JAKARTA, Exposenews.id – Wah, ada kabar panas nih dari Jakarta Utara! Pengoperasian RDF Plant Rorotan sekarang nggak main-main lagi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta langsung menggandeng masyarakat setempat untuk menampung semua curhatan dan keluhan warga di lapangan.
Nah, siapa saja yang dilibatkan? Ternyata, para ketua RW dan tokoh masyarakat langsung duduk sebagai anggota Tim Kerja Pemantauan Kegiatan Pengoperasian RDF Plant Jakarta. Semua ini berdasarkan Keputusan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 18 Tahun 2026. Keren, kan?
Ajak Warga Ngobrol Santai, Aspirasi Jadi Bahan Bakar Evaluasi
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, dengan santai menjelaskan bahwa peran aktif warga dalam Tim Kerja sangatlah krusial. Mereka bisa memberikan masukan segar soal pengoperasian RDF Plant Rorotan.
Menurut Asep, setiap aspirasi yang keluar dari mulut warga akan langsung ia jadikan bahan bakar evaluasi. Tujuannya jelas, demi membuat fasilitas ini beroperasi semakin oke dan ramah di mata tetangga sekitar.
“Saya berharap Tim Kerja Pemantauan terus mengalirkan masukannya. Dengan begitu, pengelolaan fasilitas ini bisa kami benahi bersama. Kami juga mohon dukungan dan partisipasi aktif masyarakat,” ujar Asep dengan penuh semangat dalam rapat koordinasi pada Kamis (2/4/2025) lalu.
Rakor yang digelar oleh DLH Jakarta melalui Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) ini juga memberikan pemahaman mendalam kepada Tim Kerja. Mereka menjelaskan berbagai mitigasi yang sudah dilakukan, terutama untuk mengatasi masalah bau yang selama ini bikin pusing.
“Mitigasi bau kami lakukan sejak dini, bahkan dari proses pengangkutan sampah. Kami hanya mengizinkan truk kompaktor standar yang kedap bau. Selain itu, kami siapkan pos pemantauan atau check point ketat untuk memastikan semua truk yang masuk ke RDF Plant Rorotan memenuhi persyaratan,” tegas Asep.
Asep pun mengakui dengan rendah hati bahwa pengoperasian RDF Plant Rorotan masih punya banyak kekurangan. Namun, ia berjanji bahwa pihaknya terus berjibaku meningkatkan kinerja. Targetnya, fasilitas pengolahan sampah ini bisa berjalan mulus tanpa mengusik kenyamanan warga sekitar.
“Kami terus berupaya melakukan berbagai peningkatan. Semua ini untuk memangkas dampak lingkungan dan sosial. Berkat Tim Kerja, kami bisa menyerap aspirasi warga sebagai sumber evaluasi utama,” tambah Asep.
Kabar baiknya, berdasarkan laporan dari beberapa anggota Tim Kerja di berbagai wilayah sekitar RDF, bau yang dulu sering menyengat sekarang perlahan mulai berkurang. Pihak UPST pun terus melakukan perbaikan dan selalu mengomunikasikan perkembangannya dengan warga. Transparan banget, kan?
Bau Jadi Prioritas! DLH Pasang Teknologi Canggih dan Sensor di 8 Titik
Masalah bau memang menjadi prioritas utama mitigasi yang dikerjakan super ekstra oleh DLH Jakarta. Mereka sudah menambahkan teknologi kekinian seperti deodorizer, baghouse filter, dan Wet Electrostatic Precipitator untuk menekan potensi bau.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) DLH DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa, menjelaskan bahwa bau yang tercium kemungkinan besar berasal dari dua sumber: sampah yang belum terpilah dengan baik dan pengangkutan sampah yang nggak sesuai prosedur.
Masalah pengangkutan sampah kini sudah diatasi dengan mewajibkan truk kompaktor. Hasilnya, bau dan lindi (air sampah) nggak berceceran lagi di jalan. Untuk mengatasi kebauan itu sendiri, DLH Jakarta mengandalkan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang mampu memantau secara terus-menerus.
“Pemprov DKI Jakarta berkomitmen penuh menyiapkan sistem pengolahan sampah yang baik agar nggak bikin resah warga. Kami sudah melakukan pemantauan serius terkait seberapa tinggi sih kadar bau yang muncul,” kata Fitri dalam rakor tersebut.
Dalam pemantauannya, Bidang PPKL DLH DKI Jakarta berpedoman pada regulasi Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 50 Tahun 1996. Mereka memperhatikan lima parameter bau dengan ketat, lengkap dengan nilai ambang batasnya.
Kelima parameter itu adalah amoniak (ambang batas 2,0 ppm), metil merkaptan (0,002 ppm), hidrogen sulfida (0,02 ppm), metil sulfida (0,01 ppm), dan stirena (0,1 ppm). “Kelima parameter ini kami ukur menggunakan sensor pada SPKU yang tersebar di delapan titik sekitar RDF Plant Rorotan,” jelas Fitri.
Awas Bau Malam Hari! Ahli ITB Ungkap Fakta Ilmiah di Balik Konsentrasi Bau
Lebih lanjut, Fitri menjelaskan bahwa metode pengukuran bau standar sebenarnya cukup ribet. Metode ini membutuhkan pengambilan dan pengujian sampel yang memakan waktu minimal 24 jam. Penanganannya pun khusus agar sampel nggak terkontaminasi. Cara manual ini memang memakan banyak waktu dan nggak bisa dilakukan secara kontinyu.
“Makanya, Pemprov DKI Jakarta menerapkan strategi jitu agar pemantauan bisa berkelanjutan. Kami menggunakan alat ukur bau otomatis dengan sensor pada SPKU dan melakukan uji kolokasi,” ucap Fitri.
Uji kolokasi ini nggak main-main, lho. DLH Jakarta menggandeng sejumlah ahli lingkungan, salah satunya Haryo S. Tomo dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Beliau langsung mendampingi peningkatan pengendalian emisi di RDF Plant Rorotan.
Menurut Haryo, pemantauan bau sangatlah penting untuk mengevaluasi odor nuisance atau gangguan bau yang dirasakan masyarakat sekitar fasilitas. Pasalnya, bau itu punya sifat super kompleks. Bau bisa dipengaruhi oleh konsentrasi kimia, karakter senyawa, kondisi meteorologi (seperti angin, stabilitas udara, dan mixing height), serta persepsi manusia itu sendiri.
“Uji kolokasi sudah berjalan sejak Januari 2026. Kami melibatkan alat ukur standar (reference) untuk memastikan hasil bacaan SPKU itu akurat dan terpercaya,” kata Haryo.
Ia menambahkan, uji kolokasi ini memberikan data real time yang bisa dipantau bersama oleh Tim Kerja dan warga. Dengan begitu, semua pihak bisa mendapat kesepakatan yang sama soal sumber bau.
Sejauh ini, uji coba sudah dilakukan di dua lokasi: Taman Sungai Kendal dan JGC Shinano. Para ahli mengambil 50 sampel, terdiri dari 20 sampel saat RDF plant nggak beroperasi dan 30 sampel saat sedang beroperasi. Hasilnya? Mereka berhasil membuat model koreksi berdasarkan hubungan dan korelasi antara pengukuran metode referensi dengan sensor SPKU.
Rahasia Terungkap! Angin Darat dan Atmosfer Stabil Jadi Biang Kerok Bau Malam Hari
Berdasarkan uji kolokasi yang teliti itu, Haryo akhirnya mengungkap penyebab mengapa bau sering mengganggu warga, khususnya pada malam hari. Ternyata, ada faktor alam yang ikut bermain!
Menurut Haryo, sirkulasi angin darat di wilayah pesisir utara Jakarta, seperti Cilincing, menjadi salah satu biang keroknya. Pada malam hari, atmosfer cenderung lebih stabil. Akibatnya, akumulasi senyawa berbau di dekat permukaan tanah meningkat drastis.
Berbeda dengan siang hari, terjadi turbulensi konvektif yang meningkatkan mixing height atau ketinggian pencampuran udara. Hasilnya, dilusi atau pengenceran bau jauh lebih kuat.
“Intinya, puncak konsentrasi bau yang terukur dan keluhan warga lebih mungkin muncul pada malam hingga dini hari, meskipun laju emisi dari pabrik tidak berubah. Ke depannya, kami akan melakukan uji kolokasi secara periodik untuk terus mengidentifikasi sumber serta pengendalian bau yang bersifat lokal. Saya rasa metode ini harus mendapat apresiasi sebagai upaya evaluasi yang luar biasa,” pungkas Haryo.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
