Exposenews.id – Bayangkan harus terbang lintas negara hanya untuk bermain sepak bola selama 90 menit! Itulah kenyataan pahit yang terus menghantui Timnas Iran di Piala Dunia 2026. Kebijakan kontroversial pemerintah Amerika Serikat yang membatasi perjalanan tim asal Persia ini benar-benar membuat mereka kepayahan. Setelah menderita di laga perdana melawan Selandia Baru, kini giliran pertandingan melawan Belgia di Los Angeles yang kembali dibatasi aksesnya, tepatnya pada Minggu (21/6/2026) waktu setempat. Sungguh perlakuan yang sungguh tidak adil bagi para pemain dan ofisial Iran!
Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei, dengan lantang meluapkan kegeramannya terhadap kebijakan pembatasan perjalanan dan penolakan visa yang dialami timnya. Bagaimana tidak, Iran hanya diizinkan terbang ke AS sehari sebelum pertandingan dan langsung dipulangkan ke Tijuana setelah laga usai. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan siksaan tersendiri bagi skuad yang telah berlatih keras untuk ajang paling prestisius di dunia. Meskipun para pemain akhirnya mendapatkan visa hanya sepuluh hari sebelum laga pembuka melawan Selandia Baru, namun sejumlah pelatih, staf, hingga pejabat tinggi Federasi Sepak Bola Iran, termasuk Ketua Mehdi Taj, justru gagal memperoleh visa. Betapa memalukan dan menyakitkan!
Ketika Timnas Iran kembali beraksi di Los Angeles menghadapi Belgia dengan hasil imbang 0-0, cerita di balik lapangan justru lebih menarik perhatian. Ghalenoei dengan gamblang mengungkapkan bahwa timnya harus memangkas waktu latihan karena permintaan mereka untuk melakukan perjalanan dari Meksiko lebih awal ditolak mentah-mentah. “Kami sangat membutuhkan waktu 24 jam di Los Angeles, tetapi mereka hanya memberi kami kurang dari 16 jam. Akibatnya, kami terpaksa menghentikan latihan di tengah jalan,” keluhnya melalui penerjemah seperti dilaporkan Associated Press. Bayangkan betapa frustrasinya sang pelatih yang harus melihat persiapannya buyar akibat kebijakan birokrasi yang kaku! Kendala-kendala ini jelas telah membuat segalanya menjadi sangat sulit bagi tim.
FIFA Diharapkan Segera Ambil Tindakan
Meski diliputi kekecewaan, Ghalenoei masih menyimpan secercah harapan bahwa FIFA akan turun tangan untuk meyakinkan AS mengurangi pembatasan terhadap Iran pada laga terakhir fase grup. Berbeda dengan pertandingan di Los Angeles, Team Melli akan bertandang ke Seattle untuk menghadapi Mesir. Namun, pertanyaan besar tetap menggelayut di benak sang pelatih. Sebelumnya, Federasi Sepak Bola Iran telah mengajukan keluhan resmi kepada FIFA, namun hasilnya belum terlihat jelas. Ghalenoei bahkan mencoba menghubungi para pelatih tim Piala Dunia lainnya, berharap mereka berani bersuara menentang perlakuan diskriminatif terhadap Iran. Namun hingga kini, belum ada satu pun tanggapan yang ia terima.
“Saya mengajukan pertanyaan kepada 47 pelatih lainnya, dan tidak satu pun dari mereka yang menjawab saya,” tutur Ghalenoei dengan nada kecewa. “Kita semua di sini untuk sepak bola, bukan politik, dan kami tegaskan itu lagi. Keluhan murni tentang cara mereka memperlakukan kami. Saya belum mendengar apa pun dari pelatih lain, dan saya yakin mereka sibuk mempersiapkan tim mereka sendiri. Kami tidak pernah mengharapkan mereka untuk bereaksi,” tambahnya dengan lapang dada. “Tetapi jika saya melihat tim lain diperlakukan seperti yang kami alami, saya pasti akan mengatakan sesuatu.” Bukankah seharusnya solidaritas sesama pelatih lebih terlihat di ajang sebesar ini?
Janji Kelonggaran di Seattle
Angin segar mulai berhembus untuk skuad Iran ketika mereka mendengar kabar bahwa akan mendapat kelonggaran saat menghadapi Mesir di Seattle akhir pekan nanti. Ghalenoei mengungkapkan bahwa penyelenggara telah mengindikasikan pengaturan yang berbeda untuk pertandingan di Seattle. “Mereka bilang di Seattle, Anda dapat melakukan apa pun yang Anda inginkan, Anda dapat bertindak seperti yang Anda inginkan, dan Anda dapat datang lebih awal,” ujarnya dengan sedikit lega. Namun, harapan itu segera dibayangi pertanyaan kritis: mengapa kebijakan longgar ini hanya berlaku untuk laga terakhir fase grup saja? “Tetapi pertanyaan saya adalah, mengapa mereka tidak mengizinkan kami datang lebih awal untuk dua pertandingan pertama juga?” tanyanya dengan nada penasaran sekaligus kecewa.
Lebih dalam, Ghalenoei mengkhawatirkan dampak psikologis dan fisik dari kebijakan ini terhadap para pemainnya. “Saya rasa, karena kita terlalu sering terbang, bolak-balik, dan akibat dari perjalanan jauh ini, kita jadi lelah,” katanya seperti dikutip dari Xinhua. “Itu akan memengaruhi mental kita, terutama saya sebagai pelatih kepala, karena saya ingin fokus pada hal-hal teknis.” Bukankah seharusnya semua tim mendapat perlakuan yang sama di ajang sepak bola paling adil di dunia ini? Sungguh ironi ketika olahraga yang seharusnya mempersatukan justru dihambat oleh kebijakan politik yang memecah belah.
Dengan segala keterbatasan yang ada, Timnas Iran tetap menunjukkan semangat juang yang luar biasa di lapangan hijau. Mereka membuktikan bahwa meskipun harus “disiksa” oleh kebijakan AS, tekad mereka untuk tampil maksimal tak pernah luntur. Kini semua mata tertuju pada FIFA, apakah organisasi sepak bola tertinggi dunia ini akan mengambil tindakan nyata atau hanya diam membisu melihat ketidakadilan ini. Sementara itu, para penggemar sepak bola di seluruh dunia tentu berharap agar semangat fair play benar-benar ditegakkan, dan Timnas Iran akhirnya bisa bernapas lega di Seattle nanti. Akankah kelonggaran itu benar-benar terwujud, atau ini hanya janji manis belaka? Waktu yang akan menjawab!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
