PEMATANGSIANTAR, Exposenews.id – Heboh! Tujuh pria pasien rehabilitasi narkoba di Yayasan Rehabilitasi Rindung, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, memilih kabur melarikan diri. Apa penyebabnya? Mereka mengaku tidak tahan lagi menerima siksaan mengerikan di tempat yang seharusnya menjadi lokasi pemulihan mereka.
Lantas, bagaimana cerita selengkapnya? Dari ketujuh pasien rehab mandiri yang melarikan diri tersebut, enam orang di antaranya secara spontan membuat pernyataan bersama. Kemudian, mereka mengunggah pengakuan mengejutkan itu melalui salah satu akun di media sosial.
“Kami memutuskan kabur dari sana (Rehabilitasi) karena praktik penyiksaan yang merajalela. Tempatnya tidak etis sama sekali. Ini buktinya: kami semua dirantai! Kami ini pasien Napza (rehab Narkoba), bukan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa),” ujar salah seorang pasien dengan nada geram dalam video pernyataannya.
Pihak Yayasan Akhirnya Buka Suara
Setelah kejadian viral tersebut, tim redaksi Exposenews.id langsung mendatangi Yayasan Rehabilitasi Rindung yang berlokasi di Jalan Rindung Ujung, Kelurahan Tanjung Pinggir, Siantar Martoba. Di sana, Sekretariat Yayasan Eka Fransiska Purba dengan tegas membenarkan bahwa ketujuh pasien tersebut memang kabur.
Namun, jangan dulu percaya begitu saja! Eka dengan lantang membantah habis-habisan tudingan penyiksaan yang dilontarkan para pasien kabur. Menurutnya, apa yang disampaikan di media sosial itu tidak sesuai fakta di lapangan.
Eka kemudian menjelaskan kronologinya secara rinci. Insiden kaburnya para pasien itu terjadi pada Sabtu (16/5/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Awalnya, pihak yayasan sedang mengantar salah satu pasien ke klinik dokter jiwa untuk keperluan konsultasi rutin.
Sementara itu, di kompleks rehabilitasi sendiri, penjagaan hanya tersisa satu orang saja. Pada saat itu, para pasien memang sedang berada di luar ruangan karena mengikuti kegiatan pagi hari. Tiba-tiba, saat penjaga hendak memasukkan semua pasien kembali ke dalam ruangan, situasi berubah mencekam. Penjaga tersebut langsung digebuki secara bersama-sama oleh para pelaku kabur!
Menurut pengakuan Eka, para pasien sebenarnya telah merencanakan aksi kabur ini sejak lama. Mereka hanya menunggu momen ketika situasi sedang lengah dan pengawasan sedikit longgar. Eka juga mengakui bahwa kondisi ketujuh pasien rehab yang kabur tersebut memang masih mengalami emosi yang sangat tinggi selama menjalani masa perawatan.
Yang membuat semakin miris, para pasien kabur itu nekad melarikan diri tanpa membawa barang apapun. “Setelah mereka habis mengggebuki penjaga, mereka lalu mendorong gerbang dengan sekuat tenaga sampai gerbangnya rusak. Setelah itu, mereka langsung kabur begitu saja. Jadi kalau kami dibilang melakukan penyiksaan, itu tidak benar sama sekali. Justru penjaga kami yang menjadi korban pemukulan,” ucap Eka saat ditemui di Rehabilitasi Rindung pada Senin (18/5/2026) petang.
Eka kemudian menambahkan keterangan penting. Para pasien yang kabur tersebut sebenarnya masih dalam proses pemulihan kesehatan dari kecanduan narkoba. Durasi rehabilitasinya cukup panjang, yakni rentan waktu 1 hingga 2 tahun di tempat tersebut.
Meskipun terjadi insiden pelarian ini, Eka memastikan satu hal. Seluruh penanganan terhadap pasien selalu berjalan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Bahkan, semua tindakan perawatan pun telah mendapatkan persetujuan resmi dari pihak keluarga masing-masing pasien.
Siapa Saja Pasien yang Kabur?
Eka pun menyebutkan identitas ketujuh pasien kabur tersebut. Mereka berinisial E dan DP (asal Pematangsiantar), kemudian AH dan RG (asal Kota Medan), lalu R (asal Kabupaten Batubara), R (asal Aek Nabara), serta HM (asal Pekanbaru).
Fakta mengejutkan lainnya terungkap! Eka mengungkapkan bahwa salah satu dari ketujuh pasien tersebut ternyata sudah memiliki “catatan spesial”. Pasien itu merupakan bekas pelarian dari tempat rehabilitasi lain sebelumnya. Setelah kabur dari rehab sebelumnya, pihak keluarga akhirnya menyerahkannya ke Yayasan Rindung untuk menjalani perawatan ulang.
“Satu pasien itu sebelumnya pernah kabur dari Rehabilitasi Mercusuar. Bahkan, saat kabur dulu, dia berani menyiram petugasnya menggunakan lada. Istri pasien tersebut sudah memohon-mohon kepada kami supaya suaminya dicari dan dikembalikan lagi ke rehab,” kata Eka mengungkap fakta mengejutkan.
Hingga saat ini berita ini diturunkan, Eka menyampaikan bahwa keluarga para pasien justru meminta dengan sangat agar pasien kabur tersebut dipulangkan kembali ke rehabilitasi. Mereka ingin para pasien melanjutkan masa pemulihan seperti sediakala.
“Harapan kami, mereka semua segera dikembalikan. Pihak keluarga sudah menghubungi kami berkali-kali. Mereka meminta agar anak atau suami mereka kembali ke rehabilitasi untuk menyelesaikan masa perawatan,” ujar Eka dengan nada berharap.
Ketua Yayasan: Rantai Dilakukan dengan Persetujuan Keluarga!
Tak cukup sampai di situ, Ketua Yayasan Rehabilitasi Rindung, Rizal Damanik, juga ikut angkat bicara. Ia mengaku sudah melihat sendiri video pernyataan para pasien kabur yang kini viral di media sosial tersebut. Dengan tegas, Rizal pun membantah semua tudingan penyiksaan yang dituduhkan para pasien.
Lalu, bagaimana dengan fakta soal pemakaian rantai? Rizal memberikan klarifikasi penting. Menurutnya, tindakan merantai pasien rehabilitasi memang benar-benar dilakukan. Namun, jangan salah paham dulu! Rizal menegaskan bahwa penggunaan rantai tersebut sudah mendapatkan persetujuan tertulis dari pihak keluarga pasien.
“Jadi mereka semua satu ruangan, semuanya pasien Napza. Kami tidak pernah menggabungkan mereka dengan ODGJ. Soal rantai, itu memang kami lakukan, tapi semuanya sudah atas restu keluarga. Tujuan merantai itu untuk memperlambat gerakan mereka yang masih agresif, bukan untuk menyiksa. Tidak ada penyiksaan sama sekali di tempat kami,” kata Rizal menjelaskan dengan lugas.
Rizal pun mengabarkan kondisi terkini. Dari enam pasien yang ditampilkan dalam video viral tersebut, satu orang berinisial DP hingga kini belum diketahui keberadaannya. Sementara yang lainnya, masih dalam proses pencarian.
Fakta lain yang perlu Anda ketahui: Yayasan Rehabilitasi Rindung sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 2016. Kini, yayasan ini tengah merawat 54 orang pasien dengan kategori berbeda-beda. Mereka terdiri dari pasien kecanduan narkoba, pasien ODGJ, serta orang terlantar yang resmi dititipkan oleh Dinas Sosial Pematangsiantar.
“Mereka saat ini membenci pihak yayasan. Mau bagaimana lagi? Pihak keluarga sendiri belum bersedia menampung mereka di rumah. Namun, yang jelas, jika pihak keluarga sudah memberikan persetujuan untuk dipulangkan, maka dengan senang hati kami akan memulangkan para pasien,” kata Rizal mengakhiri pernyataannya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
