Exposenews.id – Air mata panas membasahi pipi Breel Embolo. Bukan karena kebahagiaan, melainkan karena kekecewaan yang menghujam sangat dalam. Penyerang Timnas Swiss itu tak kuasa menahan tangisnya di pinggir lapangan Stadion Kansas City setelah menjadi “korban” regulasi kontroversial FIFA di laga sengit perempatfinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina, pada Sabtu (11/7/2026) malam waktu setempat atau Minggu pagi WIB. Sebuah insiden tunggal berhasil mengubah jalannya pertandingan, sekaligus menghancurkan mimpi Swiss untuk melangkah lebih jauh di turnamen paling bergengsi dunia.
Pertandingan yang digelar di Stadion Kansas City, Missouri, Amerika Serikat, itu sejatinya berjalan dengan ketat dan penuh drama. Anak asuh Murat Yakin berhasil memberikan perlawanan sengit kepada La Albiceleste, julukan Timnas Argentina. Bahkan, skor sempat imbang 1-1 hingga menjelang babak kedua, membuat para penggemar sepak bola di seluruh dunia terpaku menyaksikan duel sengit ini. Namun, sebuah keputusan kontroversial dari wasit Joao Pedro Silva Pinheiro mengubah segalanya, memaksa Swiss harus mengakhiri pertandingan dengan 10 pemain dan akhirnya takluk dengan skor akhir 3-1 untuk keunggulan Argentina. Hasil ini sekaligus memastikan langkah Lionel Messi dkk. melenggang mulus ke babak semifinal, di mana mereka sudah menunggu lawan berat, Timnas Inggris, yang sebelumnya berhasil mengalahkan Norwegia dengan skor tipis 2-1.
Kronologi Menyedihkan di Balik Kartu Merah
Mari kita telusuri kembali kejadian nahas yang menimpa Embolo. Insiden bermula ketika kedudukan masih tetap imbang 1-1, sebuah momen krusial yang sangat menentukan bagi kedua tim. Saat itu, Embolo sedang berusaha menggiring bola di area pertahanan Argentina, namun tiba-tiba ia terjatuh sebelum terjadi kontak fisik yang jelas dengan gelandang Argentina, Leandro Paredes. Melihat kejadian itu, wasit Joao Pedro Silva Pinheiro dengan cepat mengeluarkan kartu kuning untuk Paredes, menganggap bahwa pemain Argentina tersebut telah melakukan pelanggaran. Namun, keputusan cepat ini ternyata belum menjadi babak akhir.
Teknologi VAR (Video Assistant Referee) kemudian turun tangan, mengundang wasit untuk meninjau ulang tayangan insiden tersebut di pinggir lapangan. Setelah menyaksikan rekaman dari berbagai sudut pandang, Pinheiro mengambil keputusan yang sangat kontroversial dan mengejutkan semua pihak. Ia membatalkan kartu kuning untuk Paredes dan malah mengganjar Embolo dengan kartu kuning kedua yang otomatis berbuah kartu merah! Wasit menilai bahwa Embolo sengaja menjatuhkan diri sendiri atau melakukan simulasi/diving untuk mengelabui wasit. Sebuah keputusan yang terasa sangat kejam bagi pemain Swiss tersebut.
Dalam pernyataannya di Stadion Kansas City, Pinheiro menjelaskan dasar keputusannya, “Setelah ditinjau, tidak ada pelanggaran untuk pemain nomor 5 (Paredes), dan nomor 7 (Embolo) melakukan simulasi yang jelas. Keputusan akhir, kartu kuning untuk nomor 7 (Embolo).” Penjelasan ini mengacu pada aturan baru yang diterapkan FIFA di Piala Dunia 2026, yang mengatur tentang kesalahan identitas dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan aturan tersebut, VAR dianggap bisa mengintervensi jika wasit melakukan kesalahan identitas pemain yang seharusnya dihukum.
Setelah kartu merah melayang di hadapannya, Embolo tampak seperti kehilangan seluruh tenaganya. Wajahnya langsung memerah, matanya sembab, dan air mata mulai menetes tak terbendung. Ia sangat terpukul karena harus meninggalkan rekan-rekannya di lapangan di momen yang sangat krusial, saat timnya justru sedang membutuhkan tenaga ekstra. Di sisi lain, rekan setimnya, Denis Zakaria, berusaha mati-matian membela Embolo. Dengan nada tinggi dan penuh emosi, Zakaria berteriak kepada wasit memohon agar kartu tersebut dibatalkan. Bahkan, ia sempat terlihat mendekati wasit dengan gestur tubuh yang menunjukkan ketidakpuasan yang sangat mendalam. Namun, semua protesnya sia-sia. Keputusan sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Akhirnya, Zakaria dengan berat hati menarik Embolo keluar dari lapangan, meninggalkan tribun penonton yang terdiam dan para pemain Swiss yang tertunduk lesu.
Pelatih Swiss Meluapkan Amarah: Ini Aturan Gila!
Di bangku cadangan, pelatih kepala Timnas Swiss, Murat Yakin, terlihat sangat marah dan kecewa. Ia tidak bisa menerima intervensi teknologi yang menurutnya telah merusak jalannya pertandingan. Dalam wawancaranya dengan Reuters usai pertandingan, Yakin meluapkan seluruh kekesalannya dengan vokal. “Jelas tidak ada alasan untuk memberikan kartu kuning kepada Embolo. Itu situasi yang tidak berbahaya. Seharusnya dia membiarkan permainan berlanjut, bukan malah menghukum kami dengan kartu merah,” ujarnya dengan nada penuh penyesalan.
Lebih lanjut, Yakin mengkritik keras regulasi yang menjadi dasar keputusan wasit tersebut. “Kami dihukum karena aturan yang tidak dapat diterima. Saya benar-benar tidak mengerti keputusan ini. Fakta bahwa mereka (VAR) campur tangan tanpa perlu sangat menyakitkan. Itu adalah aturan gila yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola sejati. Aturan ini telah menghancurkan permainan kami hari ini. Kami harus menerimanya, tetapi sangat menyakitkan harus kalah dengan cara yang seperti ini,” keluhnya. Pelatih berusia 51 tahun itu merasa anak asuhnya telah dirampok haknya untuk bertarung secara adil di atas lapangan.
Gelandang Swiss Minta Penjelasan FIFA
Tak hanya pelatih, para pemain Swiss pun tak bisa menahan kekecewaannya. Gelandang andalan mereka, Remo Freuler, juga turut mempertanyakan keputusan wasit dan menuntut adanya penjelasan resmi dari FIFA. Di tengah kekalahan yang pahit, Freuler tetap menyampaikan kebanggaannya terhadap perjuangan timnya. “Saya sangat bangga dengan tim ini. Anda semua bisa melihat bahwa kami telah memberikan 100 persen kemampuan terbaik kami di lapangan malam ini,” ujar Freuler dengan nada tegas.
Namun, ia menegaskan bahwa keputusan VAR mengganjal pikirannya. “Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana VAR bisa membuat keputusan seperti itu. Ini sangat merugikan dan membingungkan. FIFA harus menjelaskan kepada kami semua tentang dasar aturan ini. Kami berhak mendapatkan kejelasan,” tuntutnya, mewakili rasa penasaran seluruh penggemar sepak bola yang menyaksikan kejadian ini.
Pelatih Beri Pembelaan untuk Embolo
Di sisi lain, Murat Yakin dengan tegas membela anak asuhnya, Breel Embolo, yang menjadi biang keladi kekalahan ini menurut sebagian pandangan. Yakin menegaskan bahwa Embolo sama sekali tidak pantas disalahkan atas insiden nahas tersebut. Ia menilai Embolo justru menjadi korban dari kesalahan wasit. “Dia (Embolo) dilanggar berkali-kali selama pertandingan dan dia menampilkan beberapa momen yang sangat bagus. Namun, setelah kartu merah itu, dia tidak bisa lagi membantu tim. Saya tidak akan pernah menyalahkannya. Jelas, dia sangat kecewa karena tidak bisa membantu timnya di saat-saat kritis. Itu adalah kesalahan wasit, bukan kesalahan Embolo,” kata Yakin, membela strikernya yang masih tertunduk lesu di ruang ganti.
Kebanggaan Tetap Menggema di Tengah Kekalahan
Meskipun pada akhirnya harus mengakui keunggulan Argentina dengan skor 3-1 melalui gol-gol tambahan dari Julian Alvarez dan Lautaro Martinez di masa injury time, Murat Yakin tetap memilih untuk melihat sisi positif dari perjalanan timnya di Piala Dunia 2026. Ia menyampaikan rasa bangganya yang mendalam terhadap perjuangan para pemainnya yang mampu melangkah lebih jauh daripada pencapaian dekade sebelumnya. “Saya sangat bangga, mereka juga sangat bangga. Kami sudah memberikan yang terbaik dan mencapai hasil yang luar biasa,” tutup Yakin dengan nada haru, mencoba menenangkan hati para pemain dan suporter Swiss yang kecewa. Namun, luka akibat keputusan kontroversial ini tampaknya akan membekas cukup lama di hati Breel Embolo dan seluruh tim Swiss.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
