Berita  

TNI Siapkan 20.000 Personel dan Pimpinan Jenderal Tiga Bintang untuk Misi Gaza

Exposenews.id – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI ternyata terus menggeber persiapan pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza, Palestina. Pada dasarnya, keterlibatan Indonesia dalam misi penting ini hanya menunggu komando tegas dari Presiden Prabowo Subianto.

Pasalnya, Dewan Keamanan PBB baru saja menyetujui draft dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai mekanisme keamanan di Gaza yang akan melibatkan pasukan internasional. Sementara itu, proses seleksi prajurit dari tiga matra TNI Angkatan Darat, Laut, dan Udara masih terus berjalan dengan sangat intens.

Proses ini juga termasuk penentuan calon pimpinan misi kemanusiaan yang penuh tantangan ini.

Panglima TNI Pastikan Pimpinan Misi Berpangkat Jenderal Bintang Tiga

Yang bikin semangat, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dengan tegas mengumumkan bahwa pasukan perdamaian Gaza ini akan dipimpin langsung oleh seorang perwira tinggi TNI berpangkat bintang tiga. “Kemudian rencana nanti dipimpin oleh jenderal bintang tiga,” tegas Agus usai menghadiri rapat tertutup yang panas bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Komisi II DPR RI, Selasa lalu.

Sebagai informasi, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Freddy Ardianzah, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa nama jenderal bintang tiga untuk posisi krusial ini. Meski begitu, ia dengan sengaja masih menyembunyikan sosok spesifik yang akan ditunjuk untuk mengomandoi pasukan perdamaian.

Ia hanya berani berbagi bahwa sosok pilihan tersebut sudah pasti memiliki pengalaman yang sangat mumpuni dalam operasi multilateral dan operasi gabungan.

Lalu, apa sih alasan di balik pilihan jenderal bintang tiga ini? Ternyata, Freddy Ardianzah membeberkan beberapa pertimbangan matang. Pertama-tama, skala operasi ini sangatlah besar dan melibatkan tiga brigade komposit, yaitu Batalyon Kesehatan, Batalyon Zeni Konstruksi, dan Batalyon Bantuan.

Dengan menyandang pangkat jenderal bintang tiga, sang komandan dipastikan akan lebih mudah dan otoritatif dalam menakhodai tiga brigade lintas matra yang kompleks ini. Di sisi lain, pos komando untuk misi semacam ini secara standar memang diperuntukkan bagi jenderal bintang tiga.

Alasannya, misi di Gaza masuk dalam kategori Operasi Militer Selain Perang yang sangat kental dengan nuansa kemanusiaan. Freddy pun melanjutkan penjelasannya bahwa misi ke Gaza memiliki kompleksitas tugas yang sangat tinggi, mulai dari aspek kemanusiaan, rekonstruksi, kesehatan, hingga perlindungan warga sipil.

Selain itu, pertimbangan tak kalah pentingnya adalah untuk mempermudah dan memperlancar koordinasi dengan PBB dan berbagai elemen internasional lainnya. “Koordinasi internasional sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan misi perdamaian di Gaza,” jelasnya dengan penuh keyakinan.

Dilengkapi KRI Rumah Sakit, TNI AD Kontribusi Terbanyak

Yang nggak kalah keren, pasukan perdamaian ke Gaza ini juga akan dilengkapi dengan berbagai alat utama sistem persenjataan yang canggih, lho! Selain helikopter dan pesawat angkut berat C-130 Hercules, juga akan mengerahkan dua Kapal Republik Indonesia jenis Rumah Sakit.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut, Laksamana Pertama Tunggul, dengan bangga mengungkapkan bahwa matra laut siap mengirimkan KRI Rumah Sakit untuk mendukung misi kemanusiaan ini. Sejauh ini, TNI Angkatan Laut diketahui memiliki tiga KRI jenis Rumah Sakit.

Namun, pihaknya masih merahasiakan KRI mana saja yang akan diberangkatkan untuk operasi besar-besaran ini. “Pada prinsipnya ketiga KRI tersebut siap untuk dikirimkan dan melaksanakan operasi kemanusiaan,” tegas Tunggul penuh semangat.

Soal jumlah pasukan, TNI Angkatan Darat disebut-sebut akan mendominasi kontribusi. Bayangkan, Mereka konon menyiapkan tidak kurang dari 12.000 prajurit pilihan untuk menjadi bagian dari pasukan perdamaian di Gaza.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Kolonel Donny Pramono, memaparkan bahwa prajurit TNI AD memang mendapatkan porsi terbanyak dibandingkan dua matra lainnya. Dari total sekitar 20.000 prajurit yang diproyeksikan berangkat, TNI AD menyumbang sekitar 60 persennya.

“Rencana awal memproyeksikan bahwa dari total sekitar 20.000 pasukan perdamaian, porsi TNI AD berada pada kisaran 60 persen (12.000),” jelas Donny.

Sebagai perbandingan, dua matra TNI lainnya, yaitu Angkatan Laut dan Angkatan Udara, masing-masing direncanakan berkontribusi sebesar 25 persen dan 15 persen. Akan tetapi, angka final dan pasti akan ditetapkan secara resmi oleh Markas Besar TNI nanti.

Penetapan akhir ini akan menyesuaikan dengan perkembangan situasi dan kebutuhan misi yang dinamis di lapangan.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com