Exposenews.id – 50 ton sampah dapur lenyap setiap hari berubah menjadi sesuatu yang bernilai! Inilah misi spektakuler yang tengah diwujudkan oleh warga di Kampung Pancasila, Koja, Jakarta Utara, melalui pabrik budidaya maggot mereka.
Yang lebih mencengangkan, satu kilogram maggot sanggup melahap tiga kilogram sampah organik hanya dalam sehari! Meskipun demikian, pabrik maggot ini masih terus berkembang untuk mencapai target maksimalnya.
Dari Sampah Menjadi Bubur Pakan
Mengapa mereka perlu berkembang? Pasalnya, sampah organik harus melalui proses pencacahan menjadi bubur terlebih dahulu sebelum disantap oleh para maggot. Proses ini membuat maggot bisa menghabiskan sampah dengan jauh lebih cepat.
Untuk membuktikan kapasitasnya, Ketua RW 07, Suaib Sulaiman, dengan penuh semangat menyebutkan bahwa mereka telah berhasil melakukan uji coba sebanyak 15 ton sampah organik. “Sebagai informasi, kami pernah uji coba sampah organik itu sampai ke 15 ton,” ujar Suaib dengan bangga.
“Karena kekuatan mesin pencacah itu per satu jam bisa mencacah sampah organik itu tiga ton.” Kemudian, ia menambahkan bahwa tantangan terbesar mereka saat ini hanya terletak pada jumlah mesin pencacah.
Saat ini, pabrik mereka hanya mengandalkan satu unit mesin. Suaib dengan yakin menyatakan, “Jika ke depannya ditambah satu unit lagi, maka saya yakin kurang dari delapan jam sampah yang diolah menjadi pakan maggot bisa sebanyak 50 ton.”
Dukungan Pemerintah dan Semangat Para Pemuda
Di balik ambisi besar ini, ada peran vital yang harus dimainkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, Suaib secara terbuka meminta pemerintah turun tangan mendorong partisipasi warga dalam memilah sampah. “Nah, ini tinggal keseriusan dari pemerintah bagaimana mengedukasi ke warga,” tegasnya.
Ia juga mendesak agar Pergub No. 77 Tahun 2020 tentang pemilahan sampah dari sumbernya tidak hanya menjadi tulisan. Menurutnya, harus ada ketegasan dan sanksi sosial bagi yang melanggar.
Selanjutnya, kisah inspiratif di balik pabrik ini datang dari para pemuda tangguh pengelolanya. Salah satunya adalah Darmawira (22), putra Suaib, yang memilih mengabdi di pabrik maggot karena keprihatinannya melihat tumpukan sampah di TPS.
“Masalah itu kepedulian aja sih, kita sebagai manusia harus ada manfaatnya juga buat lingkungan,” ungkap Darma tentang motivasinya.
Tantangan di Lapangan: Mesin dan Bau Menyengat
Meski begitu, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Kendala paling menyebalkan seringkali datang dari mesin pencacah yang rusak. “Kalau suka dan duka kita di sini karena mengolah sampah pakai mesin, ini sih paling dukanya,” keluh Darma.
Bayangkan, dengan hanya satu mesin, kerusakan kecil saja bisa langsung menyebabkan penumpukan sampah yang menggunung!
Selain masalah mesin, aroma menyengat dari sampah organik juga menjadi tantangan tersendiri. Tresno, salah satu pengurus lain, mengakui bahwa keluhan tetangga sering mereka dengar. “Kalau susahnya kadang orang menilai, ih kotor bau, atau jorok,” ujarnya.
Namun, Tresno dengan sigap menjelaskan bahwa bau tersebut bukan berasal dari maggot, melainkan dari sampah yang masih tercampur. Untungnya, mereka sudah menemukan solusi cerdas dengan mengolah sampah menjadi bubur dan mencampurkannya dengan cairan organik khusus.
Pakar BRIN Buka Suara: Maggot Aman dan Perlu Standar
Yang paling penting untuk diketahui, budidaya maggot ini ternyata tidak berpotensi mendatangkan penyakit! Seorang pakar dari BRIN, Sri Wahyono, menegaskan hal ini. “BSF (maggot) sendiri tidak menjadi vektor penyakit seperti lalat rumah, sehingga risikonya relatif rendah,” jelasnya.
Dengan kata lain, selama dikelola dengan teknik yang benar, maggot justru menjadi solusi yang aman. Kunci utamanya terletak pada pemilahan pakan, pengaturan kadar air, dan aerasi yang memadai.
Selanjutnya, Sri Wahyono juga dengan detail memaparkan standar operasional yang diperlukan, mulai dari pengumpulan pakan, panen larva, hingga pengelolaan residu, untuk memastikan keberlanjutan budidaya.
Lantas, bagaimana memastikan praktik baik ini bisa diterapkan secara luas? Sri Wahyono menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menetapkan standar budidaya maggot yang jelas. “Menetapkan standar teknis budidaya maggot agar tidak menimbulkan bau atau gangguan lingkungan,” sarannya.
Akhirnya, pemerintah didorong untuk membangun sistem pasokan sampah organik yang teratur dari pasar dan pemukiman agar solusi pengolahan sampah ini dapat berjalan optimal.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
