TEHERAN, Exposenews.id – Selat Hormuz, jalur hidup ekonomi dunia, berubah jadi ladang maut dalam sepekan terakhir. Iran benar-benar main kasar! Tak tanggung-tanggung, sekitar 10 kapal jadi bulan-bulanan serangan rudal dan drone setelah Teheran murka dan memblokade jalur strategis itu. Pemicunya? Amerika Serikat dan Israel dianggap keterlaluan!

Pertempuran laut ini pecah sejak 28 Februari 2026, dan dampaknya langsung terasa: lalu lintas di Selat Hormuz nyaris lumpuh total. Padahal, kita semua tahu, ini bukan selat biasa. Ini adalah urat nadi perdagangan energi dunia!
Rentetan Maut di Lautan: Satu Per Satu Kapal Jadi Korban
Organisasi Maritim Internasional (IMO) membenarkan situasi mengerikan ini. Dalam catatan mereka, sembilan serangan brutal menghantam kapal-kapal yang melintas hanya dalam kurun waktu seminggu. Lebih mengenaskan lagi, dari rentetan serangan itu, tujuh nyawa melayang sia-sia.
Coba simak rentetan tragedinya. Pada tanggal 2 Maret, laut seperti tak kenal ampun. Satu orang tewas dalam serangan terhadap kapal Skylight. Di hari yang sama, MKD Vyom dan Stena Imperative juga kebagian giliran dilumat rudal. Hercules Star pun tak luput dari amukan.
Situasi bukannya mereda, malah kian menjadi-jadi. Periode 3-5 Maret, empat kapal lain jatuh korban. Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe bergantian diserang. Dunia pelayaran mulai gempar!
Tragedi Musaffah 2: Menolong Malah Kena Rudai, 3 ABK WNI Hilang!
Puncak tragedi terjadi pada 6 Maret. Darah kembali membasahi geladak! Empat orang tewas seketika setelah kapal Musaffah 2 dihajar habis-habisan. Namun, pemerintah Indonesia baru mengumumkan kabar duka ini pada Minggu (8/3/2026). Fakta di lapangan ternyata lebih kelam dari laporan awal. Mussafah 2, sesuai karakteristik dan posisi terakhirnya, ternyata sudah lebih dulu tenggelam dua hari sebelumnya dengan jumlah korban yang berbeda.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi kabar paling menyayat hati. Tiga Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia dinyatakan hilang ditelan gelombang! Satu WNI lainnya selamat, namun menderita luka-luka. Empat awak lain dari negara berbeda juga berhasil selamat, namun trauma pasti membekas.
Alarm Bahaya: Siapa Pun yang Menolong Bakal Jadi Target Berikutnya!
Yang membuat bulu kuduk merinding adalah pola serangannya. Selat Hormuz selama ini mengalirkan sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia. Tapi sekarang? Lautan itu sepi mencekam! Perusahaan analisis Kpler, yang mengoperasikan platform MarineTraffic, mencatat fakta mengejutkan: lalu lintas kapal tanker ambruk hingga 90 persen dalam sepekan terakhir!
Data MarineTraffic yang dianalisis AFP pada Jumat (6/3/2026) memperkuat fakta ini. Hanya sembilan kapal komersial—mencakup kapal tanker, kapal kargo, dan kapal kontainer—yang terdeteksi nekat melintasi selat sejak Senin (2/3/2026). Beberapa di antaranya bahkan panik dan menyembunyikan posisi mereka secara berkala agar tak jadi sasaran!
Yang lebih sadis, laporan menunjukkan kapal penyelamat pun ikut jadi incaran!
Perusahaan keamanan maritim Vanguard mengungkap fakta mencengangkan. Musaffah 2 dihantam dua rudal tepat saat sedang berusaha menolong kapal kontainer Safeen Prestige yang lebih dulu kena serangan dua hari sebelumnya! Sungguh aksi yang menghilangkan akal sehat.
“Laporan insiden terbaru… Menunjukkan bahwa kapal yang memberikan bantuan atau operasi penyelamatan kepada kapal yang sebelumnya menjadi sasaran juga mungkin menghadapi peningkatan risiko serangan lanjutan,” ujar Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC), yang dikelola koalisi angkatan laut Barat, seperti dikutip dari kantor berita AFP. Artinya, siapa pun yang coba menolong, mereka siap-siap menjadi korban berikutnya!
JMIC menganalisis pola serangan ini sebagai strategi perang urat syaraf. Mereka melihat serangan terhadap kapal yang berlabuh, kapal yang hanyut, dan bahkan kapal bantuan, bukan sekadar upaya menenggelamkan kapal. “Pola serangan yang diamati menunjukkan kampanye yang fokus pada menciptakan ketidakpastian operasional dan menghalangi pergerakan komersial rutin,” tambah mereka.
Sikap Iran Bikin Pusing: Dari Ancaman Bakar Kapal hingga Bantahan Menutup Selat
Semua serangan drone dan rudal ini diklaim dilakukan Garda Revolusi Iran (IRGC). Namun, konfirmasi independen memang sulit didapatkan. Seringkali, beberapa insiden baru terkuak beberapa hari kemudian, dan identitas kapal dirahasiakan. Makanya, jumlah korban jiwa pun bisa berbeda-beda antarlaporan.
Di tengah situasi kacau ini, sikap Iran pun bikin pusing tujuh keliling! Jenderal IRGC pada 2 Maret sempat mengeluarkan ancaman mengerikan: mereka akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, plus memblokir total seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk! Dunia langsung waspada!
Tapi, dua hari kemudian pada Kamis (5/3/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba-tiba bersuara lembut. Ia mengatakan negaranya tidak berniat menutup Selat Hormuz. Aduh, mana yang benar?
Sementara dunia kebingungan, Amerika Serikat langsung bereaksi. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan pada Jumat (6/3/2026) bahwa Washington siap mengawal kapal dagang yang ingin melintasi selat tersebut. Begitu situasi dianggap wajar, mereka akan langsung bergerak! Presiden Perancis Emmanuel Macron juga tak tinggal diam. Ia menyatakan sedang berupaya membangun koalisi internasional. Tujuannya jelas: mengamankan jalur laut yang sangat penting bagi perekonomian global ini. Laut Hormuz sedang panas, dan siapa pun bisa jadi korban berikutnya!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com













