JAKARTA, Exposenews.id – Pemandangan memilukan masih membayangi TPST Bantargebang. Gunungan sampah yang runtuh secara tiba-tiba tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga membuka mata kita semua tentang pengelolaan sampah Jakarta yang ternyata menyimpan bom waktu.

Hardiyanto Kenneth, anggota DPRD Jakarta, langsung angkat bicara. Ia mendesak Pemerintah Provinsi DKI agar tidak main-main lagi dengan keselamatan. “Evaluasi total sistem pengelolaan dan keamanan di Bantargebang harus segera dilakukan!” tegasnya saat dikonfirmasi, Senin (9/3/2026).
Reformasi Pengelolaan Sampah Mendesak Dilakukan
Politisi dari Fraksi PDI Perjuangan itu mengingatkan, tragedi ini bukan sekadar angka. Di balik peristiwa ini, ada duka mendalam keluarga korban yang harus kita pikirkan. Lebih dari itu, kata Kenneth, insiden ini merupakan alarm keras bagi kita semua.
“Sampah Jakarta menggunung setiap hari, dan sebagian besarnya berakhir di Bantargebang. Jika kita tidak segera menata ulang dengan serius dan menerapkan sistem modern, maka risiko seperti longsor, kebakaran, bahkan pencemaran lingkungan akan terus mengintai. Keselamatan pekerja dan warga sekitar jelas terancam!” ucapnya dengan nada tinggi.
Oleh karena itu, Kenneth tidak hanya berhenti pada imbauan. Ia menuntut investigasi menyeluruh. Menurutnya, kita harus tahu persis apa yang memicu longsor tersebut. Apakah karena sistem keamanan yang jebol? Manajemen penumpukan sampah yang amburadul? Atau standar keselamatan pekerja yang diabaikan?
Bukan hanya evaluasi, Kenneth mendorong adanya reformasi besar-besaran. “Jakarta butuh sistem pengelolaan sampah modern, berkelanjutan, dan berbasis teknologi canggih,” ujarnya meyakinkan.
Ia pun membeberkan sejumlah langkah jitu. Pertama, kita harus mulai mengurangi sampah dari sumbernya. Caranya? Dengan pemilahan sampah di rumah tangga. Kedua, perbanyak bank sampah di tingkat RW dan kelurahan. Ketiga, edukasi masyarakat harus digencarkan. Terakhir, bangun fasilitas pengolahan sampah berteknologi tinggi seperti waste to energy, RDF, dan pengolahan kompos.
Kenneth juga menyoroti nasib para pekerja dan pemulung di Bantargebang. Mereka adalah garda terdepan yang setiap hari berhadapan dengan risiko. Ia mendesak agar alat pelindung diri (APD) selalu disediakan. Pengawasan ketat juga harus dilakukan untuk meminimalisir kecelakaan kerja.
“Penataan TPST Bantargebang harus menjadi prioritas utama!” tegas Kenneth. Ia memaparkan perlunya zonasi timbunan yang jelas, drainase yang baik, penguatan lereng, serta sistem pemantauan dengan standar keselamatan paling ketat. “Dengan cara seperti itu, volume sampah yang masuk ke Bantargebang bisa kita tekan secara signifikan,” katanya.
Sebagai wakil rakyat, Kenneth berjanji akan terus mengawal reformasi ini. Ia tak ingin tragedi serupa terulang lagi. Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban.
Korban Berjatuhan, Enam Meninggal dan Satu Masih Hilang
Peristiwa nahas ini terjadi pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, puluhan sopir truk sedang antre membuang muatan sampah mereka. Tiba-tiba, tanpa peringatan, gunungan sampah setinggi puluhan meter longsor dan menimpa kendaraan serta para sopir yang sedang menunggu.
“Para sopir truk sedang antre, lalu tiba-tiba tumpukan sampah longsor. Mereka yang antre pun tertimbun,” jelas Eko Uban, anggota Rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bekasi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi tanah masih basah dan terdapat genangan air. Hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir diduga menjadi salah satu pemicu longsornya tumpukan sampah tersebut. Tim SAR gabungan langsung bergerak cepat. Mereka mendirikan posko pengaduan bagi keluarga korban. Tim dokter kepolisian dari Polres Metro Bekasi Kota pun berjaga untuk membantu proses identifikasi korban.
Data terbaru yang dihimpun, total korban dalam musibah ini mencapai 13 orang. Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, membeberkan rinciannya. “Total 13 orang. Beberapa selamat, beberapa meninggal, dan satu orang masih kami cari,” ujar Desiana kepada awak media, Senin (9/3/2026) malam.
Enam orang berhasil selamat. Mereka adalah Budiman, Johan, Safifudin, Slamet, Ato, dan Dofir. Namun, duka mendalam menyelimuti enam keluarga lainnya. Enam korban dinyatakan tewas. Empat di antaranya ditemukan pada hari kejadian (Minggu), sementara dua korban lainnya baru ditemukan pada Senin (9/3/2026).
Berikut daftar korban tewas yang berhasil diidentifikasi:
- Enda Widayanti (25), seorang pemilik warung.
- Sumini (60), juga pemilik warung.
- Dedi Sutrisno, sopir truk asal Karawang.
- Irwan Supriatin, sopir truk.
- Jussova Situmorang.
- Hardianto.
Satu korban lain, Riki Supiadi (40) yang akrab disapa Buyung, hingga Senin malam masih dalam proses pencarian. Tim gabungan terus berupaya menemukannya.
“Kami masih terus melakukan pendataan. Jumlah korban bisa saja bertambah berdasarkan keterangan saksi dan laporan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya,” tutup Desiana.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com













