Berita  

Biaya Produksi Tak Tertutupi, Petani Jember Pilih Bagikan 2 Kuintal Timun ke Masyarakat

JEMBER, Exposenews.id – Alih-alih diam meratapi nasib, sekelompok petani hortikultura dari Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur, justru menggelar aksi protes super unik pada Rabu (10/6/2026) pagi. Ya, mereka dengan sukarela membagikan sekitar 2 kuintal timun secara cuma-cuma kepada masyarakat luas hingga anggota dewan. Tindakan ini jelas menjadi pemandangan langka yang langsung menyedot perhatian publik.

Lalu, di mana tepatnya para petani ini membagikan timun gratis tersebut? Ternyata, mereka memusatkan aksi bagi-bagi timun ini di dua titik paling strategis di kota. Pertama, mereka berdiri gagah di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember. Kedua, rombongan petani juga tak lupa mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember. Sungguh, pilihan lokasi ini secara langsung menyasar pusat kekuasaan eksekutif dan legislatif.

Selanjutnya, langkah nekat ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Para petani mengambil keputusan dramatis tersebut sebagai bentuk akumulasi kekecewaan yang sudah memuncak. Pasalnya, harga timun di tingkat produsen saat ini anjlok drastis hingga jauh di bawah batas kewajaran. Mereka merasa ongkos tanam saja sudah tidak tertutupi, apalagi untuk mencari untung. Oleh karena itu, aksi protes sosial ini pun terpaksa mereka gelar.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, aksi solidaritas yang merangkap sebagai protes ini pertama kali dimulai dari kawasan Alun-Alun Jember. Kemudian, para petani bergerak menuju area luar Kantor Pemkab Jember. Begitu timun segar yang diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka itu turun, para pengguna jalan dan warga yang sedang beraktivitas di pusat kota langsung menyerbu habis. Mereka berebut mendapatkan komoditas mentimun segar yang dibawa para petani dengan penuh semangat.

Setelah merampungkan pembagian di depan kantor eksekutif, tiga orang perwakilan petani tidak langsung pulang. Sebaliknya, mereka dengan penuh keberanian bergerak mendatangi Gedung DPRD Jember. Di sana, mereka meneruskan aksi demonstrasi damai tersebut dengan cara yang sama, yaitu membagikan sisa timun langsung kepada para anggota legislatif yang tengah berdinas. Hal ini membuktikan bahwa pesan mereka benar-benar disampaikan sampai ke tingkat wakil rakyat.

Bentuk Kekecewaan Terhadap Anjloknya Harga Timun Jember

Lebih lanjut, Jumantoro, salah seorang petani asal Kecamatan Arjasa yang juga bertindak sebagai koordinator lapangan, dengan lantang menuturkan alasan di balik aksi dramatis ini. Menurutnya, para petani terpaksa membagikan hasil panen secara cuma-cuma karena nilai jual komoditas timun di pasar saat ini benar-benar menghancurkan kondisi finansial mereka. “Kami aksi karena harga timun sekarang anjlok,” tegasnya.

Saat ditemui di sela-sela aksi protes pada Rabu (10/6/2026), Jumantoro bahkan dengan gamblang mengungkapkan harapan sederhana mereka. “Kami tidak minta harga 1 dolar, tapi harga timun cukup 1/4 dolar saja,” ujarnya dengan nada getir. Pernyataan ini secara cerdas menunjukkan bahwa petani sebenarnya tidak pernah serakah; mereka hanya menginginkan harga yang layak dan bisa menutup biaya produksi.

Kemudian, Jumantoro memaparkan data pahit di lapangan. Saat ini, harga timun Jember di tingkat petani merosot tajam hingga menyentuh angka Rp 1.000 per kilogram. Menurutnya, nominal tersebut sama sekali tidak mampu menutup tingginya ongkos produksi pertanian hortikultura modern yang terus melambung. Dengan kata lain, setiap kali mereka panen, justru kantong mereka semakin bolong karena kerugian.

Agar lebih mudah dipahami, jika nilai tukar 1 dolar AS saat ini setara dengan kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000, maka para petani sebenarnya hanya membutuhkan harga jual timun yang stabil di kisaran Rp 4.500 sampai Rp 5.000 per kilogram. Angka itu setara dengan 1/4 dolar AS. Sayangnya, kondisi riil di lapangan sangat jauh dari harapan tersebut, sehingga aksi pembagian timun gratis pun tidak terelakkan.

“Dengan harga anjlok sekarang, enggak nutut sama ongkos produksi,” keluh Jumantoro dengan nada kecewa. Ia pun menambahkan bahwa pupuk nonsubsidi untuk sayur mayur saat ini naik sangat tinggi. Akibatnya, petani kecil semakin terdesak dan tidak punya pilihan lain selain melakukan aksi protes yang menarik perhatian publik ini.

Tak berhenti di situ, Jumantoro juga menyoroti ironi yang sering dilupakan banyak orang. “Petani memang tidak pernah tahu dolar, tapi selalu kena dampaknya,” imbuhnya. Logikanya sederhana: harga pupuk menjadi mahal karena bahan bakunya diimpor menggunakan dolar. Jadi, meskipun para petani tidak pernah bersentuhan langsung dengan kurs valuta asing, gejolak ekonomi global tetap mencekik nasib mereka.

Tingginya Biaya Produksi dan Jeritan Petani Hortikultura

Sementara itu, berdasarkan rincian data kalkulasi dari para petani lokal Kecamatan Arjasa, ongkos produksi timun untuk luasan lahan 1 hektare saat ini bisa mencapai sekitar Rp 40 juta. Jumlah itu jelas bukan angka kecil bagi petani kebanyakan. Kemudian, untuk skala yang lebih kecil, yaitu luasan lahan 1/4 hektare, setidaknya modal awal yang wajib digelontorkan petani berkisar di angka Rp 10 juta.

Namun, apa yang terjadi setelah panen? Realitas hasil penjualan yang didapatkan saat panen justru jauh di bawah modal investasi awal. Parahnya lagi, kerugian ini akan terus berulang selama harga timun masih anjlok seperti sekarang. Hasil panen yang melimpah pun tidak lagi membawa kebahagiaan, melainkan tangisan karena nilai jualnya sangat rendah.

Komponen biaya produksi yang dirasa paling mencekik dan memberatkan kelangsungan hidup petani saat ini mencakup dua hal utama. Pertama, pembelian mulsa, yaitu plastik perak penutup lahan tanaman. Kedua, harga pupuk nonsubsidi yang terus meroket tanpa kendali. Masalah ini semakin pelik karena regulasi subsidi yang ada dinilai belum merata dan tidak berpihak pada petani hortikultura.

“Petani hortikultura seperti sayuran tidak mendapatkan pupuk subsidi,” kata Jumantoro menjelaskan ketimpangan yang terjadi. Karena ketidakadilan ini, biaya operasional mereka menjadi dua hingga tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan petani tanaman pangan yang mendapat subsidi. Keadaan ini jelas tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Pada akhirnya, melalui aksi pembagian 2 kuintal timun gratis ini, komunitas petani sayur di Kabupaten Jember berharap pemerintah daerah maupun pusat mau mendengarkan aspirasi mereka. Mereka menuntut keadilan distribusi instrumen pertanian. “Petani sayuran juga ingin dapat pupuk subsidi,” pungkas Jumantoro dengan tegas. “Saat ini petani sayur mayur sangat terdampak dengan mahalnya harga pupuk nonsubsidi,” tutupnya di tengah riuh rendah aksi damai yang mereka lakukan.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com