Berita  

Wacana Kertajati sebagai Pusat Perawatan Hercules AS, Jalan Pintas Hidupkan Bandara?

INDRAMAYU, Exposenews.id – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, akhirnya buka suara soal nasib Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang masih terhimpit masalah. Siapa sangka, bandara megah di Kabupaten Majalengka itu sampai sekarang belum juga beroperasi maksimal. Padahal, pemerintah pusat sudah mengucurkan dana fantastis untuk proyek ini!

Wacana Mencengangkan: Kertajati Disulap Jadi Pusat Perawatan Hercules Milik AS

Belakangan ini, publik langsung dihebohkan oleh sebuah wacana yang tak terduga. Pasalnya, Bandara Kertajati kabarnya bakal disulap menjadi pusat pemeliharaan dan perawatan alias Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) untuk pesawat angkut militer turboprop C-130 Hercules milik Amerika Serikat. Gila, kan?

Menanggapi hal ini, Ono Suruno langsung angkat bicara. Menurutnya, wacana tersebut sangat layak dipilih sebagai salah satu opsi penyelamatan aset negara. Apalagi, nilai investasi bandara ini mencapai angka yang bikin geleng-geleng kepala, yaitu Rp5 triliun!

“Lho, masa sih aset senilai Rp5 triliun itu kita biarkan menganggur begitu saja? Sayang banget, kan! Makanya, opsi untuk menjadikannya bengkel perawatan pesawat itu sangat masuk akal. Opsi ini jelas harus kita tempuh,” tegas Ono dengan santai saat ditemui di Stadion Tridaya Indramayu, Jumat (29/5/2026).

Kawasan Rebana Makin Panas, Kertajati Jangan Sampai Jadi Penonton

Lebih lanjut, Ono menjelaskan situasi kekinian di wilayah Jawa Barat. Saat ini, kawasan Rebana yang mencakup Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Subang, hingga Sumedang, mulai bertransformasi menjadi pusat industri baru. Bahkan, kawasan ini diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat.

Sayang sekali jika momentum ini tidak kita manfaatkan dengan baik. Karena itulah, Pemerintah harus berani mencoba berbagai opsi, termasuk menjadikan Bandara Kertajati sebagai MRO pesawat Hercules.

Soal Keamanan? Jangan Khawatir, Pemerintah Pasti Punya Hitungan Matang!

Tentu saja, Ono tidak menampik jika wacana ini memicu kekhawatiran dari berbagai kalangan. Banyak pihak yang bertanya-tanya soal aspek keamanan jika bandara komersial ini tiba-tiba berubah fungsi menjadi bengkel pesawat militer asing.

Namun, Ono dengan percaya diri meyakinkan publik. Pemerintah pasti tidak akan main-main dengan isu sekrusial ini. Mereka pasti melakukan kajian yang super matang sebelum mengambil keputusan akhir.

“Yakinlah, pemerintah sudah mempertimbangkan berbagai macam aspek. Sama persis seperti saat awal pembangunan bandara. Di dalam Detailed Engineering Design (DED) saja, pemerintah sudah menggodok soal keamanan. Jadi, gak perlu khawatir berlebihan,” imbuhnya.

Harapan Komersial Tetap Membara, Ono Ogah Relakan Kertajati Hanya Jadi Bengkel

Meski mendukung opsi MRO untuk jangka pendek, Ono tetap menaruh harapan besar pada sisi komersial bandara. Ia secara blak-blakan menyoroti wacana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Menurutnya, pemerintah sebaiknya jangan memaksakan diri menghidupkan lagi bandara lama itu.

Ono dengan tegas mengingatkan status Bandara Husein Sastranegara. Bukan rahasia umum lagi jika bandara tersebut bukanlah bandara komersial, melainkan pangkalan udara TNI AU.

“Begitu juga dengan Halim Perdanakusuma. Statusnya sebenarnya adalah pangkalan udara TNI AU, lho,” jelas Ono sambil mengingatkan fungsi asli kedua bandara tersebut.

Ia pun kembali mengingatkan alasan utama dibangunnya Bandara Kertajati. Pemerintah dulu sengaja membangun bandara ini untuk memindahkan penerbangan komersial dari Bandara Husein Sastranegara ke Kertajati. Selain itu, kondisi Bandara Soekarno-Hatta yang sudah overload parah juga menjadi alasan kuat. Kertajati jelas bisa menjadi opsi jitu untuk pengalihan sebagian penerbangan.

“Saya tetap berharap Husein dengan segala keterbatasan fasilitasnya jangan dipaksakan. Tetap Kertajati yang harus kita dorong. Apalagi sekarang Tol Cisumdawu sudah jadi. Aksesnya makin gampang, kok!” seru Ono penuh optimisme.

Dilema Klasik Telur-Ayam: Siapa yang Duluan?

Ono secara jujur mengakui bahwa menghidupkan penerbangan komersial di Kertajati itu memang seperti menghadapi dilema klasik yang bikin pusing. Problemnya selalu berkutat pada dua hal: ketersediaan maskapai dan kesiapan penumpang.

“Jadi gini, masalahnya mirip telur dan ayam. Mana yang duluan? Penumpang dulu atau maskapai dulu? Nah, ini harus kita selesaikan dengan political will yang kuat. Butuh komitmen dan tekad nyata dari para pemegang kekuasaan, baik di pemerintah pusat maupun Jawa Barat,” papar Ono.

Solusi Jangka Pendek yang Realistis: MRO Hercules

Sembari menunggu pemerintah membuktikan komitmennya menghidupkan Kertajati secara komersial, Ono menilai opsi MRO untuk pesawat Hercules AS ini cukup realistis. Baginya, ini adalah solusi cerdas untuk jangka pendek.

Namun, Ono tetap santai dan tidak mau ambil pusing. Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan akhir kepada pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kedua tingkatan pemerintahan tersebut harus segera duduk bareng dan mencari solusi terbaik untuk masa depan bandara kebanggaan masyarakat Majalengka itu.

“Setidaknya, jika urusan komersial masih terasa sulit, kita bisa jadikan bandara ini tempat perawatan dulu. Sambil jalan, kita lengkapi fasilitasnya. Mulai dari fasilitas pendukung hingga insentif bagi penumpang dan maskapai biar mereka mau pindah ke Kertajati. Pemerintah pasti punya akal, kok!” tutup Ono penuh harap.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com