Berita  

BRIN: Musim Kemarau 2026 Berpotensi Lebih Panjang Akibat El Nino “Godzilla”

Exposenews.id – Pernah dengar istilah El Nino “Godzilla”? Tenang, ini bukan monster raksasa yang keluar dari film layar lebar. Tapi, dampaknya ke Indonesia bakal jauh lebih nyata dan bikin merinding! Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja mengeluarkan peringatan serius: fenomena El Nino dengan intensitas super kuat ini diprediksi bakal mampir ke Indonesia pada tahun 2026.

Bayangkan, musim kemarau yang biasanya sudah panas, kata BRIN bisa berubah jadi lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Bukan cuma itu, para peneliti kita juga khawatir kalau “monster” ini datang bareng dengan saudaranya, Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Wah, kalau sudah kompak begitu, siap-siap saja menghadapi dampaknya yang luar biasa.

“Fenomena ini berpotensi memicu kekeringan yang dapat berdampak pada berbagai sektor, termasuk pertanian dan sumber daya air,” jelas Prof. Erma Yulihastin, peneliti senior dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN. Beliau menyampaikan hal ini langsung melalui unggahan resmi @brin_indonesia di Instagram pada Kamis (19/3/2026). Lantas, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan El Nino “Godzilla” ini, dan kenapa kita harus ekstra waspada? Yuk, kita bedah satu per satu.

Mengenal “Godzilla”: Bukan Sekadar El Nino Biasa

Oke, pertama-tama kita pahami dulu soal El Nino. Jadi, El Nino itu sebenarnya fenomena alam biasa, yaitu pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kejadian ini memang punya pengaruh besar terhadap pola cuaca di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tapi, yang akan terjadi pada 2026 nanti disebut-sebut bukan El Nino kaleng-kaleng.

BRIN mengklasifikasikannya sebagai El Nino ekstrem, atau mereka menyebutnya dengan kode “Godzilla”. Istilah ini langsung bikin kita membayangkan sesuatu yang besar, kuat, dan mungkin agak menakutkan, bukan? Memang benar, intensitasnya diprediksi bakal jauh lebih kuat daripada El Nino pada umumnya.

Lalu, apa yang membuat situasi ini semakin panas (dan kering)? Jawabannya adalah IOD positif. Para ilmuwan menjelaskan, IOD positif adalah kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat menjadi lebih hangat dibandingkan bagian timurnya. Nah, ketika “Godzilla” dan IOD positif ini bertemu dan bergandengan tangan, dampaknya bagi Indonesia bisa berlipat ganda.

“Kombinasi El Nino kuat dan IOD positif dapat memperkuat penurunan curah hujan di Indonesia,” tulis BRIN dalam keterangan resminya. Singkatnya, dua faktor besar ini bakal saling menguatkan untuk “mencuri” hujan dari langit Indonesia.

Jawa hingga Nusa Tenggara Jadi Zona Paling Kering

Kita pasti penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di atmosfer saat dua fenomena ini berlangsung? BRIN memberikan penjelasan yang cukup gamblang. Saat El Nino aktif, awan-awan penghujan yang biasanya terbentuk di wilayah Indonesia jadi malas berkumpul di sini. Mereka lebih memilih bergeser ke Samudra Pasifik. Akibatnya, potensi hujan di Indonesia otomatis berkurang drastis.

Sementara itu, IOD positif datang memperparah keadaan. Fenomena ini menyebabkan suhu permukaan laut di sekitar Sumatera dan Jawa menjadi lebih dingin. Padahal, kita tahu bahwa laut yang hangat adalah “bahan bakar” utama untuk membentuk awan hujan. Karena dingin, proses penguapan pun berkurang, dan ini memperkuat lagi berkurangnya curah hujan di wilayah kita.

Akumulasi dari dua hal ini membuat sebagian besar wilayah Indonesia, terutama bagian selatan, harus bersiap menghadapi kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Pulau Jawa yang padat penduduk hingga Nusa Tenggara yang memang dikenal kering, diprediksi bakal menjadi daerah yang paling keras menerima dampaknya.

BRIN pun mengingatkan, kondisi kering yang berkepanjangan ini bukan sekadar masalah haus. Risiko yang lebih besar adalah meningkatnya potensi kekeringan parah yang bisa mengganggu pasokan air bersih dan irigasi pertanian. Selain itu, kita juga harus ekstra waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahun selalu menjadi momok di musim kemarau.

Ada Kabar Lain untuk Wilayah Timur

Meski peringatan ini terdengar mencekam, BRIN juga memberikan sedikit kabar yang berbeda. Ternyata, dampak fenomena “Godzilla” ini tidak akan terasa merata di seluruh penjuru Tanah Air. Ada beberapa wilayah yang justru masih bisa tersenyum.

Menurut para peneliti, wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku diprediksi masih akan mendapatkan curah hujan yang relatif tinggi meski El Nino dan IOD positif sedang terjadi. Lho, kok bisa?

Perbedaan ini terjadi karena dinamika atmosfer yang kompleks dan posisi geografis masing-masing wilayah. Posisi suatu daerah terhadap pusat pembentukan awan sangat menentukan seberapa besar mereka “terkena imbas” dari fenomena global ini. Jadi, meskipun El Nino “Godzilla” sedang mengamuk, tidak semua daerah akan merasakan kemarau ekstrem. Ini menjadi penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan mitigasi yang lebih tepat sasaran.

Catat Tanggalnya: April hingga Oktober 2026

Lalu, kapan kita harus mulai bersiap? BRIN telah membuat prediksi soal jadwal kedatangan fenomena ini. Mereka memproyeksikan bahwa El Nino dan IOD positif akan terjadi secara bersamaan dan bertepatan dengan periode musim kemarau utama di Indonesia.

Artinya, mulai sekitar April hingga Oktober 2026, kita harus berada dalam kondisi siaga tinggi. Ini adalah periode kritis di mana curah hujan diprediksi akan mencapai titik terendahnya. BRIN mengimbau seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan, untuk tidak menunggu sampai bencana datang. Kewaspadaan dini adalah kunci.

Kita perlu mulai memikirkan langkah-langkah antisipasi. Para petani, misalnya, bisa berkonsultasi dengan penyuluh lapangan untuk menentukan jenis tanaman yang tahan kering. Pemerintah daerah juga diharapkan bisa segera menyiapkan strategi pengelolaan air bersih. Jangan sampai kita semua kaget saat mata air mulai surut dan sawah mulai retak-retak.

Singkatnya, peringatan dari BRIN ini adalah alarm keras bagi kita semua. El Nino “Godzilla” bukan sekadar isu ilmiah yang hangat dibicarakan di kalangan peneliti. Ini adalah ancaman nyata yang bisa mengganggu ketahanan pangan, ketersediaan air, dan bahkan stabilitas lingkungan hidup kita. Dengan informasi ini, semoga kita semua bisa lebih siap dan sigap menghadapi tantangan iklim di tahun 2026 mendatang.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version