Berita  

Longsor Cibeunying, 11 Korban Ditemukan Tewas, Pencarian 12 Korban Masih Berlanjut

SEMARANG, Exposenews.id – Duka masih menyelimuti Desa Cibeunying! Tragisnya, dari 23 warga yang sebelumnya hilang diterjang tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, tim gabungan berhasil menemukan 11 orang dalam keadaan meninggal. Kemudian, proses identifikasi terhadap korban pun akhirnya berhasil petugas selesaikan usai mereka mengevakuasi pada Sabtu, (15/11/2025) pukul 19.00 WIB.

Selanjutnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, pun langsung membeberkan bahwa jumlah korban hilang yang berhasil ditemukan ini terus mereka laporkan setiap hari hingga batas waktu akhir pencarian nanti. “Sebelumnya, hingga Sabtu pukul 14.00 WIB, korban meninggal yang berhasil kami temukan dan identifikasi masih berjumlah enam orang. Namun, kami akhirnya mengupdate data tersebut menjadi 11 korban pada pukul 19.00 WIB. Yang terpenting, semua korban ini telah berhasil kami identifikasi,” ungkap Bergas melalui keterangan tertulis pada Minggu (16/11/2025). Dengan demikian, berikut ini adalah daftar nama korban yang berhasil diidentifikasi:

  1. Julia Lestari, 20 tahun, Dusun Tarukahan RT 06 RW 03
  2. Maya Dwi Lestari, 15 tahun, Dusun Tarukahan RT 06 RW 03
  3. Yuni, 45 tahun, Dusun Tarukan RT 6 RW 3
  4. Nur Isnaeni, 30 tahun, Dusun Cibuyut RT 02
  5. Muhamad Hafiz, 6 tahun, Dusun Cibuyut RT 02
  6. Asmanto, 74 tahun, Dusun Cibuyut RT 02
  7. Febriansyah, 5 tahun, Dusun Cibuyut RT 02
  8. Rizky Pratama Ramadhan, 9 tahun, Dusun Cibuyut RT 02
  9. Dani Setiawan, 29 tahun, Dusun Cibuyut RT 02
  10. Rusyanto, 75 tahun, Dusun Cibuyut RT 02
  11. Satini, 28 tahun, Dusun Cibuyut

Pencarian 12 Warga Cibeunying yang Masih Hilang: Semua Sumber Daya Dikerahkan!

Di sisi lain, Bergas juga menyebutkan bahwa tim gabungan kini telah kembali melanjutkan misi pencarian mereka. Kali ini, mereka benar-benar fokus untuk menemukan 12 warga yang hingga detik ini masih belum ditemukan. Oleh karena itu, proses pencarian yang sangat intens ini mereka mulai sejak pukul 07.00 WIB dan akan terus berlanjut hingga pukul 17.00 WIB.

“Sebagai prosedur standar, begitu ada korban yang berhasil kami temukan, tim gabungan akan langsung melakukan proses identifikasi menyangkut nama dan asalnya. Selanjutnya, jika identitas korban sudah berhasil dipastikan, kami akan segera menyerahkannya kepada keluarga untuk kemudian dapat dimakamkan sesuai tradisi,” lanjutnya dengan penuh keyakinan. Meski demikian, proses identifikasi ini sendiri seringkali memerlukan waktu yang tidak sebentar, mengingat petugas harus benar-benar memastikan nama dan asal korban dengan akurat.

Selain itu, lokasi pencarian saat ini secara khusus mereka fokuskan di dua titik, yaitu Dusun Tarukahan dan Dusun Cibuyut. Lebih jauh, Bergas menekankan bahwa proses pencarian dan evakuasi ini harus mereka lakukan dengan sangat hati-hati. Pasalnya, kontur tanah di area lokasi pencarian masih dalam kondisi yang sangat labil dan berbahaya.

Teknologi dan Tantangan Cuaca: Perjuangan Tanpa Lelah di Medan Berat

Dalam operasi besar-besaran ini, petugas pun tak segan-segan mengerahkan alat berat untuk mengeduk timbunan tanah yang menimbun korban. Bahkan, hingga saat ini, sebanyak 10 excavator dan Alkon set telah mereka kerahkan di lokasi longsor. Yang lebih mencengangkan lagi, sebanyak anjing pelacak (K-9) Polri juga telah mereka siagakan! Anjing-anjing terlatih ini siap mereka terjunkan kapan saja jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk mempercepat pencarian korban.

“Sebelumnya, kami juga mencatat terjadi cuaca ekstrem di lokasi. Hujan deras dengan durasi yang cukup lama sempat mengguyur. Tentu saja, tim di lapangan harus ekstra hati-hati agar tidak membahayakan jiwa mereka sendiri,” beber Bergas lebih rinci. Kemudian, proses evakuasi sempat mereka hentikan sejenak karena pada Sabtu sore, hujan sangat deras disertai angin kencang kembali melanda lokasi. Akan tetapi, Bergas memastikan bahwa pencarian akan terus mereka lanjutkan dengan semangat pantang menyerah oleh tim gabungan yang diketuai oleh Komando Ops SAR Basarnas.

Yang luar biasa, total ada 747 personel yang mereka terjunkan dalam operasi kemanusiaan ini! Personel ini berasal dari berbagai elemen, seperti Basarnas, TNI, Polri, dan Relawan Penanggulangan Bencana (PB). Kemudian, tim yang berdedikasi tinggi ini akan bertugas selama masa operasional SAR, yang ditetapkan hingga 7 hari sejak tanggal longsor Cibeunying terjadi.

Gubernur Jateng Turun Tangan!

Tak hanya itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, juga turun tangan dan memberikan instruksi yang jelas. Beliau secara tegas meminta tim gabungan untuk terus berupaya mencari semua korban hingga yang terakhir berhasil mereka temukan. Selain itu, Gubernur juga mengimbau dengan sangat kepada seluruh warga, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana, untuk tetap waspada dan siaga. “Terutama mengingat saat ini curah hujan masih sangat tinggi,” ungkap Luthfi dengan nada prihatin.

Yang lebih spektakuler, Gubernur menyampaikan rencana besarnya! Beliau berencana untuk menyupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Cilacap. Tujuannya jelas, agar operasi SAR bisa mereka laksanakan dengan waktu yang lebih panjang tanpa terus diganggu oleh hujan lebat.

Akhirnya, sinergi yang terbentuk dalam penanganan bencana longsor Cibeunying ini benar-benar mencakup semua level pemerintahan. Tim gabungan ini merupakan kolaborasi solid dari pusat, provinsi, dan kabupaten. Di tingkat pusat, mereka melibatkan BNPB, Basarnas, Kemensos, KemenPU, serta TNI dan Polri. Sementara itu, dari Provinsi Jateng dan kabupaten, turut bergabung BPBD, Dinsos, Dinkes, Dishanpan, PU-BMCK, dan ESDM. Tak ketinggalan, organisasi kemanusiaan seperti PMI, Baznas, serta para relawan dan masyarakat juga bahu-membahu memberikan dukungan penuh.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com