Berita  

PT CMNP Pastikan Tumpukan Sampah di Kolong Tol Tidak Mejadi Ancaman bagi Struktur Jalan Tol

Exposenews.id Bayangkan berkendara di atas jalan tol yang kokoh, sementara tepat di bawah kaki Anda, gunungan sampah setinggi gedung satu lantai hampir menyentuh struktur betonnya! Inilah pemandangan mengejutkan di kolong Tol Wiyoto Wiyono. Namun, pihak pengelola tol, PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP), justru angkat bicara dan menyoroti bahaya yang sama sekali berbeda! Simak penjelasan lengkap dan fakta-fakta mengerikan di balik tumpukan sampah yang dijuluki “Bantargebang Mini” ini.

Struktur Tol Aman, Tapi Aktivitas Alat Berat Jadi Ancaman Nyata

Sebagai tanggapan atas sorotan publik yang kian panas, PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) dengan tegas menyatakan bahwa gunungan sampah di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, tidak akan langsung merusak kekuatan struktur beton jalan tol di atasnya. Pernyataan resmi ini secara khusus mereka sampaikan untuk meredam kekhawatiran masyarakat yang melihat tumpukan sampah itu telah berubah menjadi “Bantargebang mini”. Selain itu, perusahaan juga mengalihkan perhatian publik pada sebuah risiko lain yang justru lebih berbahaya dan sering kali tidak disadari, yaitu aktivitas alat berat di lokasi pembuangan.

Dengan penuh keyakinan, PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) kembali menegaskan bahwa sampah yang sudah menggunung tinggi itu sama sekali tidak akan mempengaruhi infrastruktur beton di atasnya. Corporate Secretary CMNP, Madeline, secara gamblang menyampaikan, “Keberadaan sampah itu sendiri tidak berdampak terhadap struktur.” Akan tetapi, Madeline segera melanjutkan dengan sebuah peringatan serius; justru aktivitas pembuangan dan pengangkutan sampah yang menggunakan alat berat seperti beko-lah yang berpotensi besar menimbulkan guncangan dan tekanan berlebihan pada infrastruktur. Oleh karena itu, CMNP mengklaim telah menyiapkan sejumlah langkah pengamanan proaktif. “Sebagai bentuk antisipasi, kami secara aktif melakukan proteksi tambahan pada struktur di area rawan tersebut dan kami juga telah memasang pagar khusus sebagai upaya pengamanan fisik,” jelas Madeline dengan rinci.

Madeline kemudian memberikan penjelasan mendetail mengenai status legal kawasan tersebut. Dengan tegas, ia membantah keras anggapan bahwa lokasi ini merupakan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar.

Sebaliknya, ia membeberkan fakta mengejutkan bahwa lahan kolong tol ini justru dikelola secara resmi oleh Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara. Madeline pun memaparkan kronologi lengkapnya.

Awalnya, tumpukan sampah memang terkonsentrasi di luar area kolong tol. Namun, situasi berubah drastis pada periode 2016 atau 2017.

Pada masa itulah, Dinas Lingkungan Hidup secara resmi mengajukan permohonan izin untuk mengalihfungsikan lahan kolong tol yang strategis ini menjadi lokasi transit sampah.

Menyikapi kondisi yang sudah sangat mengkhawatirkan ini, CMNP berkomitmen untuk mengambil langkah tegas. Perusahaan berencana akan mendesak Dinas Lingkungan Hidup agar menghentikan praktik penggunaan kolong tol sebagai TPS, demi menjamin keamanan infrastruktur dan kenyamanan warga sekitar.

Potret Suram “Bantargebang Mini” di Tengah Hunian Warga

Sementara itu, fakta di lapangan justru memperlihatkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kolong Tol Wiyoto Wiyono yang terletak di RT 06, RW 05, Sungai Bambu, kini berubah menjadi gunungan sampah yang mencemaskan.

Yang lebih mengkhawatirkan, lokasi ini berada tepat di jantung kawasan permukiman padat penduduk.

Bayangkan, hanya berjarak sekitar 20 meter dari gunungan sampah, sebuah masjid tetap digunakan untuk beribadah oleh warga. Tidak sampai 50 meter di depannya, aktivitas belajar-mengajar di sebuah sekolah terus berlangsung setiap harinya.

Gunungan sampah itu sendiri membentang mengerikan sejauh kurang lebih 200 meter. Ketinggiannya mencapai empat meter dan nyaris menyentuh plat beton jalan tol di atasnya!

Beragam jenis sampah memadati setiap jengkal lokasi. Mulai dari sisa makanan yang membusuk, plastik, sterofoam, papan kayu, kasur bekas, hingga besi tua bertebaran di mana-mana.

Akibatnya, tumpukan sampah yang bercampur air hujan ini membuat tanah dasarnya menjadi sangat becek dan gembur. Kondisi ini semakin memperparah kerawanan area yang seharusnya bebas dari risiko semacam ini.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com