Berita  

Krisis Iklim Terbukti Ancam Pertanian, Petani dan Eksportir Manggis Tasikmalaya Merugi

TASIKMALAYA, Exposenews.id – Pohon manggis ternyata super sensitif terhadap guncangan iklim! Bayangkan, cuaca ekstrem yang dipicu oleh krisis iklim kini dengan brutal mengacaukan siklus produksi pohon manggis sekaligus menghancurkan jadwal panen para petani. Sungguh situasi yang mengkhawatirkan!

Hujan Terlalu Sering Bikin Produksi Ambruk, Petani Merana!

Iim Suherman (51 tahun) dengan nada frustrasi mengungkapkan bahwa curah hujan yang terlalu sering telah secara drastis menurunkan produktivitas kebun manggis miliknya di Desa Puspahiang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Akibatnya, hasil panennya merosot tajam!

“Hasil panen saya berkurang secara signifikan, dari sebelumnya 700 kg per musim, sekarang hanya menjadi 400 kg,” keluh Iim di Tasikmalaya, Rabu (8/4/2026). Sungguh pemandangan menyedihkan bagi seorang petani yang mengandalkan manggis sebagai sumber penghidupan.

Kemarau Ideal Hancur Diguyur Hujan, Petani Bongkar Rahasia!

Menurut penjelasan Iim yang berpengalaman, musim kemarau yang agak panjang, sekitar 4 hingga 5 bulan, merupakan kondisi paling ideal dan sangat dibutuhkan pohon manggis agar bisa berbuah dengan lebat. Namun, kondisi ideal ini kini sulit didapatkan!

“Coba bayangkan, kalau baru satu bulan kemarau, lalu langsung turun hujan lagi, pohon manggis di sini pasti enggak akan berbuah sama sekali,” tegas Iim dengan penuh keyakinan. Ini menjadi pukulan telak bagi para petani yang sudah menanti-nanti musim panen.

Pohon Manggis Butuh Waktu Panjang, Bunga Gagal Jadi Buah!

Lebih lanjut, Iim memaparkan bahwa pohon manggis harus mencapai usia di atas 10 tahun terlebih dahulu untuk bisa masuk ke fase produktif. Prosesnya pun tidak sederhana! Buah manggis yang lezat itu berasal dari perkembangan bunga yang membutuhkan waktu panjang, sekitar 4 hingga 6 bulan, untuk bertransformasi menjadi buah siap panen. Sayangnya, waktu sepanjang itu kini dipenuhi dengan ketidakpastian cuaca.

Ekspor Terganggu Parah, CEO Buka Suara Soal Bunga Rontok!

Margareta Astaman, sang CEO Java Fresh dengan tegas mengungkapkan bahwa musim hujan yang tak menentu menyebabkan bunga pada pohon manggis menjadi rontok dengan brutal atau bahkan tidak muncul sama sekali dan berubah menjadi daun. Dalam kondisi memprihatinkan ini, produksi manggis dari perkebunan di Desa Puspahiang otomatis menurun drastis.

BMKG Beri Peringatan Keras! Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang!

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan prediksi yang bikin merinding! Musim kemarau 2026 di Indonesia diprediksi akan berlangsung lebih kering dan panjangnya melebihi batas normal, yang semuanya dipicu oleh fenomena El Niño yang ganas.

Perlu diketahui, pohon manggis sesungguhnya membutuhkan keseimbangan iklim yang sempurna, dengan kadar sinar matahari dan air hujan yang proporsional agar mampu mengubah bunga menjadi buah dengan sukses. Setelah berhasil berbuah, pohon manggis juga membutuhkan pasokan air yang cukup untuk membesarkan buah-buah tersebut. Sayangnya, keseimbangan ini kini sulit tercapai.

Kemarau Panjang Bikin Buah Manggis Jadi Kecil-Kecil, Petani Kecewa!

“Iya, lihat sendiri faktanya. Tahun sebelumnya yaitu 2025, pohon manggis sudah tidak berbuah sama sekali. Lalu tahun ini datang kemarau panjang, harusnya tahun ini sudah pasti ada buah. Akan tetapi, ketika kemaraunya itu keburu terlalu panjang, pohon manggis yang sudah berbuah itu akhirnya tidak mendapat cukup air untuk membesarkan buahnya. Dampaknya, buah yang dihasilkan cenderung kecil-kecil dan kurang berkualitas,” ujar Margareta dengan nada prihatin yang mendalam.

Bisnis Ekspor Manggis Makin Sulit, Krisis Iklim Jadi Biang Kerok!

Menurut pengakuan Margareta, mengelola bisnis ekspor manggis kini terasa semakin sulit dan rumit akibat dampak brutal krisis iklim yang menyerang perkebunan manggis dari berbagai arah. Sungguh tantangan berat bagi para pelaku usaha!

Tahun Lalu Ekspor Manggis Macet Total! Baru Pertama Kali dalam Sejarah!

Fakta mengejutkan terungkap! Tahun lalu, cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim mengakibatkan Java Fresh terpaksa berhenti total mengekspor manggis. Padahal, sejak pertama kali beroperasi pada tahun 2014, setiap tahunnya tanpa terkecuali, Java Fresh selalu rutin mengirimkan manggis ke luar negeri. Ini pertama kalinya dalam sejarah perusahaan!

“Biasanya ada musim panen besar dan musim panen kecil, tapi kita selalu bisa ekspor manggis. Namun, coba bayangkan tahun lalu karena cuacanya lumayan ekstrem, benar-benar kacau balau akibat hujan berkepanjangan yang melanda semua daerah. Hasilnya, sempat terjadi 1-2 bulan di mana di Indonesia sama sekali tidak ada manggis. Ini sebenarnya tidak normal dan tidak pernah terjadi, bahkan dalam 10 tahun terakhir pun hal ini belum pernah terjadi sebelumnya,” tutur Margareta dengan nada tidak percaya.

Manggis Paling Terdampak Parah! Siklus Produksi Lebih Lama Jadi Masalah!

Meskipun manggis merupakan komoditas paling laris dari Java Fresh, Margareta mengakui dengan jujur bahwa justru manggislah yang terdampak paling parah oleh krisis iklim. Penyebab utamanya sederhana: siklus produksi manggis terbukti lebih panjang dibandingkan komoditas ekspor Java Fresh lainnya, seperti salak dan kelapa. Logikanya, jika siklus produksinya semakin panjang, pohon manggis akan semakin lama menghadapi berbagai risiko yang mengancam sebelum masa panen tiba.

“Iya, sebagai contoh, salah satu komoditas utama kita juga adalah salak. Nah, untuk salak, ada proses pengawinan yang dilakukan oleh para petani sehingga siklusnya lebih bisa diatur. Meskipun ada hujan, ya tidak apa-apa, salak masih bisa bertahan,” ucap Margareta membandingkan. Sungguh ironis nasib manggis yang lebih rentan ini!

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com