Tottenham Terancam Degradasi, Sisa Tujuh Laga Jadi Penentu Nasib

Exposenews.id – Tottenham Hotspur kini benar-benar merasakan dinginnya papan bawah. Ya, tim yang musim lalu masih berjaya di Eropa itu justru mencatatkan diri sebagai salah satu penampil terburuk di putaran kedua Liga Inggris 2025-2026. Situasinya sudah sangat kritis, bahkan para penggemar mulai bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi di N orth London?

Kekalahan telak 0-3 yang diderita Tottenham menjamu Nottingham Forest di Stadion Tottenham Hotspur, Minggu (22/3/2026) malam WIB, terasa sangat pahit. Apalagi, mereka berhadapan dengan tim yang sejak awal musim memang terseok-seok di papan bawah. Seharusnya, laga kandang seperti ini menjadi momen emas untuk mengamankan tiga poin sekaligus menjauh dari jurang degradasi. Namun, kenyataan berkata lain. Hasil akhir malah membuat Spurs terperosok lebih dalam.

Dampaknya langsung terasa: Tottenham kini merosot ke peringkat ke-17 klasemen sementara. Mereka hanya satu tingkat di atas West Ham United yang sudah tercebur ke zona merah. Sungguh posisi yang tidak nyaman bagi klub sekelas Tottenham.

Upaya manajemen untuk membangkitkan tim pun sejauh ini belum membuahkan hasil. Penunjukan Igor Tudor sebagai pelatih interim setelah memecat Thomas Frank nyaris tidak memberikan dampak berarti. Sejak Tudor memegang kendali, pencapaian terbaik yang mampu diraih hanyalah hasil imbang 1-1 saat melawan Liverpool di Anfield. Itu pun terasa lebih seperti keajaiban kecil daripada perubahan nyata.

Yang lebih mencemaskan adalah jadwal sisa musim yang masih tersisa. Dari tujuh laga yang harus dijalani, empat di antaranya akan berlangsung di kandang lawan. Dua nama besar seperti Aston Villa dan Chelsea sudah menanti di depan mata. Bukan musuh yang mudah, apalagi ketika mental tim sedang rapuh.

“Tujuh Final,” Teriak Romero, Kapten Tim yang Tak Mau Menyerah

Kapten Tottenham, Cristian Romero, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Namun, ia juga menegaskan bahwa timnya tidak punya pilihan lain selain bangkit. Romero mengakui situasi yang dihadapi saat ini sangat tidak menguntungkan. Namun, ia juga mengirim pesan tegas: kekalahan demi kekalahan yang membuat Spurs—yang musim lalu merayakan trofi Liga Europa—kini harus berjuang keluar dari pusaran degradasi, harus segera dihentikan.

“Musim ini sungguh berat, terutama saat-saat seperti ini. Hari yang buruk kembali kami alami, kekalahan lagi di kandang,” ujar Romero dengan nada penuh emosi, dikutip dari Sky Sports. Ia juga tak lupa menyampaikan apresiasi kepada para pendukung yang tetap setia. “Hal pertama yang ingin kami sampaikan kepada para penggemar adalah terima kasih untuk hari ini dan juga untuk setiap hari, karena telah bersama kami,” katanya.

Yang menarik, Romero tak sekadar meminta maaf. Ia justru memetakan jalan keluar yang ekstrem tapi mungkin satu-satunya cara: menganggap setiap sisa pertandingan sebagai final. “Yang terpenting bagi kami adalah bermain seperti di final sekarang. Ini sangat sulit, ini musim yang buruk. Bagi saya, ini adalah tanggung jawab pertama dan inilah hidup. Terkadang sepak bola memang seperti ini,” tegasnya.

Romero pun menutup pernyataannya dengan kalimat yang bakal terus terngiang di benak fans: “Ini menyakitkan, ini hari yang buruk, tetapi yang terpenting adalah pergi ke tim nasional, kembali ke sini dan menjalani tujuh final.” Ya, tujuh laga tersisa baginya adalah tujuh partai penentuan hidup mati Spurs.

Bukan Sekadar Buruk, Ini Rekor Memalukan yang Membayangi!

Statistik Tottenham musim ini bahkan lebih buruk dari sekadar angka. Mengutip dari Sky Sports, dari 31 pertandingan Liga Premier yang sudah dilakoni, Spurs baru mampu mengumpulkan 30 poin. Angka yang sangat minim untuk tim sekelas mereka. Lebih parah lagi, Tottenham belum sekalipun merasakan kemenangan dalam 13 laga liga terakhir. Rinciannya: lima kali seri dan delapan kali kalah. Catatan ini sama dengan rekor tanpa kemenangan terpanjang kedua dalam sejarah klub di liga, yang sebelumnya terjadi pada November 1912. Bisa dibayangkan, ini adalah catatan memalukan yang membawa mereka lebih dari satu abad ke belakang.

Jika performa ini tidak segera diperbaiki, Tottenham berpotensi mengulangi tragedi 1935. Kala itu, mereka gagal menang dalam 16 pertandingan beruntun. Bayangkan, angka yang sangat dekat dengan kondisi mereka saat ini.

Selain buruk di mana-mana, Spurs juga mencatatkan rekor kandang yang sangat memalukan. Di markas sendiri, mereka hanya meraih dua kemenangan dari 16 laga yang sudah dimainkan. Kekalahan dari Nottingham Forest menjadi kekalahan kandang keempat secara beruntun. Bahkan, secara keseluruhan, Tottenham kini menjalani delapan laga kandang tanpa kemenangan di Liga Premier. Fakta ini semakin menunjukkan bahwa kepercayaan diri di hadapan pendukung sendiri sudah hilang.

Yang lebih menyayat hati, kekalahan kandang kali ini terasa lebih mengejutkan karena menjadi yang ketiga kalinya Spurs kalah dengan selisih tiga gol atau lebih di depan publik sendiri. Stadion Tottenham Hotspur yang megah itu berubah menjadi saksi bisu penderitaan tim kesayangan.

Dengan segudang tekanan ini, tujuh laga tersisa bukan lagi sekadar pertandingan biasa. Mereka adalah final kehidupan bagi Tottenham. Bisakah Romero dan kolega membalikkan keadaan, atau justru mimpi buruk degradasi akan menjadi kenyataan? Semua mata kini tertuju pada apakah “tujuh final” ini akan menjadi awal kebangkitan atau akhir dari era kejayaan mereka di kasta tertinggi.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com