Berita  

Lebih dari 6 Juta Orang Tandatangani Petisi agar Argentina Dikeluarkan dari Piala Dunia 2026

WASHINGTON DC, Exposenews.id — Dunia sepakbola sedang diguncang badai protes yang belum pernah terjadi sebelumnya! Lebih dari enam juta jiwa dengan bulat menandatangani petisi online yang dengan tegas menuntut agar Argentina segera diusir dari gelaran Piala Dunia 2026. Bayangkan, jumlah pendukung yang luar biasa besar ini terus bertambah setiap detiknya, menunjukkan betapa publik benar-benar marah dengan dugaan ketidakadilan yang terjadi di lapangan hijau.

Petisi menggemparkan ini muncul ke permukaan setelah berbagai pihak dengan lantang menuduh bahwa Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) beserta jajaran wasit telah memberikan perlakuan istimewa yang sangat mencolok kepada juara bertahan sekaligus kapten legendaris mereka, Lionel Messi. Tuduhan berat ini sontak menjadi bahan perbincangan panas di berbagai penjuru dunia, terutama setelah laga kontroversial antara Argentina dan Mesir di babak 16 besar yang menyisakan banyak pertanyaan dan kekecewaan mendalam.

Petisi Mendadak Viral, Tuntutan Dikeluarkan dengan Lantang

Petisi berani yang diunggah melalui situs resmi argentinaout.com dengan cepat menjelma menjadi fenomena viral yang tak terbendung. Ribuan bahkan jutaan orang berbondong-bondong memberikan dukungan mereka setelah seruan untuk mendiskualifikasi Argentina dari Piala Dunia yang sedang berlangsung meriah di Amerika Utara ini tersebar luas. Setiap orang yang menandatangani petisi tersebut dengan tegas menyuarakan keprihatinan mereka terhadap integritas turnamen sepakbola paling bergengsi di dunia.

Dalam pernyataan resmi yang tertuang di petisi tersebut, tertulis jelas bahwa FIFA dan para pengadil lapangan dianggap terang-terangan memihak kepada Messi dan kawan-kawan. Akibatnya, hasil akhir turnamen dinilai sudah ditentukan sejak awal tanpa memberi ruang bagi kejutan dan kerja keras tim lain. “Usir Argentina dari Piala Dunia dan berikan kesempatan yang benar-benar adil bagi negara-negara lain yang juga bermimpi meraih kejayaan,” demikian bunyi tegas petisi yang dikutip dari South China Morning Post pada Selasa (14/7/2026).

Yang mengejutkan, hingga saat ini petisi kontroversial tersebut telah berhasil mengumpulkan lebih dari enam juta tanda tangan dari berbagai belahan dunia! Jumlah fantastis ini menunjukkan betapa luasnya kekecewaan publik terhadap kepemimpinan FIFA dan sistem perwasitan yang dianggap cacat.

Awal Mula Badai Protes, Berawal dari Laga Sengit Lawan Mesir

Gelombang protes dahsyat ini sebenarnya bermula dari pertandingan dramatis saat Argentina berhasil membalikkan keadaan yang hampir mustahil melawan Mesir di babak 16 besar. Pada momen itu, Albiceleste sempat tertinggal jauh 0-2 dan berada di ambang kekalahan memalukan. Namun secara mengejutkan, mereka kemudian mencetak tiga gol dalam waktu hanya 13 menit terakhir pertandingan untuk memastikan tiket emas ke perempat final. Bahkan Lionel Messi sendiri sempat gagal mengeksekusi penalti krusial pada babak pertama yang seharusnya menjadi peluang emas bagi Argentina.

Tim nasional Mesir dengan keras menilai bahwa kemenangan Argentina diwarnai oleh serangkaian keputusan wasit yang sangat merugikan mereka. Salah satu gol Mesir yang sah harus dianulir setelah melalui proses tinjauan Video Assistant Referee (VAR) yang dinilai kontroversial, karena dianggap diawali dengan pelanggaran yang sebenarnya tidak jelas. Lebih parah lagi, gol penentu kemenangan Argentina tetap disahkan meskipun kubu Mesir dengan gigih menganggap bahwa terjadi pelanggaran berat terhadap bintang mereka, Mohamed Salah, dalam proses terjadinya gol tersebut.

Tim nasional Mesir berpendapat bahwa insiden fatal ini seharusnya segera ditinjau kembali melalui VAR. Jika pelanggaran terbukti terjadi, maka gol Argentina mestinya dengan tegas dianulir dan Mesir seharusnya memperoleh hadiah penalti yang sangat berharga. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, melontarkan kritik pedas dan keras seusai pertandingan dengan menuding bahwa laga tersebut telah diatur secara sistematis demi menjaga Argentina tetap bertahan di turnamen.

Menurut Hassan, FIFA dengan sengaja ingin mempertahankan Messi sebagai bintang utama di Piala Dunia demi kepentingan komersial dan popularitas. Ia juga dengan tegas menilai bahwa slogan mulia “Fair Play” yang selalu diusung FIFA sama sekali tidak tercermin dalam pertandingan tersebut. Hassan meyakini bahwa hasil laga akan sangat berbeda jika semua kesalahan fatal itu tidak terjadi dan keadilan benar-benar ditegakkan di atas lapangan.

Scaloni Bantah Keras, Sebut Tuduhan Tidak Berdasar

Menjelang laga krusial perempat final, pelatih Argentina Lionel Scaloni dengan tegas menepis seluruh tuduhan miring tersebut. Ia mengatakan bahwa tudingan bahwa Argentina mendapat perlakuan khusus sebenarnya sudah lama muncul, bahkan sejak era kejayaan Piala Dunia 1986 silam. Scaloni menjelaskan dengan logis bahwa di era modern yang dipenuhi VAR dan berbagai teknologi pendukung pertandingan canggih saat ini, hampir mustahil untuk membantu satu tim secara sengaja tanpa terdeteksi.

Scaloni menegaskan bahwa setiap keputusan seperti pelanggaran memiliki dasar yang jelas dan terukur. Sebagai contoh konkret, jika seorang pemain dengan sengaja menginjak kaki Lisandro Martinez dan pelanggaran itu memicu terjadinya gol, maka gol tersebut akan dengan tegas dianulir sesuai aturan tanpa memberi ruang untuk penafsiran berbeda dari siapa pun. Ia juga menilai bahwa media sosial saat ini membuat setiap keputusan pertandingan dengan cepat menjadi kontroversi besar yang meluas.

Meskipun demikian, Scaloni dengan tegas menegaskan bahwa tidak ada keberpihakan sama sekali kepada Argentina. “Sebaliknya, saat ini sangat sulit membantu siapa pun. Mungkin bertahun-tahun lalu hal seperti itu bisa saja terjadi, saya tidak tahu. Tetapi sekarang hampir mustahil,” ujar Scaloni dengan nada yakin. Ia berharap publik dapat melihat fakta secara objektif dan tidak terpengaruh oleh opini-opini yang tidak bertanggung jawab di media sosial.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com