Exposenews.id – Drama pahit mewarnai uji coba perdana Real Madrid di hadapan publik musim ini. Alih-alih merayakan kemenangan manis, skuad besutan Jose Mourinho justru harus menelan pil pahit setelah keunggulan dua gol yang mereka bangun dengan perkasa sirna sia-sia melawan Fiorentina dalam laga pramusim terbuka di Sportpark Klagenfurt, Austria, pada Sabtu (1/8/2026) lalu.
Padahal, laga ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh para Madridista untuk menyaksikan langsung performa tim kebanggaan mereka di bawah asuhan The Special One pada periode keduanya. Namun, yang tersaji di lapangan justru menjadi pengingat pahit bahwa pekerjaan rumah masih sangat banyak menanti sang pelatih asal Portugal tersebut.
Perlu diketahui, sebenarnya ini bukanlah pertandingan perdana Real Madrid di bawah komando Mourinho. Sebelumnya, tim berjuluk Los Blancos ini telah menjalani dua laga uji coba tertutup di kompleks latihan Valdebebas pada akhir Juli lalu, dan sukses meraih kemenangan meyakinkan atas Alcorcon dengan skor 1-0 serta menghancurkan Leganes 4-1. Namun, performa impresif di balik pintu tertutup itu ternyata tidak sepenuhnya terbawa saat mereka tampil di hadapan ribuan pasang mata yang penuh harap.
Awal Mengerikan yang Menjanjikan
Laga dimulai dengan tempo tinggi yang langsung membuat pendukung Real Madrid bersorak gembira. Los Blancos tampil sangat dominan sejak peluit pembuka dibunyikan. Penguasaan bola yang apik dan pergerakan tanpa bola yang dinamis membuat lini pertahanan Fiorentina kewalahan menghadapi gempuran pasukan Mourinho.
Keunggulan pertama akhirnya tercipta pada menit ke-12 melalui aksi brilian Endrick. Penyerang muda asal Brasil ini menunjukkan kualitas individunya yang luar biasa dengan melepaskan tembakan menyilang menggunakan kaki kirinya yang melengkung indah ke pojok gawang David de Gea. Gol ini tercipta berkat umpan terukur dari Alvaro Carreras yang berhasil membelah pertahanan lawan. Performa gemilang Endrick ini tentu menjadi angin segar bagi para pendukung, mengingat sang pemain baru saja menyelesaikan masa peminjamannya di Lyon musim lalu dan kembali dengan membawa banyak pengalaman berharga.
Tak berselang lama, tepatnya pada menit ke-24, keunggulan Real Madrid semakin kokoh setelah Alexis Ciria, pemain jebolan akademi La Fabrica, berhasil mencatatkan namanya di papan skor. Memanfaatkan umpan matang dari Eduardo Camavinga, Ciria dengan tenang menyelesaikan peluang menjadi gol dan membuat skor berubah menjadi 2-0. Stadion Sportpark Klagenfurt pun bergemuruh, para pendukung mulai bermimpi akan pesta gol yang mungkin akan tercipta pada malam itu.
Namun, euforia tersebut harus sirna lebih cepat dari yang diharapkan. Menjelang turun minum, tepatnya pada menit ke-41, Fiorentina berhasil memperkecil ketertinggalan melalui tendangan keras Roberto Piccoli. Gol ini berawal dari pergerakan apik Alex Jimenez yang berhasil menembus sisi kanan pertahanan Real Madrid sebelum melepaskan umpan silang yang disambar dengan sempurna oleh Piccoli. Skor 2-1 menutup babak pertama, dan tanda bahaya mulai terlihat di mata Mourinho.
Babak Kedua yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Memasuki babak kedua, situasi di lapangan berubah drastis. Fabio Grosso, pelatih Fiorentina, mengambil keputusan cerdas dengan memasukkan dua pemain kunci sekaligus, yaitu Moise Kean dan Nicolo Fagioli. Keputusan ini terbukti menjadi titik balik yang mengubah seluruh jalannya pertandingan. Kedua pemain ini seolah menjadi duri dalam daging bagi pertahanan Real Madrid yang mulai kehilangan ritme permainan.
Kejutan besar terjadi hanya satu menit setelah kedua pemain tersebut masuk lapangan. Pada menit ke-58, Moise Kean berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui sundulan keras yang terarah, memanfaatkan umpan silang sempurna dari Fagioli yang baru saja masuk. Jaringan gawang Real Madrid yang dijaga kiper muda kembali bergetar, dan kali ini tidak ada yang bisa menghalangi gol tersebut.
Setelah gol penyeimbang tercipta, permainan Fiorentina semakin percaya diri. Mereka mulai mendominasi penguasaan bola dan terus menekan pertahanan Real Madrid yang didominasi oleh pemain-pemain muda. Sementara itu, Los Blancos justru terlihat kehilangan kreativitas di lini tengah dan kesulitan membangun serangan balik yang efektif. Beberapa peluang emas sempat tercipta dari kedua kubu, namun tidak ada gol tambahan yang tercipta hingga peluit panjang dibunyikan. Skor 2-2 bertahan hingga akhir pertandingan.
Kekecewaan Mendalam Mourinho dan Evaluasi Keras
Kegagalan mempertahankan keunggulan dua gol jelas membuat Mourinho tampak sangat kecewa di sepanjang pertandingan berlangsung. Ekspresi wajahnya yang tegang dan gerak-geriknya di pinggir lapangan menjadi pemandangan yang tidak asing lagi bagi para penggemar sepak bola. Bahkan, saat jeda minum, pelatih berusia 63 tahun itu terlihat memberikan arahan yang sangat mendalam dan intens kepada seluruh pemainnya, seolah ingin membakar semangat juang mereka yang mulai meredup.
Usai pertandingan, Mourinho tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dalam wawancaranya dengan situs resmi klub, ia mengungkapkan analisis tajamnya mengenai penampilan timnya. Ia dengan tegas menyatakan bahwa timnya tidak hanya menunjukkan dua kondisi permainan yang berbeda, melainkan tiga kondisi yang sangat kontras.
“Di telepon, saya melihat banyak yang berkomentar tentang ‘Madrid dengan dua wajah.’ Namun, ternyata malam ini Madrid memiliki tiga wajah yang berbeda: segar, lelah, dan sangat lelah,” ujar Mourinho dengan nada tegas.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pada babak pertama, tim yang segar bermain sangat baik dan seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol. “Kualitas permainan di babak pertama sangat tinggi. Kami mendominasi lapangan, menciptakan banyak peluang, dan sejujurnya kami bisa saja unggul tiga atau empat gol tanpa kesulitan berarti,” tegasnya.
Namun, menurutnya, babak kedua adalah cerita yang sama sekali berbeda. “Di babak kedua, permainan menjadi lebih berat dan lebih mengandalkan fisik. Kami berhadapan dengan tim Italia yang khas dengan kondisi fisik yang hebat. Mereka mulai memberikan tekanan tinggi sejak awal babak kedua, dan wajah kedua tim mulai terlihat, yaitu kelelahan,” jelas Mourinho.
Salah satu sorotan utama Mourinho adalah duel fisik antara lini belakang Real Madrid yang didominasi pemain muda melawan penyerang senior Fiorentina. “Setelah itu, kami melihat Moise Kean bergerak bebas di area penalti dan berduel dengan dua pemain bertahan kami yang masih berusia 18 tahun. Joan Martinez dan Mario Rivas memang bermain bagus dan terus berkembang, tetapi secara fisik mereka belum berada di level yang sama untuk menghadapi monster seperti Moise Kean, yang merupakan pemain fantastis dengan pengalaman dan fisik mumpuni,” ungkapnya.
Meskipun kecewa, Mourinho juga melihat sisi positif dari laga ini. Ia menyebut bahwa pada saat-saat akhir pertandingan, timnya menunjukkan “wajah ketiga,” yaitu wajah yang sangat lelah tetapi tetap mampu bertahan sebagai sebuah tim untuk mengendalikan permainan dan merebut kembali dominasi. “Saya suka melihat mereka bertahan dan tetap berjuang sebagai sebuah tim. Itu adalah karakter yang tidak bisa diajarkan, itu adalah naluri juara,” pujinya.
Di akhir pernyataannya, Mourinho kembali menegaskan filosofi besarnya tentang klub raksasa Spanyol tersebut. “Seperti yang saya katakan kepada para pemain sebelum pertandingan, Real Madrid tetaplah Real Madrid. Baik itu pertandingan persahabatan, uji coba, atau bahkan sesi latihan sekalipun, kita harus selalu bermain untuk meraih kemenangan. Kita harus berupaya untuk terus berkembang setiap hari, tetapi kita juga harus meraih hasil untuk menghormati sejarah besar klub ini,” pungkas Mourinho dengan penuh tekad.
Hasil imbang ini tentu menjadi cambuk bagi Mourinho dan para pemainnya untuk segera membenahi berbagai kelemahan yang terpapar dalam laga tersebut. Dengan waktu yang masih tersisa sebelum musim kompetisi 2026-2027 resmi bergulir, pekerjaan rumah masih sangat banyak menanti The Special One untuk mengembalikan kejayaan Real Madrid ke jalur yang semestinya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
