal tetapi pernah melakukan kontak perjalanan dengan kasus terinfeksi. Sebagai informasi tambahan, Kementerian Luar Negeri Belanda juga telah mengonfirmasi identitas beberapa pasien yang dievakuasi, termasuk warga negara Inggris, Belanda, dan Jerman.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
