JAKARTA, Exposenews.id – Dunia MotoGP mendadak heboh! Pedro Acosta, bintang muda yang sedang naik daun, secara mengejutkan mengumumkan keputusannya untuk mengakhiri petualangan bersama KTM dan memilih bergabung dengan Ducati mulai MotoGP 2027. Pembalap Spanyol berjuluk “The Shark” itu dengan terus terang mengungkapkan alasannya yang mengagetkan: ia tidak mau lagi membuang waktu berharga hanya untuk menunggu KTM menyediakan motor yang benar-benar mampu merebut gelar juara dunia. Baginya, kesabaran sudah habis!
Acosta sejatinya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar KTM sejak akhir tahun 2020. Saat itu, ia berhasil menjuarai Red Bull Rookies Cup dan langsung menarik perhatian pabrikan asal Austria tersebut. Sejak bergabung, karirnya melesat bak roket! Ia berhasil menyabet gelar juara dunia Moto3, kemudian melanjutkan dominasinya di Moto2, hingga akhirnya mendapat promosi ke kelas premier MotoGP bersama tim satelit Tech3 pada tahun 2024. Luar biasa, bukan?
Penampilan perdananya di MotoGP langsung mencuri perhatian seluruh pecinta balap. Meski masih berstatus rookie, Acosta tampil begitu impresif dan berhasil mengakhiri musim MotoGP 2025 di posisi keempat klasemen akhir. Prestasi gemilang ini menjadi tiket emas baginya untuk naik kelas ke tim pabrikan KTM pada musim berikutnya. Namun, siapa sangka, begitu resmi menjadi pembalap utama KTM, ia justru mengambil keputusan mengejutkan untuk hengkang.
Alih-alih melanjutkan karir di tim yang sudah membesarkan namanya, Acosta memilih menerima tawaran menggiurkan dari Ducati. Keputusannya ini menjadi buah bibir hangat di paddock karena ia akan menjadi rekan setim Marc Marquez, sang legenda hidup, pada era baru MotoGP dengan mesin 850 cc yang bakal bergulir mulai 2027. Bayangkan, duet maut ini pasti akan mengguncang persaingan!
“Sudah Cukup! Saya Ingin Motor Juara, Bukan Janji Manis!”
Meskipun mengaku memiliki hubungan harmonis dengan manajemen KTM, Acosta mengakui bahwa ia sudah tidak bisa terus-menerus bersabar menantikan evolusi motor RC16 yang terasa lambat. Baginya, sejak awal menandatangani kontrak dengan tim pabrikan, fokus utamanya sangat jelas: menginginkan motor yang benar-benar kompetitif untuk memburu gelar juara dunia, bukan sekadar motor yang mampu finis di posisi tengah.
“Hal-hal seperti ini memang terjadi dalam dunia balap,” ujar Acosta dengan nada tegas saat diwawancarai Motorsport pada Selasa (28/7/2026). “Saya sudah menyampaikan dari awal, ketika meneken kontrak dengan tim pabrikan, satu-satunya keinginan saya adalah mendapatkan motor untuk menjadi juara dunia. Namun, kenyataannya, motor itu tak kunjung datang,” keluhnya dengan sedikit kekecewaan terpendam.
Lebih lanjut, Acosta menjelaskan bahwa tawaran dari Ducati datang di momen yang sangat tepat dan ia merasa tidak punya alasan untuk menolaknya. “Sejujurnya, saya merasa sudah tidak punya banyak waktu untuk disia-siakan. KTM telah memberikan saya banyak pengalaman berharga, tetapi saya juga merasakan bahwa (pindah ke Ducati) adalah tantangan baru yang sangat saya butuhkan untuk melonjakkan karir saya ke level berikutnya,” pungkasnya penuh keyakinan.
KTM Masih Tertinggal Jauh, Ducati Terus Berjaya!
Tak bisa dipungkiri, dalam beberapa musim terakhir, KTM memang menunjukkan tren positif. Motor RC16 mereka kini terbilang lebih kompetitif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama dalam hal kemampuan menjaga performa ban agar tetap konsisten sepanjang balapan. Namun, sayangnya, peningkatan itu masih jauh dari cukup untuk menyaingi kehebatan Ducati GP26 dan Aprilia RS-GP. Baik dari segi catatan waktu putaran tunggal maupun kecepatan saat balapan berlangsung, KTM masih tertinggal satu atau dua langkah di belakang rival-rival utamanya.
Fakta pahit ini tercermin jelas dari pencapaian Acosta sepanjang karirnya di KTM. Meskipun ia diakui sebagai salah satu pembalap paling konsisten dan berbakat di grid MotoGP, torehan kemenangan grand prix masih menjadi mimpi yang belum terwujud. Ia belum sekalipun berdiri di podium tertinggi. Bahkan, secara kolektif, KTM sendiri sudah sangat lama tidak merasakan kemenangan di balapan utama MotoGP. Rekor kemenangan terakhir mereka tercatat atas nama Miguel Oliveira yang berhasil menjadi juara di MotoGP Thailand 2022, itupun terjadi dalam kondisi trek basah yang penuh drama.
Di sisi lain, situasi sangat kontras terlihat di kubu Ducati. Pabrikan asal Italia itu sedang dalam masa keemasan! Mereka berhasil mendominasi MotoGP dengan menyapu bersih gelar juara dunia pembalap selama empat musim berturut-turut. Meskipun musim ini mereka mulai mendapat perlawanan sengit dari Aprilia, reputasi Ducati sebagai pembuat motor terbaik di grid masih belum tergoyahkan. Hal inilah yang tampaknya menjadi daya tarik utama bagi Acosta untuk segera berlabuh.
Keputusan Acosta Bikin KTM Pusing Tujuh Keliling!
Kepergian mendadak Acosta tentu menjadi pukulan telak bagi KTM. Pabrikan Austria itu kini harus merombak total rencana jangka panjang mereka. Selama ini, proyek MotoGP KTM memang dibangun dengan menempatkan Acosta sebagai fondasi utama dan pembalap masa depan mereka. Semua strategi pengembangan motor dan tim difokuskan untuk membuatnya nyaman dan cepat. Kini, dengan hengkangnya Acosta, semua rencana itu buyar seketika.
Kontribusi Acosta selama musim lalu juga sangat signifikan. Ia berhasil mengumpulkan poin dua kali lebih banyak dibandingkan rekan setimnya, Brad Binder. Hal ini menunjukkan betapa vitalnya peran Acosta dalam mendongkrak performa tim. Kehilangan pembalap sekaliber Acosta tentu akan menyisakan lubang besar yang tidak mudah ditambal.
Namun, meskipun memilih pergi, Acosta tetap memberikan angin segar bagi mantan timnya. Ia menilai KTM masih memiliki peluang cerah untuk bersaing di MotoGP 2027, terutama dengan kehadiran dua pembalap anyar yang tak kalah berkualitas. “Mereka mendapatkan juara dunia ini, Alex Marquez, dan juga seorang pembalap yang saat ini menjadi andalan kedua Ducati, yaitu Fabio Di Giannantonio,” ujar Acosta. “Menurut saya, mereka memiliki kartu-kartu bagus yang siap dimainkan untuk musim depan. Saya yakin mereka akan tetap kompetitif,” tutupnya sembari memberikan semangat kepada mantan koleganya.
Satu hal yang pasti, perpindahan Acosta ke Ducati akan menjadi salah satu narasi terbesar dalam sejarah MotoGP modern. Akankah ia langsung tancap gas dan meraih gelar juara? Atau justru KTM yang bangkit dan membuktikan bahwa mereka tidak membutuhkannya? Kita saksikan bersama!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
