Berita  

Kecelakaan di Lampung Ungkap Skema Besar, Kurir Ekstasi Digaji Rp 100 Juta

Exposenews.id – Sorotan publik masih tertuju pada pengungkapan kasus fantastis di Lampung, di mana polisi menangkap seorang kurir bernama MR setelah kecelakaannya mengungkap rakitan 207.529 butir pil ekstasi. Lebih mencengangkan lagi, tim Bareskrim Polri bahkan menemukan lencana Polri di dalam mobil yang mengangkut ratusan ribu pil haram tersebut.

Sebagai informasi, MR ternyata melibatkan istrinya, RR, dalam aksi pengiriman narkoba ini. Polisi dengan tegas menyatakan bahwa MR menerima imbalan yang sangat besar untuk tindak kejahatannya. Saat ini, pihak kepolisian masih mendalami kasus ini untuk mengungkap siapa dalang sebenarnya yang memerintahkan MR mengirimkan barang terlarang itu.

Bayaran Fantastis & Sisi Kelam Sang Kurir

Dalam pengakuannya yang mengejutkan, Kurir MR mengungkapkan bahwa ini bukanlah kali pertamanya ia menjalankan tugas haram ini. Ternyata, tiga bulan sebelum kejadian ini, ia sudah pernah melakukannya dan mendapat bayaran yang sangat fantastis.

Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Sunario, dengan jelas memaparkan, “Kegiatan ini sudah kedua kalinya, yang pertama itu adalah tiga bulan yang lalu. Dengan jasa daripada tersangka, pada saat itu adalah Rp 100 juta.”

Tak pelak, bayaran sebesar itu akhirnya membuat MR tergiur untuk menerima tawaran kurir sekali lagi. Kali ini ia bahkan mengajak istrinya, RR, untuk ikut serta menjemput narkoba di Palembang, Sumatera Selatan. Alasan klise seperti “untuk kehidupan sehari-hari” ia jadikan pembenar atas tindakannya.

Lebih parah lagi, latar belakang Kurir MR sebagai residivis narkoba kasus 2013 membuatnya tidak ragu-ragu karena sudah sangat akrab dengan dunia hitam tersebut. Akibatnya, polisi kini dengan gencar memburu seorang tersangka berinisial U yang diduga kuat sebagai otak yang memerintahkan MR menjemput paket ekstasi tersebut.

Misteri Lencana Polri: Asli atau Palsu?

Selain mengungkap nominal bayaran yang mencengangkan, Bareskrim Polri juga angkat bicara mengenai temuan lencana Polri yang sempat mengundang tanda tanya besar di masyarakat.

Wadirtipidnarkoba Bareskrim Polri, Kombes Sunario, menjelaskan bahwa lencana tersebut sudah ada di dalam mobil ketika MR membelinya. “Lencana ini ada di dalam mobil, yang mana mobil ini dibeli 6 bulan yang lalu oleh MR. Dan lencana ini sudah ada di dalam dashboard mobil tersebut,” tutur Sunario dalam konferensi persnya.

Setelah diteliti lebih lanjut, pihak kepolisian akhirnya memastikan bahwa lencana itu adalah palsu karena ditemukan banyak perbedaan mencolok dengan lencana Polri asli. “Kalau kita lihat rencana itu, kita teliti bahwa lencana yang ada di mobil sama lencana dengan polisi itu sangat berbeda. Lencana polisi itu ada ciri-ciri khusus yang mungkin orang tidak mengetahuinya,” ungkapnya tegas.

Sebagai perbandingan, Sunario menegaskan bahwa lencana Polri yang asli selalu teregister dengan nama pemiliknya yang sah sebagai anggota Korps Bhayangkara. “Ini yang di dalam mobil. Kalau yang ini, ini lencana yang dimiliki Polri teregister dan tahu siapa pemiliknya. Kalau ini sama sekali tidak ada,” tambahnya.

Perbedaan lain yang sangat jelas juga terlihat pada warna dan bentuk logo di lencana tersebut. “Bentuk ukuran dari warnanya juga berbeda. Jadi mungkin lencana ini, dia dapat dari mana, dan dia juga tidak tahu, lencana ini di dalam mobil ini juga tidak tahu. Sebab mobil ini pada bulan Juni yang lalu, baru dia beli,” sambungnya melengkapi penjelasan.

Kronologi Lengkap: Dari Perjalanan Hingga Kecelakaan Dramatis

Kronologi kejadian yang berhasil diungkap Bareskrim Polri dimulai pada Selasa (18/11/2025) pagi, ketika seseorang berinisial U yang kini masih DPO menghubungi MR. U memerintahkan MR untuk segera berangkat ke Palembang dalam waktu 2-3 hari.

Kebetulan saat itu MR sedang bersama istrinya, RR, sehingga tanpa pikir panjang ia pun mengajak RR untuk mendampinginya ke Palembang menggunakan mobil Nissan Xtrail hitam. Mereka akhirnya berangkat menuju Palembang sekitar pukul 23.00 WIB.

Setelah tiba di Palembang keesokan harinya, Selasa (19/11/2025), MR dan RR memutuskan untuk menginap di sebuah hotel. Tak lama kemudian, MR kembali dihubungi oleh seorang kurir lain berinisial UKM yang bertugas mengantarkan ekstasi menuju Jakarta.

Namun, karena merasa khawatir, MR mengarahkan UKM untuk menyerahkan barangnya di hotel, bukan di jalan. Akhirnya, UKM meninggalkan mobil Toyota Terios hitam yang berisi tas berisi ekstasi di parkiran basement Hotel Arya Duta.

Pada pukul 13.30 WIB, MR dengan sigap memindahkan enam tas berisi ekstasi tersebut ke mobilnya. Setelah itu, MR mengantar RR ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin agar istrinya bisa pulang terlebih dahulu, sementara ia sendiri bersiap untuk membawa mobil berisi ekstasi itu sendirian.

Malam Mencekam dan Kecelakaan Misterius

Tragedi pun terjadi pada Kamis, 20 November 2025 dini hari. Mobil Xtrail yang dikendarai MR tiba-tiba kehabisan BBM di KM 220B Jalan Tol Trans Sumatera. Ia pun menghubungi call center tol untuk meminta bantuan pengisian BBM sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya.

Namun, nahas, ketika memasuki waktu subuh, MR mulai dilanda kantuk yang teramat sangat. Sayangnya, ia memaksakan diri untuk terus menyetir, dan akibatnya, ia mengalami microsleep yang berujung pada kecelakaan hebat di KM 136 B Jalan Tol Trans Jakarta.

Baru sekitar pukul 05.00 WIB, MR menyadari bahwa dirinya telah mengalami kecelakaan. Dalam kondisi panik dan badannya sempat terhimpit mobil, MR berusaha keras keluar dari kendaraannya. Kemudian, dalam kepanikannya itu, ia membuang lima tas berisi ekstasi ke jurang di sisi jalan tol!

Setelah membuang barang bukti tersebut, MR nekat menuruni tebing dengan cara merosot, lalu berjalan kaki menyusuri semak-semak menuju perkampungan terdekat hingga akhirnya sampai di Dusun Sugih Besar. Dari sana, ia naik angkot menuju jalan lintas dan pada pukul 09.00 WIB ia naik bus menuju Terminal Kalideres, Jakarta.

Akting Melarikan Diri & Akhir yang Tak Terelakkan

Pasca kecelakaan, Kurir MR berusaha mati-matian untuk menghilangkan jejak. Buktinya, pada Jumat, 21 November 2025 pagi, ia menelepon istrinya, RR, dan memintanya untuk menghapus semua percakapan WhatsApp, mengganti nomor handphone, serta membuang telepon genggam lamanya.

Alasannya, MR mengaku sedang bermasalah dengan pihak kepolisian, mengingat mereka menggunakan identitas RR saat penyebrangan dan check-in. Ia bahkan menginstruksikan RR untuk tidak berada di Medan untuk sementara waktu. Untuk mendukung aksinya, MR mentransfer Rp 5 juta kepada RR agar sang istri bisa membeli ponsel baru.

Keesokan harinya, Sabtu (22/11/2025), MR pulang ke rumahnya di Rawa Burung, lalu membawa serta istri dan anaknya menuju Pandeglang, Banten, dengan dalih untuk pengobatan tradisional. Karena hari sudah sangat larut, mereka pun terpaksa menginap di sebuah masjid setempat.

Namun, semua upaya pelariannya akhirnya berhasil digagalkan oleh tim gabungan Subdit 4 dan Satgas NIC Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Pada saat penangkapan, MR bahkan sempat berusaha melarikan diri, sehingga petugas kepolisian terpaksa mengambil tindakan tegas dan terukur untuk mengamankannya.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com