Exposenews.id – Kabar duka yang sangat mengharukan menyelimuti seluruh pecinta sepak bola Tanah Air. Sutan Harhara, sosok legenda hidup Timnas Indonesia, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada hari Sabtu (11/4/2026). Kepergiannya pun meninggalkan lubang yang dalam di hati masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang menyaksikan langsung kejayaannya di lapangan hijau.
Baca Juga: Barcelona Minta UEFA Buka Rekaman Komunikasi Wasit usai Laga Lawan Atletico
Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) Pusat secara resmi mengonfirmasi kabar duka ini. Mereka mengumumkan bahwa Sutan Harhara wafat pada dini hari WIB, Sabtu (11/4/2026). “Dengan segala kerendahan hati, kami menyampaikan duka cita yang begitu mendalam atas berpulangnya Sutan Harhara, mantan pilar Timnas Indonesia,” tulis APSSI dalam keterangan resmi yang disebarkan melalui berbagai grup pesan sosial.
Baca Juga: Atletico Menang 2-0 di Leg Pertama, Yamal dan Rashford Tetap Yakin Barca Bisa Balas
APSSI pun tidak lupa menyelipkan doa tulus untuk almarhum dan keluarga. “Semoga segala kenangan indah bersama almarhum bisa menjadi penguat hati bagi kita semua. Kami juga berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kemudahan, kekuatan, dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” imbuh pernyataan tersebut.
PERJALANAN KARIER: DARI BEK TANGGUH HINGGA JADI IKON NASIONAL
Sutan Harhara pertama kali lahir pada tanggal 9 Agustus 1952. Berdasarkan informasi yang kami himpun, beliau wafat di RSUD Tangerang Selatan pada pukul 01.29 WIB dalam usia 73 tahun. Rumah sakit itu pun menjadi saksi bisu dari berpulangnya salah satu pahlawan sepak bola Indonesia.
Sepanjang kariernya sebagai pemain, Sutan Harhara tercatat sebagai mantan pemain Timnas Indonesia yang bertugas mengawal lini pertahanan dengan sangat tangguh. Para pengamat sepak bola pun menjulukinya sebagai pemain serbabisa karena kemampuannya yang luar biasa. Ia bisa mengisi semua posisi di area pertahanan dengan sangat baik. Coba bayangkan, ia mampu bermain sebagai bek sayap kanan, bek sayap kiri, bahkan sebagai libero yang menjadi komandan di belakang.
Baca Juga: Timnas Futsal Indonesia Bekuk Vietnam 3-2, Pastikan Tiket ke Final Piala AFF 2026
Memasuki era kejayaannya di tahun 1970-an, nama Sutan Harhara langsung melambung tinggi bersama bintang-bintang Timnas Indonesia lainnya. Ia tampil gemilang sejajar dengan Iswadi Idris, Anjas Asmara, dan Andi Lala. Keempat pilar ini pun bersama-sama menghibur masyarakat Indonesia dengan permainan sepak bola yang memukau dan penuh semangat juang.
Selain membela tim nasional, Sutan Harhara juga sukses membawa Persija Jakarta meraih tiga gelar juara Perserikatan. Ia berhasil mengantarkan tim Macan Kemayoran menjadi juara pada tahun 1971, 1973, dan 1975. Ketiga gelar ini pun semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain terbaik di eranya.
Puncak dari perjalanan kariernya terjadi ketika ia terpilih untuk membela Timnas Indonesia dalam laga akbar melawan Uruguay pada tahun 1974. Setelah pertandingan bersejarah itu usai, prestasinya semakin moncer di mata publik. Ia kemudian turut serta berlaga di ajang SEA Games 1977 dan 1979, sekaligus mengharumkan nama Indonesia di kancah sepak bola internasional.
SETELAH PENSIUN: KARIER BARU SEBAGAI PELATIH DAN KOMENTATOR
Selepas tidak lagi aktif bermain sebagai pemain profesional, Sutan Harhara sama sekali tidak berhenti berkontribusi untuk kemajuan sepak bola Indonesia. Ia kemudian beralih profesi menjadi pelatih dan menukangi beberapa klub terkemuka di Tanah Air. Pertama-tama, ia melatih PSMS Medan dari tahun 2003 hingga 2005. Selanjutnya, ia pindah ke PSIS Semarang pada tahun 2006. Tak lama setelah itu, ia juga dipercaya untuk melatih Persela Lamongan pada tahun 2016.
Baca Juga: Patrick Kluivert Dijadwalkan Kembali ke Indonesia untuk Clash of Legends 2026
Selain berperan sebagai pelatih di lapangan, Sutan Harhara juga sangat dikenal luas oleh masyarakat sebagai komentator dan analis sepak bola yang tajam serta blak-blakan. Ia kerap tampil di layar kaca, mengomentari setiap pertandingan Liga Indonesia serta laga-laga penting Timnas Indonesia. Pengetahuan mendalam serta gayanya yang khas membuat para penonton setia menantikan analisisnya setiap pekan. Kepergiannya kini benar-benar meninggalkan kekosongan yang sulit untuk diisi oleh siapa pun.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
