PEKALONGAN, Exposenews.id – Wah, pecinta mie pedas di Pekalongan pasti kaget! Baru-baru ini, gerai Mie Gacoan di Jalan Imam Bonjol mendadak jadi pusat perhatian. Pasalnya, puluhan juru parkir dengan berani menggeruduk lokasi tersebut pada Sabtu (11/4/2026). Aksi mereka ternyata untuk melawan rencana penerapan sistem parkir elektronik berbasis vendor. Para petugas parkir ini jelas-jelas menolak keras kebijakan yang dinilai bakal mengancam nafkah mereka sehari-hari.
Baca Juga: Menyambut MotoGP 2027, Yamaha Resmi Tinggalkan Seluruh Line-up Lamanya
Kenapa Para Juru Parkir Berani Bersuara?
Koordinator aksi, Aris Susanto, dengan lantang menyampaikan bahwa mereka semua menginginkan pengelolaan parkir tetap berada di tangan warga lokal. Baik yang berasal dari wilayah Medono maupun yang berjaga di sepanjang Jalan Imam Bonjol, semua sepakat mempertahankan hak mereka. Aris dengan tegas menjelaskan bahwa rencana kerja sama Gacoan dengan vendor eksternal sangat dikhawatirkan bakal memangkas tenaga kerja lokal.
“Kalau sistem vendor diterapkan, kemungkinan hanya sebagian kecil dari kami yang akan dipertahankan,” ujar Aris dengan nada kecewa pada Senin (13/4/2026). “Ini jelas merugikan kami, warga lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari pekerjaan ini,” tambahnya penuh semangat.
Baca Juga: Korban Perundungan di Padang Alami Gangguan Jiwa, Keluarga Tempuh Hukum
Buktinya, Kami Sudah Jaga Keamanan dengan Baik!
Para juru parkir tidak tinggal diam. Mereka dengan percaya diri memaparkan bahwa skema penghasilan dari vendor—sekitar Rp 1-1,5 juta per bulan—tidak sebanding dengan pendapatan harian mereka saat ini. Menurut pengakuan mereka, penghasilan yang mereka peroleh setiap hari jauh lebih layak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca Juga: Kebakaran Kapal di Belawan: 5 ABK Hilang, Tim Gabungan Sisir Perairan Luas Tanpa Titik Pasti
Selama bertahun-tahun beroperasi di area tersebut, para juru parkir dengan bangga mengklaim tidak pernah terjadi kasus kehilangan barang milik pengunjung. Bahkan, mereka seringkali dengan sigap membantu mengembalikan dompet, ponsel, atau barang berharga lainnya yang tertinggal di area parkir.
Tak hanya itu, mereka dengan pedas mengkritik penilaian manajemen yang dianggap hanya mengandalkan ulusan di platform digital. Padahal, di lapangan, mereka kerap menjadi garda terdepan saat kondisi darurat. Misalnya, ketika ada pengunjung yang tiba-tiba sakit atau pingsan, para juru parkirlah yang pertama kali membantu memanggil bantuan medis. Namun, ironisnya, respons dari pihak manajemen terhadap kontribusi nyata ini dinilai masih jauh dari optimal. Sungguh memprihatinkan, bukan?
Manajemen Gacoan Angkat Bicara! Ini Penjelasannya
Di sisi lain, manajemen Mie Gacoan akhirnya buka suara. Mereka menjelaskan bahwa perubahan sistem parkir ini tidak muncul begitu saja atau tiba-tiba. Legal Manajer Mie Gacoan, Zulkarnaen Akhmad Kurniawan, dengan tenang namun tegas menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui proses evaluasi panjang terhadap pengelola parkir sebelumnya.
Baca Juga: Siswa SMP di Siak Tewas Akibat Ledakan Senapan Rakitan Saat Ujian Praktik Sains
“Ini bukan keputusan ujug-ujug (mendadak). Ada rangkaian evaluasi dan kami temukan sejumlah pelanggaran oleh pengelola parkir,” ujarnya pada Minggu (12/4/2026). Ia pun merinci bahwa dalam perjanjian kerja sama, evaluasi dilakukan setiap enam bulan dan perpanjangan hanya diberikan jika hasilnya benar-benar baik.
Zulkarnaen kemudian menjelaskan bahwa saat ini manajemen sedang menjajaki kerja sama dengan vendor baru yang dinilai lebih profesional. Vendor ini nantinya akan menerapkan sistem parkir berbasis gate system atau gerbang otomatis. Namun, yang menarik, pihaknya dengan lantang memastikan bahwa keterlibatan masyarakat sekitar tetap dipertahankan. “Pada prinsipnya tidak ada pengurangan tenaga kerja. Warga tetap dilibatkan seperti sebelumnya, hanya sistem dan pengelolanya saja yang berubah,” tandasnya.
Masih Ada Harapan? Gacoan Buka Ruang Diskusi!
Yang lebih menarik lagi, Zulkarnaen dengan sikap terbuka menegaskan bahwa manajemen Gacoan tidak bersikap kaku atau saklek. Pihaknya justru membuka lebar ruang komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi bersama. “Silakan duduk bersama dengan vendor baru, membahas komitmen ke depan seperti apa,” jelasnya mengundang dialog. Pernyataan ini tentu menjadi secercah harapan bagi para juru parkir yang selama ini merasa terancam. Apakah demo ini akan berakhir dengan titik temu? Kita tunggu saja kelanjutan kisah panas dari Pekalongan ini!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
