Exposenews.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akhirnya memastikan kelanjutan program “operasi besar-besaran” untuk menormalisasi aliran Sungai Ciliwung pada 2026 mendatang. Tak main-main, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dengan penuh keyakinan mengaku telah menyusun skema kerja sama yang solid dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Bahkan, ia meyakini bahwa kolaborasi erat ini akan menghasilkan transformasi total bagi Sungai Ciliwung. “Kerja sama kami selama ini dengan Kementerian PU sudah sangat baik. Dengan demikian, saya yakin akan membuat Sungai Ciliwung menjadi lebih baik, lebih bersih,” tegas Pramono usai menghadiri rangkaian Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU) ke-80 di bantaran Sungai Ciliwung, Jumat (21/11/2025).
Dalam kolaborasi strategis ini, Pemprov DKI Jakarta secara spesifik akan memegang peran kunci dalam menyiapkan anggaran untuk membebaskan lahan bangunan yang saat ini masih memadati kawasan bantaran sungai. Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebagai perwakilan pemerintah pusat akan fokus mengerjakan pembangunan fisik tanggul yang kokoh. “Pembebasan lahan dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta, sedangkan untuk pembuatan tanggulnya nanti oleh Kementerian PU,” ucapnya dengan gamblang.
Pembebasan Lahan Dua Titik Hotspot dengan Anggaran Fantastis
Hebatnya, Pemprov DKI telah mengalokasikan anggaran yang tidak main-main, yaitu sebesar Rp 232 miliar, yang secara khusus disiapkan untuk proses pembebasan lahan di dua titik panas di Jakarta. Kedua wilayah yang akan menjadi sasaran utama pembebasan lahan adalah Kelurahan Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur dan Kelurahan Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan. Untuk detailnya, Pramono memaparkan, “Untuk yang menjadi tanggung jawab Jakarta, ada dua kelurahan. Yang pertama adalah Cililitan, ini ada 37 bidang, anggaran yang dianggarkan Rp 111 miliar.”
Sementara itu, untuk wilayah Kelurahan Pengadegan, ternyata terdapat lebih banyak bidang tanah yang harus dibebaskan. Tak heran, anggaran yang disiapkan pun lebih besar. “Kemudian ada di Kelurahan Pengadegan, ada 54 bidang. Oleh karena itu, anggaran yang dialokasikan, diestimasikan kurang lebih Rp 121 miliar,” jelas dia.
Tak Hanya Ciliwung, Kali Krukut Jadi Perhatian Serius
Tak hanya berfokus pada Ciliwung, Pramono juga dengan serius menyoroti urgensi normalisasi pada Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer. Menurutnya, langkah ini sangat krusial untuk menyelamatkan kawasan Kemang, Jakarta Selatan, yang merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi yang selama ini kerap lumpuh total akibat banjir. Ia memperingatkan, “Kami juga akan melakukan normalisasi atau pembersihan Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer. Kami sangat paham kalau tidak dilakukan, maka daerah Kemang, Kemang Village, dan sebagainya pasti akan banjir terus-menerus,” ungkap dia dengan penuh tekad.
Lebih dari sekadar mengatasi banjir, program normalisasi sungai ini juga menjadi salah satu pilar strategis untuk mencapai target Jakarta sebagai Kota Global. Faktanya, perbaikan tata kelola air ini telah terbukti berkontribusi langsung pada kenaikan peringkat Jakarta dalam Indeks Kota Global tahun 2025, dari peringkat 74 melompat ke 71.
Peringatan dari Menteri PU dan Integrasi dengan Ruang Publik
Di sisi lain, Menteri Pekerjaan Umum Dodi Hanggodo memberikan penekanan dan peringatan penting. Ia mengingatkan bahwa semua upaya fisik yang dikerjakan di hilir Jakarta tidak akan pernah maksimal tanpa diiringi oleh pembenahan serius di wilayah hulu. Dengan cermat, ia menyoroti warna air sungai yang cokelat sebagai indikator nyata dari tingkat sedimentasi yang parah, yang disebabkan oleh kerusakan di hulu. “Apapun yang kita kerjakan, rehabilitasi seberapa besar pun, tidak akan bisa menangani kerusakan sungai ini karena akibat hulu yang rusak. Jadi, hulu itu wajib kita kerjakan, kita jaga bersama-sama,” tegas Dodi.
Oleh karena itu, Dodi dengan kuat menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor. Kolaborasi ini harus melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, BPN, serta pemerintah daerah untuk secara sinergis mengatasi masalah ini dari hulu hingga hilir.
Dan ini yang bikin semangat! Tak hanya berhenti pada normalisasi, Pramono juga membocorkan rencana besar pembangunan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) di Dukuh Atas. Yang mengejutkan, proyek ambisius ini akan dimulai tepat pada awal Januari mendatang! Kerennya, proyek ini tidak hanya tentang transportasi, tetapi juga akan mengintegrasikan kawasan Sungai Ciliwung yang telah dinormalisasi sebagai ruang publik baru yang hidup dan asri bagi warga Jakarta. Dengan semangat, Pramono mengumumkan, “Awal Januari kami akan memulai melakukan pembangunan untuk TOD di Dukuh Atas sekaligus Sungai Ciliwung yang di bawahnya akan kami optimalkan,” kata dia. Bayangkan, kita akan punya ruang publik keren di bantaran sungai
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
