Berita  

Dinkesda Brebes Catat 3.966 ODGJ, Sebanyak 33 Orang Masih Dipasung Keluarga

BREBES, Exposenews.id – Pemerhati kesehatan jiwa pasti akan terkejut dengan data terbaru dari Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Ternyata, angka gangguan jiwa di wilayah ini sungguh mencengangkan! Sepanjang tahun 2025, pihak Dinkesda mencatat bahwa 3.966 warga menyandang status sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Lebih memprihatinkan lagi, sebanyak 33 orang di antaranya masih mengalami pemasungan oleh keluarganya sendiri!

Kondisi Emosi Tak Stabil, Keluarga Nekat Pasung Pasien

Kepala Dinkesda Brebes, dr. Heru Padmonobo, dengan terus terang mengungkapkan bahwa tindakan pemasungan tersebut masih dilakukan oleh pihak keluarga. Mengapa demikian? Ternyata, kondisi emosi pasien yang belum stabil menjadi alasan utamanya. Keluarga merasa khawatir karena pasien berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

“Pemasungan masih terjadi lantaran kondisi pasien yang emosinya sulit kita kendalikan dan berisiko membahayakan,” jelas Heru dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/4/2026). Akibatnya, meskipun sebenarnya pemasungan ini dilarang, banyak keluarga terpaksa mengambil langkah ekstrem tersebut demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Fakta Mengejutkan: Mayoritas ODGJ Berada di Usia Produktif!

Selanjutnya, berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan Dinkesda, tren kasus ODGJ di Brebes menunjukkan peningkatan signifikan dalam empat tahun terakhir. Para petugas kesehatan menemukan bahwa mayoritas kasus didominasi oleh skizofrenia dan gangguan psikotik. Lebih mengkhawatirkan lagi, temuan kasus baru kebanyakan masuk dalam kategori sedang hingga berat.

Lalu, siapa saja yang paling banyak terkena gangguan jiwa ini? Ternyata, kelompok usia produktif (15–59 tahun) menjadi yang tertinggi! Dinkesda mencatat sebanyak 3.779 orang dari usia produktif menyandang ODGJ. Sementara itu, pada rentang usia 0–14 tahun, pihak Dinkesda menemukan 81 orang, dan untuk usia di atas 60 tahun tercatat sebanyak 106 orang. Meski angkanya besar, dr. Heru memastikan bahwa seluruh pasien telah mendapatkan akses layanan kesehatan secara berkala. Layanan ini pun diberikan secara rutin oleh tim medis setempat.

Masalah Klasik: Keluarga Sering Lalai Awasi Minum Obat

Sekarang, mari kita bahas tantangan terbesar dalam penanganan ODGJ di Brebes. Ternyata, angka kekambuhan (relaps) tergolong sangat tinggi! Lalu, apa pemicu utamanya? Penelitian Dinkesda menunjukkan bahwa kurangnya pengawasan keluarga dalam memastikan pasien patuh meminum obat menjadi biang keladinya. Ironisnya, meskipun kondisi pasien sempat menunjukkan perbaikan, banyak keluarga justru mengabaikan jadwal pengobatan.

“Penanganan masalah kesehatan jiwa membutuhkan peran bersama, baik dari pemerintah, desa, lingkungan, maupun keluarga,” tegas Heru dengan penuh harap. Oleh karena itu, Dinkesda kini gencar mengajak semua pihak untuk bahu-membahu menangani persoalan ini.

Lingkungan Ternyata Sangat Berpengaruh pada Pemulihan

Sementara itu, Pengelola Program Kesehatan Jiwa Dinkesda Brebes, Nuke Prasetyani, memberikan fakta tambahan yang tak kalah menarik. Menurutnya, faktor pemicu gangguan jiwa ini meliputi aspek psikologis dan psikososial yang kompleks. Nuke menjelaskan bahwa lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap proses pemulihan pasien. Jika lingkungan mendukung, pasien akan cepat membaik. Namun, jika lingkungan justru menstigmatisasi, maka kondisi pasien bisa semakin memburuk.

Oleh sebab itu, Dinkesda terus mendorong edukasi masif kepada keluarga dan masyarakat luas. Tujuannya jelas: mengurangi stigma negatif terhadap ODGJ yang masih mengakar kuat. Melalui upaya komprehensif ini, Dinkesda berharap para penyandang gangguan jiwa tetap bisa rutin berobat dan mendapatkan pendampingan yang layak. Yang terpenting, semua pihak harus memastikan bahwa tindakan pemasungan tidak lagi menjadi pilihan terakhir keluarga.

Pesan Penting untuk Kita Semua

Kasus 33 warga Brebes yang masih terpasung ini menjadi alarm bagi kita semua. Keluarga tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian dalam merawat ODGJ. Pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat sekitar harus aktif memberikan dukungan. Jangan sampai karena ketidaktahuan, kita justru melakukan tindakan yang melanggar hak asasi manusia.

Pendampingan yang ketat dari Dinkesda pun terus diintensifkan. Tim medis kini lebih sering turun ke lapangan untuk memantau kondisi pasien dan memberikan edukasi kepada keluarga. Dengan cara ini, diharapkan tidak ada lagi ODGJ yang dipasung hanya karena emosinya yang sulit dikendalikan. Ingatlah, pemulihan memang butuh proses, tetapi pemasungan bukanlah solusi!

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com