Berita  

Kenaikan Harga Bahan Baku Plastik Guncang Pasar Kayuagung, Omzet UMKM Tergerus

Exposenews.id – Wah, jangan bayangkan gejolak di Timur Tengah cuma bikin berita di TV saja, ya! Ternyata, ketegangan geopolitik di sana sudah mulai berbuah manis—atau lebih tepatnya pahit—buat kantong kita semua, apalagi para pedagang kecil di daerah. Secara langsung, gejolak ini merembet hingga ke stabilitas harga barang di tingkat paling bawah, tepatnya di Pasar Kayagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Di sana, harga kantong plastik atau kresek dilaporkan melonjak gila-gilaan, tembus hingga 100 persen cuma dalam sebulan terakhir.

Bayangkan, kenaikan dua kali lipat ini terjadi secara merata, tanpa pandang bulu, pada seluruh ukuran dan jenis plastik. Akibatnya, para pedagang eceran dan pelaku UMKM kini mulai histeris karena modal usaha mereka membengkak secara signifikan. Duh, dagangan laku keras tapi untung tergerus plastik, siapa yang tak menjerit?

Selisih Harga Maret vs April 2026 Bikin Melongo

Nah, biar makin jelas bikin merinding, coba kita bedah angka pastinya. Hasil pantauan langsung di lapangan pada Senin (6/4/2026) menunjukkan selisih harga yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan periode Maret 2026. Seorang pedagang plastik di Pasar Kayuagung yang akrab disapa Andre, dengan nada frustrasi mengungkapkan bahwa kenaikan ini tak hanya menyerang kantong kresek, tetapi juga wadah mika dan pembungkus minuman. Saksikan rincian kenaikan yang bikin mata melotot ini:

Kantong plastik ukuran kecil: Sebelumnya cuma Rp 35.000, sekarang melambung jadi Rp 70.000 per pak. Naiknya segunung!

Kantong plastik ukuran besar: Dari Rp 55.000 langsung meroket jadi Rp 110.000 per pak. Duh, sakit!

Plastik Jenis PE (Polyethylene): Tadinya Rp 25.000, kini membumbung ke Rp 45.000 per pak.

Plastik Kiloan: Dari Rp 10.000 merangkak naik ke Rp 17.000.

“Sumpah, kenaikannya gila-gilaan banget! Kami sendiri bingung mau jual mahal ke pembeli atau menanggung kerugian,” ujar Andre dengan wajah pusing tujuh keliling. “Bukan cuma kresek, mika buat wadah bolu dan bungkus minuman semuanya ikut naik drastis.”

Gangguan Pasokan Naphtha dan Rupiah Lemah Jadi Biang Kerok

Lalu, apa sih biang keroknya sampai harga plastik sebegitu gilanya? Kepala Dinas Perdagangan OKI, Syahrul, yang diwakili oleh Kabid Pengembangan Perdagangan, Juairiyani, M.Si., dengan sabar menjelaskan bahwa ini adalah efek domino yang nyata dari terganggunya rantai pasok global. Menurutnya, jalur distribusi bahan baku utama plastik yang disebut Naphtha, benar-benar kacau akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Sebagai informasi saja, Naphtha adalah cairan hasil sulingan minyak bumi yang kemudian diolah lagi di pabrik-pabrik raksasa untuk menghasilkan bahan dasar plastik, seperti etilena dan propilena.

Pabrik-pabrik dalam negeri biasanya mengimpor bahan-bahan dasar ini untuk kemudian diolah menjadi produk plastik jadi. “Perlu dipahami, plastik ini bahan bakunya didatangkan langsung dari Timur Tengah. Konflik geopolitik di sana secara otomatis mengganggu distribusi, lalu ditambah lagi nilai tukar rupiah yang sedang terpuruk dan melemah membuat biaya impor melonjak sangat tajam,” jelas Juairiyani saat ditemui di ruang kerjanya, Senin petang. Jadi, bom waktu ekonomi ini benar-benar meledak di depan mata kita.

UMKM Kuliner Paling Terdampak, Untung Tergerus Habis

Tidak berhenti di situ, lonjakan harga kemasan yang ekstrem ini menjadi ancaman serius bagi nyawa usaha para UMKM di OKI, apalagi yang bergerak di sektor kuliner yang super bergantung pada plastik. Biaya pengemasan yang tinggi menambah beban pengeluaran di tengah daya beli masyarakat yang belum stabil, bak gayung bersambut, sial bertimpa. Juairiyani menambahkan dengan prihatin bahwa para pelaku UMKM benar-benar menggantungkan hidup pada kemasan plastik untuk membungkus makanan dan minuman mereka.

Dengan kenaikan harga modal plastik yang mencapai dua kali lipat, margin keuntungan para pedagang kecil itu perlahan tapi pasti tergerus habis. “Dampaknya luar biasa menyakitkan bagi pedagang UMKM. Mereka sangat bergantung pada kemasan plastik untuk setiap pesanan makanan dan minuman, sehingga biaya produksi mereka kini membengkak begitu parah,” pungkasnya. Para pedagang gorengan, es teh, hingga nasi bungkus mulai menjerit karena keuntungan mereka ludes demi segelintir plastik.

Pemerintah Bergerak, Pantau Harga Intensif Cegah Spekulasi

Namun, jangan dikira pemerintah tinggal diam menyaksikan kondisi ini. Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten OKI terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap pergerakan harga di setiap pasar tradisional. Pihaknya mengambil langkah tegas ini untuk mengantisipasi spekulasi harga yang lebih liar sekaligus mencari solusi jitu guna meringankan beban para pelaku usaha kecil di Bumi Bende Seguguk. Apakah akan ada subsidi plastik? Atau imbauan beralih ke kemasan ramah lingkungan? Kita tunggu saja gebrakan selanjutnya. Yang jelas, para UMKM kini sedang berjibaku di tengah badai kenaikan harga yang tak terelakkan ini.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com