Exposenews.id – Bursa pencalonan Presiden FIFA mendadak panas menyengat! Bukan lagi sekadar kabar angin, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) kini dikabarkan dengan tegas akan mengikuti jejak langkah Wales. Mereka bersiap mencabut seluruh bentuk dukungan terhadap ambisi Gianni Infantino untuk kembali bercokol sebagai orang nomor satu di sepak bola dunia. Keputusan dramatis ini muncul bagaikan petir di siang bolong, tepat di tengah membuncahnya gelombang penolakan dari berbagai penjuru akibat gagalnya proyek ambisius sang presiden yang hendak menjual saham komersial turnamen sekelas Piala Dunia.
Sikap keras yang ditunjukkan oleh Inggris dan beberapa pemangku kepentingan utama lainnya bukanlah tanpa sebab. Semua ini dipicu oleh ambruknya proyek monumental FIFA pada Jumat pekan lalu, sebuah kegagalan yang langsung memicu efek domino di tubuh organisasi sepak bola terbesar di planet ini. Bayangkan, otoritas tertinggi sepak bola dunia itu sebelumnya memiliki mimpi besar untuk menggelontorkan dana segar hingga mencapai angka fantastis 4,2 miliar dolar AS. Mereka berencana melepas sekitar 20 persen kepemilikan di sebuah entitas bisnis anyar yang akan mengelola berbagai kompetisi akbar, sebuah langkah yang diharapkan bisa mengubah peta ekonomi sepak bola global.
Namun, batalnya megaproyek komersial tersebut kini membawa konsekuensi yang sangat serius dan pahit. Pergerakan federasi sepak bola Inggris justru semakin mempertegas ancaman nyata yang membayangi kursi kepemimpinan Infantino di masa depan. Sang presiden yang sudah nyaman di singgasananya itu kini harus berpikir ulang karena upayanya untuk mengamankan masa jabatan periode 2027 hingga 2031 menghadapi pengawasan super ketat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Publik dan para anggota federasi mulai mempertanyakan kredibilitas dan visi kepemimpinannya, apalagi setelah inisiatif mega bisnis yang ia gagas berakhir dengan kegagalan total di tengah jalan.
Langkah Awal FAW yang Mengejutkan Dunia
Sebelum Inggris mengambil ancang-ancang, federasi sepak bola nasional yang pertama kali secara resmi dan berani membatalkan dukungan terhadap petahana adalah Wales. Mereka bertindak cepat dan tidak memberikan ruang kompromi sedikit pun. Dalam pernyataan resmi yang dirilis, pihak FAW dengan gamblang membeberkan alasan mendasar hilangnya kepercayaan mereka terhadap figur yang selama ini dianggap tak tersentuhkan tersebut. Mereka menilai bahwa kepemimpinan Infantino sudah tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip dasar organisasi sepak bola.
“Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) dengan ini mengonfirmasi penarikan dukungannya terhadap pencalonan Bapak Gianni Infantino untuk pemilihan kembali sebagai Presiden FIFA periode 2027 hingga 2031,” demikian bunyi pernyataan tegas FAW yang dikutip dari Reuters, Senin (3/8/2026). Mereka tidak tanggung-tanggung menyebutkan bahwa kegagalan-kegagalan yang terjadi akhir-akhir ini mencakup berbagai aspek krusial. Mulai dari tata kelola perusahaan yang buruk, proses pengambilan keputusan yang dipertanyakan, hingga kepemimpinan yang dianggap mulai kehilangan arah dan nilai-nilai luhur sepak bola.
“Kegagalan-kegagalan baru-baru ini dalam tata kelola yang baik, proses, kepemimpinan, nilai-nilai, pengelolaan pemangku kepentingan, komunikasi, dan penilaian yang bijaksana telah membawa kami pada posisi di mana Tuan Infantino telah kehilangan kepercayaan dari FAW untuk tetap memimpin sepak bola dunia,” lanjut pernyataan tersebut dengan nada yang sangat keras. Mereka bahkan menambahkan bahwa “kegagalan dalam mengutamakan kepentingan terbaik sepak bola adalah kegagalan yang tidak dapat kami terima.” Ini adalah pukulan telak yang membuat tim kampanye Infantino langsung ketar-ketir.
Tekanan Berlapis dari UEFA dan CONCACAF
Jika Wales dan Inggris sudah cukup membuat gempar, kini tekanan yang dihadapi Infantino berada pada skala yang bahkan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Situasi pelik ini semakin memburuk bagaikan bola salju yang menggelinding deras setelah konfederasi regional raksasa seperti UEFA dan CONCACAF ikut angkat bicara pada hari Sabtu. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan pria asal Swiss tersebut telah luruh seketika. Ini adalah sinyal bahaya yang sangat jelas karena dua badan ini merupakan kekuatan besar yang selama ini menjadi tulang punggung dukungan bagi FIFA.
Badan pengatur sepak bola Eropa (UEFA), yang sedari awal berada di garis depan dalam menentang rencana kontroversial Infantino dan ikut merayakan pembatalannya, hingga kini belum memberikan keterangan resmi terkait laporan media yang menyebut mereka tengah mempersiapkan tindakan hukum terhadap FIFA. Sumber internal menyebutkan bahwa mereka sudah sangat frustrasi dengan gaya kepemimpinan Infantino yang dinilai otoriter dan mengabaikan masukan. Meski begitu, UEFA dikabarkan telah mengambil langkah antisipatif dengan mengeluarkan perintah pelestarian dokumen. Langkah ini bertujuan untuk mencegah penghapusan data, email, atau berkas-berkas penting apabila penyelidikan resmi mulai digulirkan di kemudian hari.
Jalan Terjal Menuju Kongres Maroko yang Penuh Intrik
Mundur sejenak ke bulan April lalu, Infantino memang telah mengutarakan niat bulatnya untuk mengejar masa jabatan keempat. Pria yang mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan dari Sepp Blatter pada tahun 2016 ini sebelumnya selalu melenggang mulus memenangi dua pemilihan terakhir tanpa adanya sosok penantang yang berarti. Ia selalu dianggap sebagai raja tanpa lawan di panggung politik sepak bola global. Namun, cerita sukses itu kini terancam berubah drastis menjadi mimpi buruk.
Meskipun pencalonan untuk periode 2027 hingga 2031 awalnya diprediksi hanya akan menjadi formalitas belaka, situasi saat ini telah berubah total 180 derajat. Angin perubahan berhembus kencang dan para pengamat menilai bahwa efek dari usulan ambisius yang ditolak mentah-mentah ini telah menyingkap adanya ketidakpuasan yang mengakar di antara para anggota asosiasi. Ini berpotensi menjadi batu sandungan yang sangat berat menjelang agenda akbar Kongres FIFA yang rencananya akan digelar di Maroko pada bulan Maret mendatang. Kita semua akan menyaksikan apakah Infantino mampu bertahan dari badai ini atau justru akan menjadi babak baru dalam sejarah kepemimpinan FIFA yang penuh gejolak.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
