Kebijakan Baru FIFA: Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus 10.990 Dolar AS

Exposenews.id – Nah, pecinta sepak bola tanah air, bersiaplah kaget! Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, FIFA baru saja mengumumkan kebijakan kontroversial yang bikin publik terperangah. Iya, soal harga tiket partai puncak yang meroket luar biasa.

Federasi Sepak Bola Internasional atau yang kita kenal FIFA itu nekat mengerek harga tiket final secara drastis. Angkanya? Mencapai 10.990 dolar AS atau kalau dikonversi jadi sekitar Rp186,7 juta! Bayangkan, untuk sekadar melihat dua tim terbaik bertarung, kantong Anda harus menjerit keras.

Melonjak Lebih dari Lima Kali Lipat!

Langkah berani (baca: gila) FIFA ini langsung menuai kecaman tajam dari berbagai kalangan. Kok bisa? Sebab, kenaikan tarif tiket final Piala Dunia edisi kali ini melonjak lebih dari lima kali lipat! Sebagai perbandingan, pada turnamen sebelumnya di Qatar 2022, harga tiket tertingginya masih berada di kisaran 1.600 dolar AS atau setara Rp27 juta. Selisihnya jauh banget, kan?

Yang menarik, kebijakan harga selangit ini diumumkan tepat setelah seluruh kuota 48 tim peserta turnamen terisi penuh. Panitia tak mau buang waktu, begitu semua peserta final, mereka langsung merilis harga gila-gilaan ini.

Kepastian jumlah peserta didapat setelah babak play-off dari berbagai zona, termasuk wilayah Eropa dan interkontinental, rampung total. Empat negara dari benua biru—yakni Bosnia-Herzegovina, Swedia, Turkiye, dan Ceko—berhasil mengamankan tiket mereka ke Amerika Utara.

Sementara itu, dari zona CAF atau Afrika, Republik Demokratik Kongo sukses melangkah. Dari AFC atau Asia, Irak menjadi wakil yang berhasil melengkapi daftar peserta lewat jalur play-off antarkontinental. Semua sudah siap, tinggal dompet penonton yang harus siap-siap jebol.

Sistem Harga Dinamis yang Bikin Pusing

Lantas, apa yang menyebabkan lonjakan harga tiket final maupun fase grup ini begitu ekstrem? Ternyata, penyelenggara menerapkan sistem penetapan harga dinamis. Model ini memungkinkan tarif berubah-ubah secara liar mengikuti tinggi rendahnya tingkat permintaan. Semakin banyak yang mau beli, semakin gila pula harganya.

Coba perhatikan, pada penjualan terbaru di bulan April ini, tiket final kategori 2 meroket menjadi 7.380 dolar AS atau sekitar Rp125 juta. Sementara kategori 3 pun tak kalah gila, naik menjadi 5.785 dolar AS yang setara Rp98,2 juta. Dompet kelas menengah jelas terancam bubar.

Namun, masalah tak berhenti di situ. Selain harga yang selangit, para penggemar juga harus berhadapan dengan proses pembelian yang kacau balau di situs resmi. Sistem tidak menampilkan rincian pertandingan dan kategori harga secara transparan. Akibatnya, pembeli menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengakses tiket.

Bahkan, beberapa pengguna yang mencoba masuk ke “fase penjualan menit terakhir” malah salah diarahkan ke antrean “fase penjualan pendukung kualifikasi akhir PMA”. Pusing, kan? Mau beli tiket mahal aja repotnya minta ampun.

Tuai Kritik Pedas dari Mana-mana

Wajar jika kemudian model harga dinamis ini memicu gelombang protes luar biasa. Banyak pihak yang angkat suara, termasuk organisasi hak konsumen Eropa, Euroconsumers, dan bahkan anggota Kongres Amerika Serikat. Ya, negeri Paman Sam yang jadi salah satu tuan rumah ikut gerah.

Sebanyak 69 anggota Partai Demokrat AS melayangkan protes keras melalui surat resmi yang ditujukan langsung kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Mereka tak main-main menyampaikan kekecewaan.

“Penerapan penetapan harga tiket dinamis untuk Piala Dunia Sepak Bola 2026 sangat bertentangan dengan misi inti FIFA untuk mempromosikan dan mengembangkan sepak bola secara global yang mudah diakses dan inklusif,” tulis para politisi tersebut dikutip dari The Guardian, Jumat (3/4/2026).

Mereka menambahkan, “Meskipun kota-kota tuan rumah bekerja sama dalam mewujudkan visi Piala Dunia terbesar dan paling global dalam sejarah, konsekuensi dari penetapan harga dinamis akan menjadikan Piala Dunia Sepak Bola 2026 sebagai yang paling eksklusif secara finansial dan paling tidak terjangkau hingga saat ini.”

Wah, sindiran keras banget, ya? Para politisi itu dengan gamblang menyebut turnamen nanti bakal jadi yang paling mahal dan eksklusif sepanjang sejarah. Ironis memang, ketika FIFA mengklaim ingin memajukan sepak bola global, tetapi justru memasang tembok harga setinggi langit.

Bos FIFA Tetap Bergeming

Meskipun mendapat tekanan dari berbagai penjuru dunia, Gianni Infantino tampaknya santai-santai saja. Ia tetap memuji tingginya antusiasme penggemar dan menganggap proses penjualan berjalan lancar. Pada bulan Januari lalu, ia bahkan mengklaim bahwa pihaknya telah menerima “permintaan untuk 1.000 tahun Piala Dunia sekaligus”. Klaim yang sulit diverifikasi, namun ia ulangi terus.

Apakah Infantino tak mendengar keluhan para pendukung setia sepak bola? Ataukah ia sengaja tutup telinga? Yang jelas, gelombang kecaman tak membuatnya mengubah keputusan. Ia seolah menikmati kontroversi yang justru membuat nama Piala Dunia 2026 semakin hangat dibicarakan.

Alasan FIFA: Demi Sepak Bola Akar Rumput?

Sebagai informasi tambahan yang dilansir dari Euro News, FIFA punya dalih tersendiri. Mereka berkilah bahwa sistem harga dinamis ini diterapkan agar sebagian keuntungan dari turnamen dapat disalurkan untuk mendanai pengembangan sepak bola akar rumput di berbagai belahan dunia.

Argumen yang terdengar mulia, tetapi patut dipertanyakan. Apakah benar keuntungan dari tiket selangit itu akan mengalir ke bawah? Ataukah hanya sekadar pembenaran untuk mengeruk untung sebesar-besarnya? Publik tentu berhak skeptis, mengingat rekam jejak transparansi FIFA kerap dipertanyakan.

Satu hal yang pasti, tiket final Piala Dunia 2026 kini resmi menjadi barang mewah yang hanya bisa dijangkau oleh kalangan super kaya. Sementara para penggemar sejati yang mungkin sudah menabung bertahun-tahun harus gigit jari melihat kenyataan pahit ini.

Apakah Anda masih berniat menyaksikan final Piala Dunia 2026 secara langsung? Atau memilih menonton dari layar kaca sambil mengutuk kebijakan gila FIFA? Semua tergantung ketebalan dompet dan keberanian Anda menghadapi harga tiket yang terus berubah setiap detaknya. Yang jelas, dunia sepak bola sedang memasuki era baru: era di mana cinta pada olahraga harus dibayar dengan harga selangit.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com