PEKANBARU, Exposenews.id – Tiap satu kilo tandan buah segar (TBS) yang lo hasilkan keringat, duitnya malah mengalir deras ke kas negara? Nah, inilah yang saat ini tengah meradang di hati para petani kelapa sawit. Mereka komplain keras soal besarnya beban Bea Keluar (BK) dan Pungutan Ekspor (PE) untuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Menurut mereka, kebijakan ini ikut serta menekan harga TBS di tingkat bawah, alias kantong petani.
Akibatnya, petani cuma bisa gigit jari. Sementara negara, gila betul, duduk manis sambil ngepump uang dari keringet mereka. Wakil Ketua Umum DPP Samade (Sawitku Masa Depanku), Abdul Aziz, dengan gamblang mengungkapkan bahwa banyak petani yang bahkan tidak menyadari betapa besar kontribusi mereka ke negara. Iya, dari setiap kilogram TBS yang mereka hasilkan dengan susah payah, uangnya ikut terbang melalui skema BK dan PE.
Hitung-hitungan Kasar: Tiap Kilo Sawit, Segini Lho yang Masuk Negara!
Aziz kemudian membeberkan data yang bikin ngelus dada. Untuk periode Juni 2026 saja, angka BK dan PE tercatat mencapai USD 276,68 per metrik ton (MT). Kalau lo bayangkan, itu jumlah yang fantastis. Dan yang lebih mencengangkan, kebijakan ini sudah berlangsung lama, tepatnya sejak pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Sekarang lembaga itu bernama BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan), yang didasari oleh Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015.
Jadi, jangan heran kalau negara tampak sehat-sehat saja. Ada aliran dana rutin dari sektor sawit.
Negara Bisa Kantong Rp 1.000 per Kilogram TBS!
Lebih lanjut, Aziz membuat perhitungan yang bikin merinding. Menurut dia, jika kita konversikan kontribusi dari BK dan PE pada Mei 2026 kemarin ke dalam rupiah, maka pemerintah mendapatkan sekitar Rp 1.000 untuk setiap kilogram TBS yang diproduksi. Loh, kok segitu? Iya, segitu.
“Pada periode Mei 2026 saja misalnya, setelah saya konversi nilai rupiah ke dolar dari komponen BK dan PE, pemerintah mendapat sekitar Rp 1.000 per kilogram TBS,” ujar Aziz dengan nada geram saat ditemui di Pekanbaru, Senin (1/6/2026).
Dia kemudian menegaskan bahwa nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang diterima sebagian besar petani dari kebun mereka. Bayangkan, petani sudah keluar modal buat pupuk, ongkos angkut, dan tenaga. Mereka mengeluh keras karena sangat sulit mendapatkan untung bersih Rp 1.000 per kilogram TBS. Sementara negara, tanpa perlu nyemprot pestisida atau babat ilalang, langsung mengantongi angka yang sama.
“Sementara petani sawit yang jumpalitan mengurusi kebun kelapa sawitnya, sangat sulit mendapatkan untung Rp 1.000 per kilogram TBS,” tambahnya.
Dampaknya pun tidak berhenti di situ. Aziz dengan tegas menjelaskan bahwa efek buruk BK dan PE ini tidak hanya dirasakan oleh petani kecil. Para pelaku usaha lain yang produknya menjadi bagian dari rantai ekspor sawit pun ikut merasakan getahnya. Semua terasa tercekik.
Negara Makmur, Petani Sengsara? Keluhkan Minimnya Perhatian
Meskipun mereka merasa sudah berkontribusi sangat besar terhadap penerimaan negara, Aziz tetap menilai bahwa nasib petani sawit masih memprihatinkan. Mereka menghadapi berbagai persoalan rumit yang nyaris tidak mendapat perhatian memadai dari pemerintah.
Coba lo bayangkan, di satu sisi petani diwajibkan nyetor duit besar lewat BK dan PE. Tapi di sisi lain, pemerintah terkesan tutup mata dengan masalah klasik di lapangan. Aziz lalu memberikan beberapa contoh nyata. Dia menyebutkan betapa mahalnya harga pupuk dan pestisida saat ini. Belum lagi kondisi jalan produksi yang rusak parah, sementara para petani harus mengangkut hasil kebun. Sungguh ironis, bahkan tenaga penyuluh perkebunan sawit di lapangan pun jumlahnya minim.
“Meski petani banyak menyumbang, tapi mereka nyaris tak mendapat perhatian apa-apa dari pemerintah,” ungkap Aziz dengan nada kecewa.
Dia kemudian menyinggung anggapan sinis sebagian pihak yang sering mempertanyakan kontribusi petani sawit terhadap negara. Selama ini, banyak oknum pemerintah yang suka bertanya, “Kontribusi petani sawit apa sih?” Nah, Aziz menjawab tuntas pertanyaan itu.
“Selama ini kan oknum-oknum pemerintah sering bilang kontribusi petani sawit apa? Itulah kontribusinya! Selain pajak lain seperti PPH dan PPN, mereka sudah nyumbang besar lewat BK dan PE,” tegas Aziz.
Beban Berlipat Ganda, Petani Kerja Cuma Buat Bikin Negara Kaya?
Menurut Aziz, kebijakan BK dan PE ini secara langsung ikut serta memengaruhi harga TBS yang diterima petani. Dia lalu membuat analogi logis. Jika harga pokok produksi (HPP) TBS mencapai sekitar Rp 1.900 per kilogram, lalu di atasnya dibebani biaya BK dan PE sebesar Rp 1.000 per kilogram, maka total beban yang ditanggung petani secara tidak langsung mencapai Rp 2.900 per kilogram. Angka yang cukup membebani, bukan?
Berikut perbandingan sederhana beban petani:
Komponen Biaya per Kg Harga Pokok Produksi (HPP) Rp 1.900 Beban BK & PE Rp 1.000 Total Beban Rp 2.900
“Lalu, petani dapat apa? Petani tidak pernah punya pembukuan yang rapi, makanya mereka tidak sadar. Padahal sesungguhnya mereka hanya nyari duit buat negara,” pungkas Aziz dengan kesal.
Intinya, biaya produksi yang tinggi ditambah pungutan ekspor yang gede bikin petani kewalahan. Mereka bekerja keras tapi keuntungannya tergerus. Mirisnya, banyak petani yang bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang bekerja untuk memperkaya negara, bukan untuk memakmurkan keluarganya sendiri.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
